
Setiap hari Kanaya merawat Papahnya dengan penuh kasih sayang. Di sisi lain, Mamah Rima dan Elda khawatir jika Papah Faris lama kelamaan akan sembuh jika setiap harinya dirawat oleh Kanaya. Mereka berdua menginginkan harta warisan Papah Faris agar menjadi milik Mamah Rima seutuhnya.
Setelah dirawat inap, Papah Faris diperbolehkan pulang. Kanaya juga turut mengantar Papah Faris pulang ke rumah.
Saat Kanaya pamit pulang, dirinya melihat Elda sedang menerima sebuah paket bunga berwarna ungu. Kanaya merasa aneh dengan bunga itu, karena jarang sekali ada bunga berbentuk seperti itu.
"Elda, itu bunga apa? Sepertinya itu bukan berasal dari Indonesia kan?" tanya Kanaya yang curiga.
"Mba, tidak perlu ikut campur urusan ku dan keluarga ini. Urus saja suami mba itu yang terkenal sombong dan egois" jawab Elda.
"Kamu tahu suami aku?" tanya Kanaya.
"Tahu mba, suami mba itu sahabat dari manajer aku" ucap Elda.
"Kalau begitu, mba pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik" kata Kanaya pada adik tirinya.
Kanaya pulang ke rumah suaminya. Di rumah ia terus memikirkan bunga yang di pesan Elda, ia rasa bunga itu seperti membahayakan orang.
Besoknya, Kanaya tetap menjenguk Papah Faris di rumah. Hanya Kanaya dan Papah Faris yang ada di rumah saat itu, Elda dan Mamah Rima pergi entah kemana.
"Pah, papah sudah baikan apa belum?" tanya Kanaya.
"Sudah sedikit sayang, kamu setiap hari ke sini apa diperbolehkan oleh suami mu?" tanya balik Papah.
"Boleh Pah, Mas Arkan sangat baik kepadaku" jawab Kanaya.
"Suami mu beruntung memiliki istri seperti sebaik kamu sayang. Andai dulu Papah bisa lebih menghargai perjuangan Mamah Kinanti, Papah tidak akan menyesal seperti ini" kata Papah menyesali perbuatannya.
"Kalau Kanaya boleh jujur, sewaktu Papah mulai berubah.. Kanaya sering melihat Mamah Kinanti menangis di teras rumah, bahkan ketika Kanaya bertanya apa yang terjadi, Mamah tidak menjawab apapun'" cerita Kanaya kepada Papahnya.
"Semakin hari Mamah stres dan terus memikirkan sikap Papah yang berubah-ubah, Mamah sampai pernah tidur di meja makan hanya untuk menunggu kepulangan Papah.. Bahkan ketika Mamah sakit, Mamah memutuskan berhenti dari pekerjaannya yang mulia itu hanya untuk mengurus Kanaya dan Papah di rumah sekaligus agar Papah lebih peduli kepada Kanaya dan Mamah" lanjut cerita Kanaya yang mulai berlinangan air mata.
"Papah menyesal Kanaya, tolong maafkan Papah. Papah hanya.." ucap Papah Faris.
__ADS_1
"Hanya apa Pah? Justru perbuatan Papah yang sudah membuat Mamah menjadi sakit-sakitan" kata Kanaya yang memotong pembicaraan Papahnya.
"Asal Papah tahu, Mamah sebenarnya tidak pernah memiliki riwayat penyakit jantung. Penyakit jantung bukan faktor keturunan Pah, Papah pernah bilang seperti itu kan kepada Kanaya?" ucap Kanaya.
"Justru kata Dokter Affandi teman Papah, Mamah bisa terkena serangan jantung karena terlalu memikirkan sesuatu yang membuat Mamah sering merasa pusing dsn sesak nafas. Kanaya juga baru tahu tentang kertas hasil laboratorium milik Mamah, di kertas itu tercantum jika Mamah terkena serangan jantung ringan.. Apa Mamah mengeluh? Apa Mamah memberitahu semua orang tentang penyakitnya itu? Tidak Pah, Mamah justru menyembunyikan semuanya dari kita" ucap Kanaya yang marah kepada Papahnya.
"Mamah juga sudah tahu tentang hubungan Papah dengan Bu Rima waktu itu, terlebih soal Papah yang menginap di hotel Jogja. Dhivia, temanku yang sudah memberitahu tentang Papah dan Bu Rima saat di Jogja" kata Kanaya dengan menangis dihadapan Papahnya.
"Ingat waktu Papah sakit setelah dari Jogja? Yang merawat Papah sampai sembuh siapa? Mamah Pah.. Bahkan Kanaya pernah melihat Mamah tidur di lantai karena harus menjaga kesehatan Papah. Mamah juga pernah tidak tidur sama sekali hanya untuk merawat Papah sampai sembuh, dan setelah sembuh Papah masih saja mengkhianati cinta Mamah" kata Kanaya bercerita panjang lebar.
"Saat hari ulang tahun pernikahan Mamah dan Papah, Mamah berusaha untuk memberikan kejutan spesial di usia 25 tahun pernikahan Mamah Papah, tetapi Papah membuat Mamah meninggal dengan mengungkapkan segalanya tentang Bu Rima kepada Mamah" kata Kanaya yang sudah terlihat lemas di kamar Papahnya.
