SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 08~MARCHEL BRENGSEK!!!


__ADS_3


"duduk " titah Marchel saat ia melihat Yoona mematung ditempat.


Yoona bergegas duduk dihadapan Marchel.


"Saya ada perlu dengan bapak Marchel" ucap Yoona menunduk


" ada perlu apa sehingga kau repot repot kesini " ucap Marchel menyeringai.


Yoona mendongak lalu menyerahkan map coklat itu kepada Marchel.


"Apa ini."ucap Marchel menolak balikkan map yang ada ditangannya.


"Saya ingin mengundurkan diri pak, saya akan membantu calon suami saya membuka restorannya maaf kalau kinerja saya  kurang bagus selama ini " ucap Yoona menundukkan kepala.


Marchel menggenggam erat map coklat tersebut saat mendengar Yoona mengucapkan 'calon suami',  hingga ujung map tersebut kusut.


"Kenapa mengundurkan diri, apa gajinya kurang" tanya Marchel


"Bukan begitu pak, saya sudah memantapkan diri untuk membantu usaha calon suami saya." jawab Yoona


"Oh begitu ya.. Ya sudah tidak apa apa" ucap Marchel senyum smrik.


"Kalau begitu saya akan membereskan barang barang saya dulu, saya pamit undur diri " ucap Yoona berdiri lalu menunduk kepalanya.


"Silahkan " Marchel mempersilahkan Yoona keluar ruangan.


Saat Yoona memegang gagang pintu, Marchel sudah lebih dulu  memencet remot pengunci  pintu, Yoona kesusahan membuka pintu, ia berbalik menghadap Marchel.


"Pak.. Pintunya dikunci?" tanya Yoona bingung


Marchel mendekati Yoona, semakin dekat hingga tidak ada jarak diantaranya Yoona tidak bisa mundur lagi, karena punggungnya sudah menempel di pintu.


"pak.. apa yang bapak lakukan."


****


diluar Ruangan Rio melihat bayangan Yoona dibalik pintu, ia berpikir apa yang mereka lakukan disana, sehingga bayangan tubuh Yoona menempel sempurna di pintu yang terbuat dari kaca tersebut.


Ia menghiraukan tetapi membersihkan lantai,


****


Marchel meraih pinggang Yoona mendorongnya berbalik hingga tubuh Yoona menyandar meja kerja Marchel


"A.apa yang bapak lakukan " tanya Yoona sambil berusaha melepaskan tangan yang ada dipinggangnya


"Ck! Kau tidak bisa lari dariku" ucap Marchel menyeringai, semakin menyandarkan tubuh Yoona hingga berbaring sempurna


"pak.. Jangan macam macam " ucap Yoona mulai memberontak, benar ia dulu sering latihan tinju dengan ayahnya tetapi kalau keadaannya seperti ini, ia tidak bisa berbuat apa apa, bahkan tenaganya jauh dari tenaga Marchel.


"Pak.. Lepasin saya " ucap Yoona mulai menangis tersedu sedu.


****


Rio mendengar suara tangisan didalam ruangan tersebut, ia jadi khawatir dengan Yoona, karena sedari Yoona masuk kerja, ia tahu bahwa Yoona sedang tidak tenang diganggu oleh atasannya.


semakin lama tangisan itu menjadi sangat jelas didengarnya, sayangnya ruangan sang atasan tersebut tidak kedap suara.

__ADS_1


Rio berjalan menuju lobi hotel, ia berniat memberitahu resepsionis, ia ingin memberitahu Afgan bahwa Yoona sedang dalam bahaya, karena Rio tidak memiliki nomor ponselnya Afgan jadi ia berniat memberitahu resepsionis.


"mbak. punya nomornya mas Afgan gak.?" tanya Rio dengan mbak resepsionis dengan wajah gusar.


"sebentar saya cek dulu." ucap mbak resepsionis lalu mengecek komputer, hingga menyita waktu yang lumayan lama.


"mbak cepetan dong, kalau gak ada hubungi hubungi pak Dendi " ucap Rio sedikit membentak


"iya.." mbak resepsionis tersebut menelpon pak Dendi pemilik hotel tersebut.


*****


"Ssstt!! Jangan menangis, kalau kau menangis aku gak akan janji buat lepasin kamu " ucap Marchel menyeringai, benar saja suara Yoona sedang menangis mempengaruhi pikiran liarnya.


Yoona semakin terisak saat tangan Marchel meraba dimana mana bahkan tangan tersebut sudah membuka kancing kemejanya, ia berharap ada yang menolongnya.


"Hihihiiikss.. Lepasin saya tolong.. hiks...." ucap Yoona sambil terisak, bahkan separuh kancing kemejanya sudah terlepas, terlihatlah tan top putih yang ia pakai, bahkan Rambutnya berantakan karena ulah Marchel, ia memberontak tetapi tidak bisa


"Sttt!! " ucap Marchel, ia semakin tak terkendalikan, tangannya semakin merajalela.


