Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
24. Trauma Membuat Terluka


__ADS_3

Setelah Arkan pulang dari kantornya, ia terus terngiang-ngiang percakapannya dengan Bu Hamidah.


"Perkataan Bu Hamidah ada benarnya, jangan sampai saya kehilangan orang-orang yang sangat saya cintai akibat dari dendam atau trauma. Apakah saya harus minta maaf pada Kanaya?" ucap Arkan sambil menuju ke kamarnya.


Tiba-tiba Kanaya ada di belakangnya.


"Kamu kenapa mas?" tanya Kanaya.


"Sejak kapan kamu di sini? Tidak sopan mengagetkan orang saja" jawab Arkan.


"Sejak kapan kamu memanggil aku dengan sebutan kamu?" tanya Kanaya sambil tersenyum-senyum yang menggoda suaminya itu.


"Ditanya malah balik nanya, tadi tidak sengaja panggil kata kamu" jawab Arkan dengan gugup di depan Kanaya.


"Mas, kamu makan masakan aku sekali ini aja ya. Lihat, aku sudah siapkan makanan kesukaan kamu" tanya Kanaya dengan raut wajah yang sedih.


Melihat wajah Kanaya yang terlihat sangat lelah, Arkan pun menyetujui untuk mencoba masakan Kanaya.


"Baiklah, saya mau mandi dulu" jawab Arkan.


Kanaya pun langsung menyiapkan piring untuk makan suaminya. Dia sangat bahagia karena malam ini akan makan bersama suaminya itu.


Arkan pun duduk di meja makan, ia melihat Kanaya memasak dengan rasa kasih sayang.


"Silakan makan mas.." ucap Kanaya.


Arkan makan dengan lahap, sampai ia lupa jika dirinya sedang diperhatikan oleh Kanaya.


"Enak ya mas, lahap sekali kalau makan.." gurau Kanaya.


"Biasa aja.." jawab Arkan yang tidak ingin jujur.


"Iya sudah, nanti di kamar juga bilang kalau masakan ku lezat malam ini" ucap Kanaya dengan lirih.


"Anda bilang apa?" jawab Arkan yang mendengar kata-kata Kanaya.


"Tidak, lanjutkan makan saja mas.. Oh iya mas, besok aku mau ke rumah almarhum Papah Faris, boleh kan?" tanya Kanaya.


"Iya boleh, ada urusan apa? Kan mamah tiri kamu sudah di penjara" tanya balik Arkan.

__ADS_1


"Pengacara Papah waktu itu meminta aku untuk mengurus surat wasiat dan seluruh aset perusahaan Papah ku" jawab Kanaya.


"Terus rumah itu rencananya mau dijadikan apa?" tanya Arkan.


"Belum tahu mas, tetapi aku ingin sekali rumah itu dibangun sebuah panti asuhan. Walaupun rumah itu banyak kenangan ku bersama Papah Mamah, tetapi daripada tidak ada penghuninya maka aku berencana membangun panti asuhan saja. Bagaimana menurut kamu mas?" tanya Kanaya pada Arkan.


"Ide bagus itu, saya setuju-setuju saja" jawab Arkan.


Setelah berbincang-bincang, Arkan dan Kanaya masuk kamar masing-masing. Saat tengah malam, tiba-tiba lampu padam semuanya. Arkan yang memiliki phobia gelap sangat takut berada dalam kegelapan.


"Kanaya.. Kanaya.. Anda di mana? Tolong bawakan lilin ke kamar saya, cepat Kanaya!" teriak Arkan di kamarnya memanggil nama Kanaya.


"Iya mas.. Tunggu sebentar" jawab Kanaya.


Kanaya langsung ke kamar Arkan untuk memberikan cahaya lilin.


"Akhirnya anda datang juga, saya takut sekali kegelapan" ucap Arkan sambil menerima lilin yang diberikan Kanaya.


"Kamu tenang ya mas, aku di sini" jawab Kanaya.


Di tengah kegelapan, pancaran cahaya lilin yang memperlihatkan Arkan dan Kanaya saling memandang satu sama lain.


"Kanaya, terima kasih selalu ada untuk saya" kata Arkan yang pandangannya tertuju pada Kanaya.


Beberapa jam kemudian, lampu itu menyala. Arkan kembali tidur dan Kanaya pergi dari kamar Arkan untuk beristirahat kembali.


Keesokan harinya, Kanaya diantar Arkan ke rumah almarhum Papah Faris. Kanaya meminta pengacara untuk segera mengurus rumah peninggalan orang tuanya untuk dibangun sebuah panti asuhan.


"Pak, saya mohon bantu saya dalam mengurus surat-surat berharga dan aset lainnya. Nanti rumah ini akan dibuat panti asuhan setelah semua berkas sudah selesai" ucap Kanaya pada pengacaranya.


"Baik Bu, jika sudah selesai akan saya hubungi kembali. Kalau begitu saya permisi" jawab Pengacara.


