
Yoona POV...
"Aku tahu aku salah, maaf aku tidak bermaksud menyakitimu, tolong jangan begini.. Aku mohon... Hiks.." aku memohon agar suamiku ini menghentikan kegiatannya, tidak... Aku tidak kuat lagi, mataku berkunang-kunang rasanya seluruh tulang tubuhku akan hancur, aku memejamkan mataku rasanya aku mau pingsan, aku tidak lagi bersuara saat Afgan menghentakkan pinggulnya bertubi tubi, lemah sudah tubuhku hingga aku tak sadarkan diri.
Yoona POV end..
"Hei!!! Bangun Yoo... Bangun aku bilang" ucap Afgan seraya menghentakkan pinggulnya tanpa henti. Ia semakin cepat menggenjot istrinya berharap istrinya bangun tapi tidak.. Yoona belum bangun juga.
"Apa aku terlalu kasar..." monolognya ia masih saja melanjutkan kegiatannya bertubi tubi.
Braaakkk...
Pintu terbuka lebar Afgan menoleh kebelakang, memperlihatkan Mamanya diambang pintu.
" Gan... Apa yang kau lakukan Hah!!"
Ia melihat menantunya tak bergerak dibawah Kungkungan anaknya.
Ia menghampiri anaknya dan menariknya turun dari tubuh Yoona.
"Apa yang kau lakukan..." teriak Mama menggema.
"Tidak ada,, aku hanya memberinya pelajaran " ucap Afgan enteng sambil memakai celana pendek nya.
Mama menghampiri menantunya ia mengelus pipi Yoona dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Mama menarik Afgan keluar dari kamarnya, ia mendudukkan anaknya di kursi ruang tamu.
" apa yang kau lakukan pada menantu Mama hah!! "Teriak Mama Afgan
Hari masih terbilang pagi tetapi drama cekcok antara anak dan ibu ini sudah memanas saja.
Afgan menatap tajam Mamanya.
" dia yang harusnya mama tanya... Kenapa dia menghianatiku. " ucap Afgan sedikit meninggi
"Apa maksudmu" teriak Mama.
"Dia menikah lagi mah.. Dia menikah dengan Marchel. Perempuan macam apa dia.. Hah!! " ucap Afgan kepada Mamanya.
Mama sudah berlinang air mata, ternyata menantunya memberitahukan segalanya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya menantunya disiksa oleh anaknya sendiri.
"kenapa ini terjadi padaku mah... Kenapa!!! Aku tidak bisa bayangkan Yoona melakukan itu padaku. Hiks... DASAR... WANITA JALANG.." teriak Afgan kepada Mamanya
Plaakkk...
__ADS_1
Sebuah tamparan keras jatuh di pipi Afgan relfeks ia menoleh saat tamparan Mama yang begitu keras menyentuh pipinya, ia memegang pipinya lalu menoleh melihat Mamanya sudah tersulut amarahnya.
"Kamu yang tidak tahu diri... Kamu yang bodoh.. Suami macam apa kamu hingga tidak bisa menuruti kemauan Yoona dulu." suara Mama sedikit meninggi.
" dia yang tidak tahu malu, hingga saking rindunya belaian ia menjajakan tubuhnya dengan pria lain." Afgan tidak kalah meninggi.
Plak...
Satu tamparan keras beralih di pipi kanan Afgan
" jika kamu mendengarkan istrimu dulu, pasti ini semua tidak terjadi..kau mengerti!!! " Mama Afgan
"Jika kamu tidak kecelakaan pasti istrimu masih menjadi milikmu seutuhnya Gan... Mama rela ia menjadi istri orang lain " ucap Mama, ia merosot terduduk di lantai, Afgan mensejajarkan tubuhnya dengan Mamanya.
"Kenapa Mama membela wanita murahan itu, Hah!! Mama tidak melihat anakmu sendiri dikhianati olehnya.. Huh!! Tak sadar Afgan membentak Mamanya.
" kamu yang tidak tahu diri Afgan... Jika saja Yoona tidak menikah lagi mungkin kamu akan menjadi mayat hidup sampai sekarang " tukas Mama
"A-apa!! " ucap Afgan masih mencerna perkataan Mamanya.
Cerita mulai mengalir Mama menceritakan sedari awal masalah, kata demi kata keluar dari mulut Mamanya. Hingga sampai akhirnya Afgan menyadari segalanya.
Afgan POV...
