Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
29. Buah Hati yang Terluka


__ADS_3

Keesokan hari, Ayah Fauzan menyuruh Arkan untuk pulang menjenguk Kanaya di rumah, awalnya Arkan menolak perintah ayahnya, karena ia masih sakit hati akibat ulah Kanaya. Arkan pun pulang menemui Kanaya di rumah.


"Mas, kamu sudah pulang.. Bagaimana kondisi Alika sekarang?" tanya Kanaya kepada Arkan yang baru sampai rumah.


"Anda masih bertanya kondisi adik saya? Alika masih belum sadarkan diri sampai sekarang, itu semua gara-gara anda yang egois dan sangat keji seperti ini.. Jika Alika tidak keluar bersama anda, dia tak akan celaka dan akan baik-baik saja..." jawab Arkan yang memarahi Kanaya habis-habisan.


"Mas, aku kan sudah minta maaf, iya aku salah.. Tolong izinkan aku untuk menjenguk Alika di rumah sakit.." kata Kanaya memohon kepada Arkan.


"Sekali saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, anda ini mendengar perkataan saya atau tidak? Anda hanya membawa masalah dalam keluarga saya, jika bukan karena Alika, saya tidak sudi menikahi gadis seperti anda" ucap Arkan merendahkan Kanaya yang kini tengah hamil.


"Mas, tolong jangan bicara seperti itu.. Asal kamu tahu aku sedang.." ucap Kanaya.


"Cukup!! Saya bilang cukup, lebih baik anda pergi dari rumah saya, saya benci melihat wajah anda yang bertopeng palsu" kata Arkan yang memotong pembicaraan Kanaya.


"Jika itu keinginan mu, aku terima dengan ikhlas. Aku akan pergi dari rumah ini.. Maafkan aku mas, jika aku selalu membuat mu menderita" jawab Kanaya dengan wajah berkaca-kaca.


Kanaya pun pergi ke kamar untuk membereskan bajunya, karena dirinya akan pergi saat ini juga.


"Mas, asal kamu tahu jika aku sedang mengandung anakmu.. Tetapi, kamu selalu salah paham dengan ku, kamu tidak pernah bisa menghargai perasaan ku, bahkan kamu selalu menyalahkan ku dalam segala hal" ucap Kanaya dalam hatinya.


Kanaya pun bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumah suaminya. Arkan bahkan tidak mau menemui Kanaya untuk yang terakhir kalinya, sehingga Kanaya pergi pun Arkan tidak mengetahuinya.


"Mas, begitu bencinya kamu denganku, sampai-sampai aku pergi pun kamu tidak ingin melihatku lagi. Setidaknya cegahlah aku mas, jangan tutup mata hatimu dengan kebencian.. Aku mencintaimu mas Arkan" ucap Kanaya sambil melihat pintu kamar Arkan.


"Mas, aku pergi.." ucap Kanaya lirih.

__ADS_1


Kanaya pun pergi dengan membawa koper, dirinya bingung harus pergi kemana, karena dia tidak punya keluarga lagi selain keluarga suaminya.


"Aku harus tinggal dimana? Apa iya aku harus tinggal di kos-kosannya Aletta atau Dhivia? Tetapi, nanti aku malah merepotkan mereka.." kata Kanaya yang sedang berjalan sendirian.


"Sementara aku tinggal di rumah Papah saja, karena pengacara ku belum mengabarkan tentang pembangunan panti asuhan.. Akan lebih baik jika aku tinggal di sana" kata Kanaya.


Kanaya pun tinggal di rumah almarhum Papahnya, ia tinggal seorang diri.


"Kurang dua bulan pernikahan ku dengan mas Arkan akan berakhir, tetapi apa mas Arkan akan tetap menceraikan ku jika aku mengandung anaknya?" ucap Kanaya dalam hati.


Pagi harinya, Arkan bangun dan tidak ada siapapun di rumah. Ia teringat jika kemarin malam telah mengusir Kanaya dari rumah.


"Saya lupa jika telah mengusir Kanaya dari rumah ini.. Ternyata Kanaya menuruti permintaan ku, tetapi kenapa saya merasa kehilangan jika Kanaya pergi ya?" ucap Arkan.


