
Setelah di rawat beberapa hari, Kanaya akhirnya sadar. Dia terkejut melihat Alika dan Arkan ada didekatnya.
"Alika, Pak Arkan.." ucap Kanaya yang baru saja sadar.
"Kak Kanaya.. Bagaimana keadaanmu? Waktu itu kakak pingsan di jalan, maka dari itu aku bawa kakak ke rumah sakit" ucap Alika.
"Terima kasih ya Alika.. Pak Arkan juga" kata Kanaya yang masih terbaring lemas.
"Sama-sama kakak cantik" jawab Alika.
Arkan tiba-tiba pergi meninggalkan Alika dan Kanaya.
"Kak Arkan mau pergi kemana?" tanya Alika.
"Anda sudah sembuh kan? Kalau begitu biarkan saya dan Alika pergi dari sini" ucap Arkan kepada Kanaya.
"Kak Arkan ini bagaimana.. Ada orang yang sedang sakit tetapi kakak egois sekali" jawab Alika dengan lantang.
"Sudah Alika tidak apa-apa, kamu bisa pergi dengan kakakmu.. Terima kasih sekali lagi sudah menolong aku" kata Kanaya.
Arkan pergi tanpa berkata apa-apa lagi, dia meninggalkan Alika di rumah sakit bersama Kanaya. Arkan pulang ke rumah karena ia harus merawat Ayahnya yang sedang stroke.
Sore harinya, Alika mengajak Kanaya untuk tinggal sementara waktu di rumahnya.
"Kak Kanaya, kakak sementara ini tinggal di rumah Alika dulu ya" ucap Alika.
"Tidak perlu Alika, kakak nanti pergi ke rumah teman saja" jawab Kanaya berusaha menolak.
"Kak, jangan tolak tawaran ku ya.. Sekaligus ini sebagai tanda terima kasih karena kakak sudah banyak membantu dalam kehidupan Alika" kata Alika.
"Baiklah Alika, terima kasih ya" jawab Kanaya.
Malam tiba, Kanaya dan Alika sampai di rumah. Arkan terkejut melihat Alika membawa Kanaya pulang ke rumah.
"Mengapa kamu membawa perempuan ini?" tanya Arkan.
"Sudahlah kak, ini keputusan Alika kalau kak Kanaya akan tinggal di sini sementara waktu" jawab Alika.
Sudah satu minggu Kanaya tinggal di rumah Alika.
Saat sarapan pagi, Arkan berbicara dengan Alika bahwa dirinya akan pergi ke Jakarta karena sudah lama cuti.
"Alika, kakak harus berangkat sekarang, tetapi nanti siapa yang menjaga kesehatan Ayah dan kamu? Apa kakak cari pembantu saja ya?" ucap Arkan.
__ADS_1
"Kakak kalau mau pergi, pergilah kak. Nanti urusan Ayah biar Alika yang mengurusnya" kata Alika.
"Tetapi kakak tidak tega karena kamu baru sembuh" ucap Arkan.
Tiba-tiba Kanaya menyela pembicaraan Arkan dan Alika.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang, izinkan saya untuk merawat Kanaya dan Ayah, Pak Arkan" ucap Kanaya.
"Ide yang baik kak Kanaya, aku justru lebih tenang kalau Ayah dijaga kak Kanaya" kata Alika pada Arkan.
"Kakak tidak setuju, dia orang asing. Kita juga tidak tahu seluk beluk tentang keluarganya" ucap Arkan dengan nada marah.
"Kak.. Alika mohon sama kakak jangan seperti ini terus menerus, kita beri kesempatan kak Kanaya untuk membenarkan ucapan dari kak Kanaya sendiri" pinta Alika pada Arkan.
"Kalau saya ingat kata-kata Dokter, apapun kemauan Alika harus dipenuhi agar sembuhnya bisa total" ucap Arkan dalam hatinya.
"Baiklah terserah kamu, tetapi kalau sampai terjadi sesuatu dengan adik dan Ayah saya, kamu harus bertanggung jawab" ucap Arkan pada Kanaya.
"Baik Pak Arkan, terimakasih telah memberi saya kesempatan" jawab Kanaya.
Akhirnya Arkan pergi ke Jakarta untuk mengelola perusahaan batubara nya yang sudah lama ditinggal Arkan karena harus menetap di Bandung sementara.
Setiap hari Kanaya merawat Alika dan Ayahnya. Kanaya tidak pernah mengeluh apapun itu, justru ia selalu memperhatikan obat yang harus diminum oleh Alika dan Ayah Alika yang bernama Pak Fauzan.
"Alika, minum obat dulu ya" ucap Kanaya.
Kemudian Kanaya menghampiri Pak Fauzan untuk memberikan obat.
"Selamat pagi Pak Fauzan, saya Kanaya.. Sekarang waktunya bapak minum obat" ucap Kanaya.
Pak Fauzan yang tidak bisa berbicara hanya bisa tersenyum melihat Kanaya yang begitu baik padanya.
