SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 33~TELAH TIADA


__ADS_3


HELLO!!! READERS TERCINTA.... SEMANGAT BACA CERITAKU YAA.... SEMOGA MENGHIBUR KEGABUTAN KALIAN😊😉.


OH IYA... JANGAN LUPA LIKE👍🏼, KOMEN, SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN dan JANGAN LUPA DUKUNG CERITA INI SEBANYAK² NYA😁😁.


...*****...


"Yoona... Nak... Ya ampun... Apa yang terjadi" jerit Tanti Mama Marchel, ia menghampiri Yoona dan Marchel yang tergeletak di lantai.


Marchel sudah tak sadarkan diri, Yoona yang berada di atasnya masih sedikit berkutik sambil memegangi perutnya.


"Ma. Mah... Tolong.... Anakku... Hakh... Anakku Mah... " ucap lirih Yoona sambil meremas bajunya bagian perut.


Mama dan Papa Marchel melihat Yoona sudah lemas  menahan rasa sakitnya.


"Pah... Darah.." Mama melihat disela kedua kaki Yoona yang mengeluarkan banyak  darah.


"Cepat Mah.. Kita bawa mereka kerumah sakit " ucap Papa Marchel.


Papa Marchel membopong tubuh tak berdaya Yoona, ia sudah menyuruh sopir dan penjaga untuk memapah tubuh Marchel.


Yoona dan Marchel dilarikan ke Rumah Sakit terdekat, Mereka sudah tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi Pah..." Ucap Afgan  sambil berlari menghampiri Papa dan Mama Marchel, tak lupa Mama Afgan juga ikut serta.


"Apa yang terjadi Mas.." ucap Hermin dengan muka cemasnya.


Sedikit hening keadaan disana hingga dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Dengan keluarga Ibu Yoona..." tanya Dokter tersebut.


"Iya dok.. Saya suaminya" sahut Afgan


"Ibu Yoona telah terselamatkan Pak... " ucap Dokter tersebut terputus oleh Afgan.


"Syukurlah..." ucap Afgan lega sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Ia merasa sangat bersyukur istrinya selamat, tapi tidak, dokter tersebut masih belum selesai berucap.


"Ibu Yoona telah terselamatkan pak... Hanya saja... " ucap Dokter terputus


"Hanya apa Dok...." sahut Afgan lagi, ia benar benar khawatir dengan keadaan istri juga janin nya yang sedang berada di dalam ruangan tersebut.


"Maaf sebelumnya saya memberikan kabar buruk ini" ucap Dokter tersebut.


"Kabar apa Dok.. Cepat jelaskan" teriak Afgan


"Afgan... Tenang nak.. Ini rumah Sakit" Papa mencoba menenangkan Afgan anaknya.


"Maaf... Saya tidak bisa menyelamatkan janin nya" ucap lirih dokter tersebut.


jedyaararrrrr

__ADS_1


Bagai tersambar petir Afgan mematung menatap dokter yang ada didepannya, hatinya bagai tertusuk benda tajam hingga sampai  bagian terdalam.


"Hakh... Apa... Anakku... Tidak... Itu tidak mungkin, jangan menyampaikan berita bodoh itu,  ITU TIDAK MUNGKIN" jerit Afgan, ia menarik kerah kemeja dokter tersebut.


"Anda jangan berbohong... Itu tidak mungkin anda pasti bohong... Iya kan!!" tegas Afgan sambil menatap tajam dokter laki laki yang ada dihadapannya. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah dan rasa sedihnya


"Afgan... Afgan hentikan nak.. Tolong jangan begini, ini rumah sakit" Papa mencoba melerai amarah sang putra.


Afgan melepas kasar kerah Dokter tersebut dan menatap tajam Papa nya.


"Puas kau.... Puas kau Pah... Hah!!! Setelah menghancurkan hidup Mama kau juga telah merusak kebahagiaan ku,, Papa macam apa kau hingga tidak bisa melindungi kebahagiaan anaknya sendiri. Hah!!!" ucapnya pada Papa.


"Sayang... Nak.. Tolong tenang... Tenangkan dirimu nak.." sahut Mama nya sambil memegang lengan Afgan.


Afgan menatap Mamanya seakan pandangannya menjadi lemah, ia sudah berurai air mata, lututnya terasa lemas ia morosot kelantai bersimpuh kedua tangannya menutupi wajahnya.


"Hiks... Kenapa ini terjadi... Kenapa ini terjadi padaku Mah...kenapa!!" ucapnya sambil berurai air mata, suaranya sedikit tak terdengar karena ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Yang kuat Nak.... Ini berat bagimu tapi ini lebih sulit bagi Yoona." ucap lirih Mama memeluk Afgan yang sedang terpuruk sambil mengusap punggung Afgan.