Kanaya tiba-tiba pingsan setelah bercerita panjang lebar tentang perjuangan Mamah Kinanti kepada Papah Faris.
Papah Faris terkejut melihat putrinya tergeletak pingsan. Papah Faris yang belum sembuh, memaksakan dirinya untuk bangun dan segera menolong Kanaya.
Papah Faris berusaha untuk menyadarkan Kanaya dari pingsannya. Setelah Kanaya sadar, dia meminta maaf kepada Papahnya karena telah membentak keras saat cerita tadi.
Kemudian, Kanaya pulang karena dia harus menebus obat untuk ayah Fauzan di rumah sakit. Ketika dirinya melewati ruang tamu rumah Papahnya, ia melihat banyak sekali bunga seperti yang dipesan Elda. Kanaya dengan sembunyi-sembunyi memfoto bunga itu.
Kanaya langsung memberitahukan kepada Dhivia, sahabatnya yang kuliah kedokteran.
"Halo Dhiv, aku mau tanya tentang bunga aneh yang ada di rumah Papah aku, siapa tahu kamu tahu" kata Kanaya.
"Kirim fotonya ya Kan, nanti akan aku selidiki lebih lanjut tentang seluk beluk bunga yang kamu maksud" ucap Dhivia.
Kanaya mengirim foto bunga itu ke Dhivia. Setelah beberapa jam, Dhivia menelpon Kanaya kembali. Dhivia mengatakan jika bunga itu sangat berbahaya jika dimakan atau diminum, karena bunga itu bukan berasal dari Indonesia tetapi dari China atau Jepang.
Dhivia juga mengatakan jika bunga itu sering dipakai untuk membuat seseorang menjadi penurut bahkan secara tidak sadar seseorang itu akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh orang lain.
Kanaya kemudian menelepon Papahnya..
"Halo Pah, Papah sudah minum obat dari dokter?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Sudah sayang, ini Mamah Rima baru saja memberi obat dan segelas teh hangat yang sangat enak" jawab Papah Faris.
"Sejak kapan Papah suka minum teh? Bukannya dari dulu Papah tidak suka teh, Papah lebih suka kopi kan?" tanya Kanaya yang perasaannya mulai tidak tenang.
"Papah juga tidak tahu, sejak Papah sakit, Mamah Rima membuatkan teh spesial untuk Papah yang selama ini belum pernah Papah rasakan, mungkin karena itu Papah jadi ketagihan" jawab Papah menjelaskan kepada Kanaya.
"Pah, jaga kesehatan baik-baik ya.. Kanaya sayang Papah" ucap Kanaya.
"Iya anakku sayang, Papah akan segera sembuh demi putri kesayangan Papah yang satu ini" jawab Papah dengan tertawa saat ditelpon.
Kanaya terharu mendengar kata-kata Papahnya, ia tidak ingin kehilangan orang yang sangat dicintai untuk kedua kalinya.
Dhivia mengirim pesan kepada Kanaya jika bunga yang dimaksud bernama Bunga Wisteria. Menurut Dhivia, bunga itu bisa menyebabkan seseorang pusing, mual, sakit perut yang berlebihan, dan jika dikonsumsi terus menerus akan berakibat fatal.
Sore harinya, Kanaya berusaha mencari tahu soal bunga Wisteria itu di rumah Papahnya. Kanaya mencurigai gudang belakang rumah yang sebelumnya tidak pernah digembok, namun sekarang digembok dengan rapat.
Kanaya tidak memberitahu soal gudang tersebut karena ia khawatir dengan kesehatan Papahnya.
"Pah, ini teh siapa?" tanya Kanaya.
"Ini teh yang dimaksud Papah waktu bicara ditelpon waktu itu.. Teh ini Mamah Rima yang membuatkan untuk Papah" jawab Papah Faris.
"Tetapi aroma teh ini sangat berbeda dengan teh pada umumnya, teh ini juga terlihat sangat hitam bukan coklat" gumam Kanaya dalam hatinya.
"Apa Papah merasakan sesuatu setelah minum teh ini?" tanya Kanaya.
"Tidak.. Tetapi Papah sering pusing dan mata Papah berkunang-kunang, mungkin Papah kurang tidur dan capek" jawab Papah Faris.
"Oh iya Kanaya, hari sudah mulai gelap, kamu tidak pulang?" tanya lagi Papah Faris.
"Baik Pah, Kanaya pamit ya. Kalau Papah butuh bantuan, jangan sungkan telepon Kanaya ya.." kata Kanaya keluar dari kamar Papahnya.
Kanaya sengaja menuju gudang belakang rumah Papahnya, menurut dirinya ini waktu yang tepat untuk mencari tahu isi gudang tersebut karena Mamah Rima dan Elda belum pulang.
__ADS_1
Ketika Kanaya menuju gudang belakang, tiba-tiba terdengar suara orang yang baru saja datang. Kanaya pun segera pergi dari sana agar tidak ada yang mencurigainya.