SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 14~*****


__ADS_3


********


"sudah sudah, aura pengantin baru kok udah kayak pasangan lima tahun, berantem mulu " cibir Tania


"udah layani gue , gue mau pesen makanan ini " ucap Tania


"iya.. mau pesen apa " Yoona


"emm.. menu yang gratis ada "


"ada.. air putih " canda Yoona


" a'elah.. gue juga punya kalo air putih " ketus Tania.


Yoona beranjak menuju dapur untuk menyiapkan. menu yang dipesan oleh Tania, dibantu oleh Afgan.


*****


Di ruangan Marchel...


Marchel sedang tidak fokus dengan kerjaannya, ia diberi kabar oleh mata mata suruhannya untuk mengawasi Yoona.


Marchel menerima informasi mengenai Restoran Afgan yang baru saja buka, ia sempat marah dan mengobrak abrik meja kerjanya.


Tetapi sekilas ia memiliki ide gila, ia menyeringai, lalu keluar dari ruangannya.


"sela.. tolong bereskan ruangan saya.. " ujar Marchel kepada sekertarisnya.


"baik pak.. " jawab sela memberi hormat.


Marchel melenggang pergi dari hotel. entah kemana Marchel pergi, Author juga masih belum memikirkannya.😁


****


Hari sudah mulai sore, Restoran Afgan menjadi sangat ramai saat di sore hari. Yoona dan Afgan sedang sibuk sendiri. Yoona memegang kendali dapur dan Afgan di bagian kasir dan pelayanan.


"Yang... anter gih sudah siap menunya. " Yoona


" siap. " jawab Afgan, mereka terlihat bahagia melayani pelanggannya dengan sepenuh hati.


Setelah Afgan mengantar menunya ia kembali menghampiri Yoona yang berada di dapur.


Afgan melingkarkan tangannya diperut Yoona kemudian ia mengecup pundak Yoona yang masih tertutup baju.


"Yang.. kamu apa apaan sih " Yoona segera berbalik badan menghadap Afgan. " ada apa, kamu bukannya menjaga kasir malah kesini " tanyanya.


"aku kangen kamu " ucap Afgan kemudian mengecup bibir Yoona. mengecupnya berkali kali.


Yoona kegelian ia masih belum menjawab ciuman Afgan, bibirnya tertarik kesamping, kemudian ia membalas ciuman Afgan.


Keduanya sangat menikmati pertautan mereka, hingga Afgan mulai tak terkendali ia mendudukkan Yoona di meja dapur hingga membuat Yoona tidak berjinjit, mereka masih belum puas pertautan mereka masih saja terjadi, tangan Afgan juga sudah merambat kemana mana.


Tangannya masuk dibalik baju yang dikenakan Yoona, membelai perut rata Yoona hingga sampai di benda kenyal milik Yoona, ia meremas perlahan hingga hingga Yoona mengaduh.

__ADS_1


"mmmhh.. Gan.. " desah Yoona saat tangan Afgan meremas perlahan dadanya.


Afgan semakin gencar mendengar suara Yoona, ia gemas dan meremas kuat benda kenyal yang masih tertutup b * ra milik Yoona.


" Aaahh. sakit Gan.. " ucap Yoona setelah melepas kasar pertautan mereka, ia menatap suaminya dan memegang lengan Afgan.


Afgan menyeringai, kemudian ia mencium leher dan mengalungkan kaki Yoona di pinggannya, ia memindahkan Yoona ke meja panjang tempat pembuatan Roti, perlahan ia membaringkan tubuh Yoona kemudian mencium leher depan milik istrinya, Yoona merasa geli ia menengadahkan kepalanya memberi akses Afgan supaya leluasa.


kreteeekk..


pintu terbuka perlahan.


" what !! " ucap Ben dan Rafa bersamaan setelah melihat adegan dewasa didepan matanya.


Afgan menghentikan aksinya kemudian membantu Yoona duduk, ia merapikan rambut Yoona yang terlihat berantakan.


" ishh.. " geram Yoona sambil memukul pinggang Afgan, Afgan tersenyum jahil.


ia melihat kesamping ternyata si kutu kupret yang mengganggunya.


"heh!! mentang mentang pengantin baru, kalau 'nganu ' jangan di sembarang tempat dong " cibir Ben. " oh! mataku ternoda " tambahnya lagi.


"gue tegang " ucap Rafael, Afgan segera menghampiri kedua temannya.


"ngapain lu kesini " cibir Afgan


"ya elah.. gue mau beli makanan elu tapi di lihat dari meja kasir tidak ada siapa siapa jadi ya aku masuk ruang dapur, ehh!! tahunya kita disuguhkan film p***o " ucap Rafael


" Ah basi, sudah sana keluar " usir Afgan


"ngusir nih " ucap Ben


"maksudnya keluar dari sini, tunggu aja didepan masih mau nerusin urusan gue "


"halah.. bodo sini ikut " ucap Rafa kemudian menggelandang leher Afgan secara paksa


setelah mereka keluar, Yoona masih mematung dengan memegang dadanya yang berdetak kencang.


