Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
15. Dianggap Tidak Ada


__ADS_3

Setelah menikah, Arkan memutuskan untuk membangun rumah baru di samping rumah ayahnya untuk dia dan Kanaya.


Baru seminggu usia pernikahan Arkan dan Kanaya. Arkan sudah mulai meluapkan emosi dan amarahnya kepada Kanaya sang istri.


Suatu ketika Kanaya menyiapkan makanan untuk Arkan, justru Arkan tidak mau makan bersama dengan Kanaya.


"Mas Arkan, kita sarapan dulu ya, ini aku sudah siapkan sarapan kesukaan kamu" ucap Kanaya.


"Ingat ya, saya menikahi anda bukan atas dasar cinta, tetapi karena saya tidak ingin membuat Alika sedih. Saya tidak akan pernah makan masakan anda" jawab Arkan dengan mengancam kepada Kanaya.


"Mas, kamu boleh menghina aku.. Kamu boleh membenci aku.. tetapi tolong hargai aku sebagai seorang istri" ucap Kanaya.


"Sampai kapanpun saya tidak akan menganggap anda sebagai istri saya. Anda memang istri saya di depan semua orang, tetapi di depan mata saya kamu bukanlah siapa-siapa" jawab Arkan yang langsung pergi bekerja ke Jakarta.


"Mas.. Mas Arkan, tunggu aku mas.." ucap Kanaya mencoba untuk mencegah kepergian suaminya.


Kanaya pun menangis melihat sikap Arkan yang begitu acuh tak acuh. Tetapi Kanaya selalu mendoakan suaminya agar diberi hidayah untuk bisa menerima Kanaya sebagai istri sahnya.


Ketika sampai di Jakarta, Arkan diberitahu bahwa perusahaan batubara miliknya akan dipindahkan ke Bandung. Ternyata ini perintah dari Pak Fauzan, agar Arkan selalu ada di dekat keluarganya.


"Halo yah, kenapa ayah memindahkan perusahaan kita ke Bandung?" ucap Arkan ditelpon.


"Iya Arkan, agar kamu bisa dekat dengan keluargamu di Bandung. Terlebih lagi kamu sudah memiliki istri, apa kamu tidak kasihan kepada Kanaya, baru seminggu menikah dia harus ditinggal kerja sama kamu dari Bandung ke Jakarta" jawab Ayahnya.


Arkan tidak bisa mengelak apapun, karena perusahaan itu masih atas nama ayahnya. Arkan balik ke Bandung dan segera menyelesaikan kontrak perusahaanya yang akan dipindahkan ke Bandung.


Kepulangan Arkan disambut baik oleh Kanaya. Tetapi, Arkan tetap pada pendiriannya tidak akan menganggap Kanaya sebagai istrinya.


"Mas Arkan, aku sudah siapkan baju kamu, setelah ini kamu mandi terus makan ya.." ucap Kanaya.


"Saya tidak akan makan masakan anda, saya akan beli saja di luar" geram Arkan pada Kanaya.


Sampai larut malam, Arkan pergi ke luar. Kanaya yang menunggu Arkan begitu mencemaskan suaminya itu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka pintu.


Ketika Kanaya membuka pintu, ternyata itu Arkan yang pulang dalam kondisi mabuk. Kemudian Kanaya mengantarkan suaminya ke kamar.

__ADS_1


"Anda jangan pernah sesekali tidur di kamar saya, karena saya tidak akan pernah tidur bersama anda" ucap Arkan dalam kondisi mabuk.


Arkan pun tertidur pulas, Kanaya yang selalu menuruti kemauan suaminya itu tidur di kamar lain.


Keesokan harinya, Kanaya berusaha untuk melayani suaminya layaknya seperti seorang istri walaupun Kanaya tahu jika dirinya tidak dianggap ada oleh Arkan.


"Mas, izinkan aku untuk melayani mu. Bolehkah aku mencium tangan mu sebagai rasa hormatku sebagai seorang istri" tanya Kanaya.


"Saya sudah pernah bilang, saya tidak akan menyentuh anda walaupun anda istri saya. Ingat kata-kata saya, jangan pernah mendasari sebuah hubungan atas nama cinta, karena saya sangat membenci kata cinta" kata Arkan yang sangat marah kepada Kanaya.


Arkan pergi tanpa berpamitan kepada Kanaya. Tiba-tiba, Alika dan Ayah Fauzan datang ke rumah Kanaya dan Arkan.


"Assalamualaikum Kanaya, bagaimana kabarmu?" tanya Ayah Fauzan.