Aku masih setia mendengar cerita Mama, sesekali Mama mengusap kasar air matanya, aku menundukkan kepalaku saat Mama menatapku tajam, oh tidak.. Ini tidak mungkin terjadi. Istriku... Istriku... Dia.. Menyelamatkan aku dengan cara ini.
Sesaat aku menyadari keadaan istriku tadi, aku beranjak dan berlari ke kamar ku meninggalkan Mama yang masih terisak diruang tamu.
"Yoo... Yoona maaf.." ucapku sambil mengangkat kepala istriku yang masih tak sadarkan diri.
"Sayang... Maaf. Maaf.. Maafkan aku" ucapku sambil mengelus halus rambut istriku yang berantakan dalam dekapanku
Aku menidurkannya lagi dan mengambil minyak angin di dalam lemariku.
Aku mendekatkan minyak tersebut ke hidung istriku, ia sedikit menggeliat memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan pelan.
Aku menepuk pelan pipi istriku
"Ughh... " terdengar Yoona melenguh lirih, perlahan Yoona menggercapkan matanya hingga matanya terbuka.
Mataku dengan matanya bertemu dan bertatap sedikit lama hingga akhirnya aku memutuskan berhambur memeluk tubuh polos istriku yang tengah berbaring.
"Sayang... Maafkan aku.. " ucapku dengan menyandarkan daguku di puncak kepala Istriku.
"Aku yang harusnya minta maaf... Maaf aku telah mengkhianatimu " ucap Yoona lirih sambil mengelus lembut punggungku.
"Tidak.. Kamu tidak salah.. Aku yang salah. Tolong maafkan aku, dan terima kasih atas semuanya." ucapku
__ADS_1
"Hmm.. " Yoona mengangguk pelan, dan melepas pelukannya.
Afgan POV end...
"Em... Yang.. Aku mau ke kamar mandi " ucap Yoona lalu berdiri
"Auh.. Sssttt... Sakiitt..." desisnya saat ia berdiri di samping ranjangnya sambil memingkupkan kedua kakinya.
"Yang... Kenapa? Kamu baik.. Biar aku yang anter " ucap Afgan lalu membopong istrinya menuju kamar mandi, ia mendudukkan istrinya dikloset, ia berjongkok dan perlahan membuka kedua kaki Yoona.
"Yaangg... " ucap Yoona sambil memegang pundak Afgan
"Hm.." Afgan
"Jangan... " Yoona merasa malu jika seperti ini
"Aku hanya,mengeceknya saja. Biar aku pastikan semuanya masih aman " ucap Afgan sambil menatap kedua kaki yang perlahan terbuka seraya dengan dorongannya.
"Yaangg.. Ih " ucap Yoona sambil menutupi pangkal pahanya dengan kedua tangannya
Afgan tersenyum geli saat melihat Yoona bertingkah seperti ini, ia menyingkirkan tangan Yoona yang menutupi area sensitifnya.
Afgan mencium sekilas permukaan V milik istrinya.
"Emhh... Yaangg... " desah Yoona, Afgan menyapukan Lidahnya di seluruh area sensitifnya istrinya membuat Yoona semakin mendesah tak karuan, sesekali ia menggigit bibir bawahnya saat tak kuasa membendung desahannya.
"Ternyata masih bisa dipakai " ucap Afgan sambil mengelap sudut bibirnya akibat cairan yang keluar dari milik istrinya.
Afgan melepas pakaiannya yang hanya memakai celana pendek saja.
Yoona tahu maksud suaminya. " pelan pelan Yang.. Jangan kasar kasar milikku masih sakit " ucap Yoona memperingati suaminya.
Dan akhirnya mereka berdua menunaikan ibadah mereka hingga menjelang siang.. Mandi yang memerlukan waktu singkat ini berubah menjadi dua jam lebih saat pasangan pengantin yang terbilang masih baru ini menyatukan tubuh mereka.
Yoona keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang pendeknya hanya setengah pahanya.
Satu handuk kecil ia lilitkan di kepala yang rambutnya basah.
Ia mengambil pakaiannya di dalam lemari. Ia melepas lilitan handuk yang ada ditubuhnya perlahan ia membuka handuknya.
Secepat kilat ia berbalik badan saat tangan besar menarik lengannya.
Ia mendongak keatas saat melihat pakaian berjas yang ada didepan matanya sekarang.
Bukan!! Bukan Afgan tetapi Marchel. Ia membelalakkan matanya saat melihat Marchel menyeringai, refleks ia menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
Oke.. Terus dukung author yakk
__ADS_1