Kanaya berencana untuk membantu Pak Fauzan agar bisa melatih pergerakan tubuhnya. Kanaya mencoba menuntun Pak Fauzan untuk berjalan sedikit demi sedikit.
"Pak Fauzan, maaf kalau saya lancang. Kanaya ingin membantu bapak untuk cepat sembuh, bolehkah Kanaya untuk melatih bapak berjalan?" tanya Kanaya pada Pak Fauzan.
Pak Fauzan pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian Pak Fauzan berlatih berjalan menggunakan alat bantu jalan untuk penderita stroke.
Alika yang melihat Kanaya sedang melatih Ayahnya begitu yakin akan sifat baik kak Kanaya itu.
"Pak Fauzan, sekarang bapak berpegangan tangan pada alat bantu ini ya Pak" ucap Kanaya.
Ayah Alika pun berlatih untuk berjalan sedikit demi sedikit dengan dibantu oleh Kanaya. Selain itu, Kanaya juga mengajarkan kepada Pak Fauzan tentang terapi yang bisa membantu penyembuhan stroke.
__ADS_1
Satu bulan kemudian..
Pak Fauzan sudah mulai berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain ataupun Kanaya, walaupun masih menggunakan alat bantu jalan.
"Kak Kanaya, terima kasih banyak atas jasa kak Kanaya selama ini pada keluarga Alika" ucap Alika sambil menangis memeluk Kanaya.
"Cantik, kamu mengapa menangis seperti ini.. Kakak melakukan apa yang seharusnya kakak lakukan" jawab Kanaya yang berusaha menghapus air mata Alika.
Alika pun langsung bergumam dalam hatinya.
"Sangat beruntung sekali, aku dipertemukan dengan kakak sebaik kak Kanaya. Dulu banyak Dokter yang mendiagnosis bahwa Ayahku akan sangat lama sembuh bahkan bertahun-tahun, namun sekarang dalam sekejap Kak Kanaya telah merubah segalanya" ucap Alika dalam lubuk hatinya.
Setelah Pak Fauzan sudah bisa berjalan, Kanaya mulai melatih berbicara kepada Ayah Alika itu.
Setiap hari Pak Fauzan selalu melihat Kanaya bercerita tentang kehidupan, sehingga Pak Fauzan semakin lama semakin mengerti apa yang dibicarakan Kanaya.
Suatu hari, Kanaya berencana melakukan sesuatu yang bisa membantu Ayah Alika untuk berbicara normal kembali.
Malam harinya, Pak Fauzan yang ada di kursi roda dan Alika sedang ada di taman depan rumah untuk menikmati api unggun.
Tiba-tiba, Pak Fauzan melihat baju Kanaya terkena kobaran api. Sontak pak Fauzan berusaha untuk mengeluarkan kata-kata demi menyelamatkan Kanaya.
"Ka.. Ka.. Kanaya awas!!" ucap kata-kata tersebut dari Pak Fauzan.
"Awas kak Kanaya" ucap Alika yang baru sadar melihat baju Kanaya terbakar.
Kanaya berhasil memadamkan api di bajunya. Kemudian Kanaya menghampiri Alika dan Pak Fauzan.
"Kakak tidak apa-apa? Aku sangat terkejut sekali kak, ketika mendengar Ayah berbicara memanggil nama kak Kanaya" ucap Alika.
"Alika, kak Kanaya sengaja melakukan hal ini agar Ayah kamu bisa melontarkan kata-kata dari mulutnya" jawab Kanaya.
"Alhamdulillah, bapak sudah bisa berbicara kembali?" tanya Kanaya pada Pak Fauzan.
"Kamu ti..dak.. kenapa-kenapa Ka.. Kanaya?" tanya balik Pak Fauzan.
"Tidak Pak, Kanaya senang sekali Pak Fauzan sudah bisa berbicara kembali dengan baik" ucap Kanaya.
"Ayah.. Alika rindu suara ayah. Sudah lama aku tidak mendengarkan kata-kata ayah yang selalu menyemangati Alika dan Kak Arkan selama ini" ucap Alika yang meneteskan air matanya di pangkuan ayahnya.
"Alika sayang, Ayah juga merindukanmu dan kakakmu Arkan" jawab Pak Fauzan yang masih tersendat-sendat dalam berbicara.
"Terima kasih Kak Kanaya, kakak pertama sudah membantuku untuk sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa itu, sekarang kakak membantu orang yang paling aku sayangi yaitu ayahku" kata Alika yang terus menerus meneteskan air mata.
__ADS_1
"Sama-sama Alika, kakak hanya membantu, selebihnya itu kekuasaan Tuhan.. Kakak di sini hanya sebagai perantara saja" jawab Kanaya.
Semakin hari hubungan Kanaya dan keluarga Alika semakin dekat. Kanaya sangat bahagia bisa membantu orang lain, dan kini Pak Fauzan sudah sembuh.