"Sekarang dia tinggal dimana? Bukannya dia sudah tidak ada keluarga lagi? Aduh Arkan, kenapa sih jadi memikirkan Kanaya terus, harusnya anda ini senang jika pembawa masalah telah pergi dari kehidupan anda sendiri" ucap Arkan kepada dirinya sendiri.


"Apa kata-kata saya sudah keterlaluan kepada Kanaya ya? Kenapa semakin saya ingin membencinya, hati ini semakin sakit dan tidak ingin kehilangan Kanaya" ucap Arkan dalam hatinya.


Di sisi lain, Kanaya tinggal seorang diri di rumah mendiang Papahnya. Kanaya pun harus menanggung semuanya sendiri tanpa kehadiran sosok suami.


"Mas, sedalam itu kah benci mu kepadaku? Sampai saat ini kamu tidak mencari ku bahkan tidak mengkhawatirkan aku.. Aku tahu mas kamu tidak mencintaiku, setidaknya cintailah buah hatimu yang ada di rahimku" ucap Kanaya sambil memandangi langit berharap Arkan akan menjemputnya.


Satu minggu sudah Alika terbaring di rumah sakit, namun belum menunjukkan tanda-tanda dia sadar. Kanaya pun pergi ke rumah sakit karena mengkhawatirkan kondisi adiknya.


"Ayah, Alika bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Kanaya.

__ADS_1


"Belum sadar nak, Alika masih terbaring lemas dan belum ada perubahan sama sekali" jawab Ayah yang begitu sedih.


"Ayah yang sabar ya, aku yakin Alika pasti kuat dan akan segera pulih kembali" ucap Kanaya.


Tiba-tiba Arkan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Alika. Arkan yang melihat Kanaya berada di ruang tunggu, ia terlihat sangat marah.


Arkan langsung menarik Kanaya dan meninggalkan ayah yang sedang menunggu di depan ruangan Alika.


"Anda kenapa ke sini? Tidak dengar kata-kata saya? Saya bilang tidak perlu menjenguk Alika, akan lebih baik jika anda keluar dan pergi dari sini.." kata Arkan.


"Mas, aku ingin melihat Alika, dia juga adik aku mas.. Kenapa kamu melarang ku untuk bertemu Alika?" ucap Kanaya.


"Lebih baik anda ikut saya ke pengacara untuk mengurus surat cerai, saya sudah tidak tahan dengan anda. Saya tidak akan menunggu sampai 5 bulan lagi, walaupun pernikahan kita kurang 2 bulan, saya rasa itu tidak penting.. Yang lebih penting bagi saya saat ini adalah melindungi Alika dan segera menceraikan anda" kata Arkan yang sangat emosional.


"Mas, aku tidak ingin bercerai sama kamu, tolong beri aku kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya.. Aku sangat mencintaimu mas Arkan" jawab Kanaya.


Arkan tidak menjawab apapun, ia langsung membawa Kanaya untuk bertemu pengacara. Sesampainya di rumah pengacara Arkan, pengacara itu langsung memberikan surat gugatan cerai dari Arkan untuk Kanaya.


"Ini ambil surat cerai dari saya, mulai sekarang anda bukan istri saya lagi.. Sekarang anda pergi dan tinggalkan saya" kata Arkan yang tidak berani memandang wajah Kanaya.


Hati Kanaya hancur berkeping-keping, dia tidak habis pikir kenapa suaminya tega memperlakukan dirinya seperti orang lain padahal Kanaya adalah istri sahnya.


"Baik mas jika itu keputusan mu, jangan sampai kamu menyesal.. Tetapi sebelum aku pergi, aku ingin kamu tahu mas jika aku sedang mengandung anakmu" ucap Kanaya.


"Dasar perempuan tidak tahu malu, sudah diceraikan tetapi masih mengada-ada tentang kehamilan. Saya yakin anda pasti mengarang cerita tentang kehamilan agar saya tidak menceraikan anda kan..?" jawab Arkan yang menyepelekan cerita Kanaya.

__ADS_1


Kanaya menangis sekencang-kencangnya di depan Arkan dan Kanaya tidak berkata apa-apa lagi, dia pergi meninggalkan Arkan dengan membawa surat gugatan cerai dari suaminya.


__ADS_2