Afgan membuka kedua tangannya dan ia mendongak menatap sang Mama.


Mama menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul setelah melepas pelukannya, Afgan beranjak bangun dan menatap Istrinya yang nampak dari sela pintu yang terbuat dari kaca.


Afgan membuka perlahan pintu tersebut, ia menatap tubuh istrinya berbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Sesekali ia mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya.


"Hiks... Hiks... Maafkan Daddy nak... Maafkan Daddy..."


******


Marchel menggercapkan Matanya ia memegang pelipisnya yang terasa berdenyut bisa ia rasakan sebuah kain perban melingkar di kepalanya.


"Yoona.... Yoona... " ia berucap memanggil nama Yoona, yang ia ingat hanyalah saat ia menarik paksa istri Siri nya itu.


"Mamah... Di mana Yoona" ucapnya setelah melihat pintu terbuka dan memperlihatkan sang Mama yang datang bersama dengan Papa.


Dilihat Mamanya sedang menahan tangis sambil mengusap air matanya.


"Mamah... Dimana Yoona!!! aku tanya kenapa pada diem hah!!!" Marchel sedikit membentak dengan suara lemahnya.


"Chel... Apa yang kau lakukan nak... Kau telah menghilangkan nyawa seorang anak" ucap lirih Mama terisak.


"A.apa.... Anaknya Yoona.... " ucapnya


"Iya... YOONA KEGUGURAN GARA GARA KAMU... PUAS KAMU HAH!!! APA KAMU YANG LIHAT DARI ISTRI ORANG LAIN,, APA LAGI DIA ISTRI ADIKMU... DIA ADIK IPARMU NAK... ADIK IPARMU!!!" bentak Mama kepada Marchel.


'Aapa yang aku lakukan..... Yoona pasti tidak akan memaafkanku...' batinnya


"Mamah... Aku tidak bermaksud seperti itu Mah... Tolong maafkan aku.." ucapnya sambil memegangi tangan Mama nya.


"Tidak usah minta maaf padaku... Minta maaflah kepada Yoona " tegas Mama.

__ADS_1


Sang Papa hanya melihat drama anak dan ibu itu..


Ia lalu keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ruangan menantunya.


Ia melihat menantunya yang masih tak sadarkan diri. Dirinya meneteskan air matanya, ia terpukul setelah sekian lama ia menantikan seorang cucu tetapi Allah berkehendak lain dengan mengambilnya sebelum ia keluar dari perut sang ibunda dan merasakan pernafasan pertamanya di dunia.


"Pak... Apa yang terjadi dengan anak saya" suara besannya mengagetkan Dendi yang termenung menatap anak dan menantunya di dalam ruangan.


"Pak... Apa kabar.." Dendi mencoba berbasa basi dengan orang tua Yoona.


Ibu Yoona menatap sekilas kedalam ruangan yang ada di belakang besannya di sela sela kaca.


Ia menerobos besannya dan membuka pintu ruangan tersebut.


*******


"Nak... Mau kemana sayang..."


"Mommy... Aku harus pergi... Jangan mencari ku... Ya.. Jaga diri baik baik ya Mommy... Jangan menangis nanti Daddy juga sedih" ucap seorang anak laki laki  imut yang ada di depan Yoona.


"Tidak sayang... Jangan tinggalkan Mommy nak.. Jangan pergi.. Jangan pergi dari Mommy dan Daddy.." cegah Yoona sambil terisak ia memeluk erat tubuh mungil anak tersebut.


Perlahan tubuh anak itu menjadi transparan dan menghilang.


"TIIIDAAAAKKKK...." teriak Yoona.


#####


Yoona membelalakkan Matanya, nafasnya memburu jantungnya berdetak cepat.


"Sayang.... Kamu sudah sadar.." ucap suaminya sambil mengusap keringat Yoona yang ada di dahinya.


"Afgan... Anak kita..." ucapnya sambil memegangi perutnya, ia merasakan ada yang aneh ia sedikit menyangga tubuhnya dengan kedua siku nya dan melihat perutnya yang sebelumnya gendut menjadi ramping.


"Apa yang terjadi... Dimana anakku... Anakku... Hikss... Sayang... Anak kita... Hiks.." ucapnya sambil menangis tersedu sedu.


Afgan mencoba memberi pelukan hangatnya untuk sang istri.


"Ssttt!!! Kamu yang sabar Sayang... Kamu harus kuat Yah... Demi anak Kita yang sudah tenang diatas sana" ucap Afgan pelan supaya tidak menyakiti hati istrinya


"Hiks... Anakku..." ucap Yoona sambil menangis di dada suaminya.


Ibunya sedari tadi melihat anaknya yang sedang terpuruk oleh keadaan, dan cucu yang ia idam²kan sekarang telah tiada.


.


..


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2