"Baik ayah, kabar Kanaya dan mas Arkan baik-baik saja. Kanaya senang sekali memiliki suami seperti mas Arkan, dia sangat perhatian dan baik kepadaku ayah" ucap Kanaya yang berusaha menutupi aib suaminya.


"Wah, ternyata perkataan ayah benar kalau kak Kanaya akan membantu kak Arkan menjadi orang yang lebih baik lagi" ucap Alika.


"Maaf Ayah, maaf Alika, Kanaya harus berbohong tentang sikap mas Arkan kepadaku selama ini" kata Kanaya dalam hati.


Siang hari yang sangat terik, Kanaya menelepon Arkan agar mengizinkannya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Papah Faris.


"Assalamualaikum mas Arkan, maaf jika aku mengganggu pekerjaan mas.. Aku minta izin untuk menjenguk Papah Faris ya mas, boleh atau tidak?" tanya Kanaya.


"Wa'alaikumsalam, kalau mau pergi ya pergi saja tidak perlu minta izin segala" jawab Arkan.


"Aku seorang istri mas, kemanapun aku pergi aku harus meminta izin pada suamiku. Kalau kamu ada waktu, bisakah kamu menemui Papah Faris, selama menikah kamu belum bertemu Papah aku" ucap Kanaya.


"Sudah sana pergi saja, jangan buat drama" ucap Arkan dengan menutup teleponnya.


Kanaya bergegas menjenguk Papah Faris di rumah sakit. Dia menceritakan bahwa dirinya bahagia dengan pernikahan ini.


"Assalamualaikum Pah, maafkan Kanaya waktu itu Kanaya pergi tanpa pamit" ucap Kanaya di pelukan Papahnya.


"Wa'alaikumsalam sayang, tidak apa-apa, Papah mengerti apa yang kamu rasakan" jawan Papah Faris.

__ADS_1


"Oh iya Pah, aku sudah menikah kurang lebih sudah satu minggu lebih, kenapa Papah tidak datang?" tanya Kanaya.


"Apa? Kamu sudah menikah? Kenapa Papah tidak tahu?" jawab Papah Faris.


"Waktu itu aku sudah mengabari Mamah Rima dan Elda untuk memberitahu Papah soal pernikahan ku dengan mas Arkan, tetapi tidak ada respon dari mereka" ucap Kanaya.


"Mamah Rima tega sekali kepada Papah, seharusnya Papah menjadi wali nikah kamu saat itu" kata Papah Faris.


"Tidak apa-apa Pah, aku mengerti kondisi Papah saat ini sedang sakit" ujar Kanaya.


Tiba-tiba Mamah Rima dan Elda datang ke rumah sakit.


"Ada kamu ternyata Kanaya" ucap Mamah Rima.


"Mah, kenapa baru menjenguk Papah? Kemana saja Mamah dan Elda selama ini?" tanya Kanaya.


"Suka-suka Mamah ya, kamu tidak perlu ikut campur urusan keluarga Mamah" jawab Mamah Rima.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, kamu sudah diusir dan bukan anggota keluarga kami lagi" ujar Elda kepada Kanaya.


Papah Faris tidak bisa berkutik lagi, dirinya pasrah melihat sikap istri dan anak tirinya mengejek Kanaya. Kanaya pun pulang dan berpamitan kepada Papahnya.


Ketika sampai rumah hari sudah mulai gelap, Kanaya terkejut Arkan sudah pulang dan langsung memarahinya.


"Bagus ya, perempuan yang sudah bersuami pulangnya malam, apa pantas dilihat seperti itu?" ucap Arkan membanting vas bunga di depan Kanaya.


"Mas, tadi aku menemani Papah karena tidak ada yang menjaganya. Maka dari itu aku pulang terlambat, maafkan aku mas" kata Kanaya.


"Memang perempuan di dunia itu seenaknya sendiri, suka keluyuran tidak jelas, matre, dan suka menghamburkan uang saja" kata Arkan yang menghina Kanaya.


"Mas, kenapa kamu membenci aku? Tidak semua perempuan itu sama dengan apa yang kamu sebutkan tadi. Aku tahu kamu tidak akan pernah mencintaiku, tetapi aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar mencintaiku dengan tulus. Aku yakin mas, kamu orang yang baik" jawab Kanaya dengan berlinang air mata.


Kanaya masuk ke kamar, Arkan seakan diam setelah mendengar kata-kata dari Kanaya.


"Saya yakin jika saya membuat sebuah hubungan didasari cinta, saya akan kehilangan orang-orang yang sangat saya cintai seperti bunda. Karena itu, saya tidak akan membuat hubungan apapun dengan Kanaya" kata Arkan dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


__ADS_2