"duh.. mau ditaruh dimana muka gue " monolognya.


ia duduk di kursi yang ada di dekat nya, ia masih mengatur nafasnya yang terengah engah.


" aku gak berani keluar " ucapnya sambil menggebrak meja didepannya.


****


Hari semakin larut, Restoran Afgan sudah sepuluh menit yang lalu tutup, sekarang mereka sedang beberes menumpuk meja kursi. setelah selesai mereka beristirahat sejenak sambil ngopi.


"Yang.. gimana kalau kita buat ruangan khusus, supaya kita bisa istirahat disini " ujar Afgan


"ruangan khusus? " Yoona


" iya, supaya kalau kita gak bisa pulang kita bisa nginep disini " jelas Afgan


"boleh juga, terserah kamu aja " jawab Yoona

__ADS_1


Yoona dan Afgan menikmati secangkir kopi hitamnya, memang Yoona sedari kecil suka sama kopi hitam itu merupakan minuman favoritnya, bisa dibilang ia adalah maniak kopi.


Mereka menikmati kopinya sambil menatap ke arah keluar menunjukkan jalan raya yang masih ramai.


Setelah setengah jam kopi tersebut tandas, Yoona segera kebelakang untuk mencuci cangkirnya. Afgan mengikuti Yoona kebelakang ia melihat Yoona sedang mencuci cangkir lalu ia menghampiri Yoona dan memeluknya dari belakang.


" Apa? " Yoona


"enggak apa apa! cuma mau nanya udah selesai belum " ucap Afgan sambil menciumi pipi Yoona


"selesai ? apa ? " Yoona load


"itu loh.. haid kamu " ucap Afgan


"Ya ampun Sayang.. " ucap Yoona sambil mengelus tangan Afgan yang melingkar diperutnya " ini masih satu hari... biasanya seminggu baru selesai kalau aku, tapi bisa jadi seminggu lebih " ucap Yoona


"apa!! seminggu lebih " kaget Afgan


"iya... kenapa? gak tahan ya. " goda Yoona


"ck!! Yang lama amat " gerutu Afgan


"sabar.. " ucap Yoona sambil menepuk pelan pipi Afgan yang ada di sisinya.


####


Afgan sedang berada dikamar mandi ia merendam tubuhnya di bak mandi, ditemani Yoona yang berada didepannya.


Ia menciumi punggung polos Yoona. " Ah.. Gan.. geli " keluh Yoona sesekali ia menggeliat.


Memang tadi Yoona sempat menolak tetapi ia juga tidak bisa membantah suaminya hingga akhirnya ia menuruti kemauan suaminya.


Dirasa Yoona menjauh dari dekapannya ia menarik pinggang Yoona kebelakang hingga akhirnya tubuhnya menempel sempurna di punggung Yoona,


"emm.. " desah Yoona saat merasakan ada yang mengganjal di bagian pantatnya.


"Sayang.. kita bermain sebentar " ucap Afgan dengan secepat kilat ia membalikkan tubuh Yoona hingga menghadap sempurna kepadanya.


" mari bermain " ucap Afgan seraya meletakkan tangan Yoona di antara kedua pahanya. Yoona bisa merasakan benda keras yang ia pegang sekarang. Afgan menuntun tangan Yoona menarik turunkan di miliknya.


" Ah.. Sayang... lebih cepat " desah Afgan, Yoona menurut saja hingga Yoona semakin mendengar desahan Afgan yang semakin keras , kemudian ia menghentikan kegiatannya membuat Afgan langsung menatap kecewa.


"tanganku pegel " keluh Yoona sambil mengibaskan tangannya di udara


Afgan meraih tangan Yoona lagi dan meletakkannya dimiliknya lagi, padahal ia mau sampai tetapi gara gara istrinya ini. Ahh sangat menjengkelkan. batin Afgan


Setelah bermain cukup lama dan menguras tenaga bagi Yoona Afgan akhirnya melepaskan Yoona, Yoona tidak menyia-nyiakan kesempatan hingga akhirnya ia bisa keluar dari kamar mandi ia bergegas mencari piyamanya lalu memakaikannya ia memegangi tangannya yang kaku,sampai sekarang tangannya seperti salah urat, ia memijit tangannya rasanya kaku buat digerakin batinnya.


Melihat Afgan keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya ia kemudian membaringkan badannya di ranjang lalu terlelap dalam tidurnya.


Afgan menyusul Yoona setelah mengoles lotion ditangan Yoona dan sedikit urutan disana, tetapi Yoona tidak terganggu oleh itu, ia sangat lelah hingga pergerakan Afgan tidak dia rasa.


.


.

__ADS_1


....


Bersambung...


__ADS_2