Kemudian Arkan bertanya kepada Kanaya..


"Anda kenapa hanya menyewa satu pengacara saja? Ini aset besar, apa anda tidak merasa gelisah atau mungkin dikejar deadline?" tanya Arkan.


"Tidak mas, karena aku sudah paham masalah ini. Aku dulu kuliah ilmu hukum, jadi aku paham betul seluk beluk tentang warisan atau aset seperti ini" jawab Kanaya tersenyum.


"Baru tahu saya, terus kamu pernah bekerja?" tanya Arkan lagi.

__ADS_1


"Setelah aku selesai S1, aku sudah melanjutkan studi S2 di Jerman. Karena Mamah aku sakit terus, jadi aku harus berhenti sementara sekaligus menunda studi S2 ku. Setelah pulang ke Indonesia, aku diterima sebagai Pegawai Yudisial daerah Bandung" jawab Kanaya.


"Ternyata anda sangat pintar dan di luar dugaan saya, tetapi apa anda tidak merasa menyesal telah melepas studi S2 anda di Jerman?" tanya Arkan.


"Menyesal? Buat apa coba? Aku juga tidak pernah memaksa, jika Tuhan telah memberikan jalan terbaik untukku.. Aku harus terima apapun itu, salah satunya aku dipertemukan dengan laki-laki yang baik seperti kamu mas.." jawab Kanaya mengingat masa lalunya.


"Itu juga demi kesembuhan Mamah aku, aku tidak tega melihat mamah aku sakit dan tidak ada yang merawat" jawab Kanaya kembali.


"Sudah mari kita pulang, saya sudah terlambat bekerja ini. Saya antarkan anda pulang sekarang" ucap Arkan menuju mobilnya.


"Baiklah, sebentar aku kunci pintu rumah dulu" kata Kanaya.


Ketika mereka berdua sedang ada di mobil, Kanaya bercerita tentang kehidupannya sebelum bertemu Arkan.


"Aku bahagia sekali bisa dipertemukan dengan kamu mas, kamu orang yang sangat baik dan peduli. Inilah yang dinamakan takdir Tuhan yang tidak pernah kita sangka sebelumnya" cerita Kanaya saat di perjalanan.


Tiba-tiba Arkan yang sedang mengemudi mobilnya, ia berhenti mendadak sehingga membuat Kanaya terkejut.


"Mas, ada apa? Kenapa kita berhenti di sini, ini masih jauh sama rumah kita" tanya Kanaya begitu penasaran dengan sikap Arkan.


"Anda pergi dari sini, keluar dari mobil saya sekarang.." ucap Arkan dengan nada tinggi.


"Tapi mas kenapa?" ucap Kanaya khawatir.


"Saya bilang turun sekarang! kata Arkan yang terlihat sangat marah.


"Aku tidak akan turun sebelum kamu menjelaskan ada apa sebenarnya sampai kamu tega ingin meninggalkan aku sendirian di jalan" ucap Kanaya.


Arkan yang terlihat sangat emosi, ia turun menghampiri Kanaya. Arkan memaksa Kanaya turun dari mobilnya.


"Mas...Kamu ini kenapa? Apa karena aku membicarakan sesuatu yang mengingatkan mu pada trauma itu?" tanya Kanaya kepada Arkan yang terlihat sedang cekcok di depan mobil.


"Asal anda tahu, saya sangat benci yang namanya cinta, kasih sayang, dan anda bilang tentang takdir? Ternyata anda ini perempuan yang tidak tahu diri sama sekali, anda memang sama dengan perempuan lain yang sekarang hanya memikirkan kecantikan, kemewahan dan uang" ucap Arkan dengan wajah memerah.


"Mas, walaupun kata-kata mu itu sangat menyakitkan, tetapi aku tetap yakin bahwa suatu saat kamu akan bangkit dari trauma mu. Mas, asal kamu tahu jika cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai" jawab Kanaya.


"Anda bilang cinta? Ingat baik-baik untuk yang terakhir kali, saya tidak akan pernah mencintai perempuan seperti anda ini. Ingat ya! Saya akan segera menceraikan anda, hanya menghitung bulan saja, tersisa 3 bulan.. Anda siap-siap saja untuk meninggalkan rumah saya" kata Arkan terlihat sangat marah dan meninggalkan Kanaya di jalan sendirian.


Arkan pun pergi menggunakan mobilnya, sedangkan Kanaya menangis di jalan seorang diri. Kanaya tidak menyangka jika suaminya bisa berkata mengenai dirinya seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa mas? Kenapa kamu tega bicara seperti itu kepadaku? Asal kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu lebih dari diriku sendiri.. Apa kamu tidak bisa melihat kasih sayang ku selama ini?" tanya Kanaya pada dirinya sendiri sambil menangis.


Hujan deras turun membasahi sekujur tubuh Kanaya. Kanaya yang terus menerus menangis sampai lupa jika ia berada di tengah jalan raya.


__ADS_2