"Aaa.. Lepasin aku " teriak Yoona, Marchel semakin menjadi jadi ia langsung menyambar bibir Yoona, Yoona berusaha memalingkan kepalanya,


'Ya tuhan.. apa yang akan terjadi padaku ' batin Yoona menangis.


****


ditempat Rio, ia melihat Afgan sedang tergesa gesa masuk kedalam hotel.


"mas Afgan!? " tanya Rio


"iya. ada apa " jawab Afgan, Rio bisa melihat wajah cemas Afgan, ia memberitahu bahwa Yoona sedang ada di ruangan Atasannya.


Afgan bergegas ke ruangan Marchel, ia menaiki lift ia sangat cemas, kenapa lift tersebut belum juga sampai, gerutunya.


Ia melihat sekelilingnya, ia melihat kursi di salah satu ruangan kosong, ia berlari membenturkan kursi tersebut hingga pintu yang terbuat dari kaca tersebut retak, ia membenturkan nya lagi hingga kaca tersebut pecah berkeping keping.


Pyaaaarrr.. suara kaca pecah.


Entah tuhan masih berpihak kepada Yoona, pintu yang terbuat dari kaca itu pecah berkeping keping akibat hantaman keras dari benda yang terbuat dari besi. Sayangnya Yoona sudah syok dengan apa yang ia alami barusan, Hingga ia tak sadarkan diri.


"Brengsek kau.. " teriak Afgan lalu melihat calon istrinya berbaring diatas meja berada dibawah tubuh Marchel ,lalu berlari meraih kerah belakang jas Marchel


Bughh.. Bogem mentah di layangkan ke wajah sisi kiri milik Marchel.


Benar dugaan Afgan, bahwa Marchel akan berbuat seperti itu bahkan bisa berbuat lebih kalau ia terlambat sedikit saja, setiap Yoona mengeluh tentang Marchel ia menduga bahwa Marchel telah menaruh hati pada calon istrinya, ia menyesal telah memaksa Yoona untuk tetap bertahan hingga sampai satu bulan lamanya.


Bughh.. Kembali melayangkan bogemnya ke perut Marchel, ia menghajar Marchel  membabi buta hingga Marchel tak sadarkan diri. Ia masih ingin melampiaskan kekesalannya pada Marchel saat Marchel melecehkan calon istrinya. bahkan papa Afgan juga sampai disana, karena mbak resepsionis  menelpon saat ia mendengar keributan di ruangan bosnya.


"Cukup Gan.." ucap papa sambil memegang Afgan yang sudah tersulut amarah.


"Gan..Afgan.. Cukup, lihatlah istrimu dia tak sadarkan diri." ucap papa berhasil membuat Afgan berhenti dan memandang Yoona yang masih tergeletak di atas meja, bahkan bajunya sudah berantakan dan hampir terlepas dari tubuh Yoona.


Afgan menghampiri Yoona, ia membenarkan pakaian Yoona dan tanpa pamit membopong tubuh tak berdaya milik Yoona.


Ia membawa Yoona ke apartemennya, membaringkan tubuh Yoona dikamarnya, ia menceritakan semuanya kepada Mama.


Mama Afgan terharu, ia marah kepada Marchel, ia berpesan kepada Afgan agar selalu menjaga Yoona sebaik mungkin, ia yakin bahwa Marchel tidak akan diam saja.


Afgan sedang berbaring disamping tubuh tak berdaya milik Yoona, setelah ia memanggil dokter dan Setelah dokter memeriksa Yoona.

__ADS_1


Afgan memandangi wajah Yoona, ia memegang pipi tirus Yoona, kemudian tak terasa ia mulai terisak dalam diam.


lama kelamaan ia tidak bisa membendung air matanya yang mulai deras, hingga ia menangis tersedu sedu.


Yoona menggercapkan matanya, melihat Afgan berbaring dengan menyangga kepalanya lalu Yoona memegang pipi Afgan.


"jangan menangis.." ucap lirih Yoona sambil memegang pipi Afgan.


"maafkan aku, " ucap Yoona juga mulai terisak, sambil menangis menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


"ssstt! kamu gak salah, maafkan aku " Afgan memeluk tubuh Yoona, mereka berdua nangis tersedu sedu di kamar, bahkan mama Afgan juga mendengarnya miris sekali nasib menantunya, untung Afgan tepat waktu, jika saja Afgan terlambat sedikit saja, maka ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Yoona.


"sudah cukup, aku gak sanggup kalau kamu menangis seperti ini." ucap Afgan sambil mengelus punggung Yoona


Yoona semakin menjadi jadi ia menangis dengan keras di dada bidang Afgan.


"maafkan aku Gan.. aku tidak bisa menjaga diri " ucapnya sambil menangis.


"ssstt!! jangan nangis. " ucap Afgan juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya hingga air matanya terus mengalir.


"dimana ?" tanya Afgan ambigu, Yoona yang terisak di dada Afgan langsung mendongak


"apanya," Yoona load


"dimana Marchel menyentuh mu " ucap Afgan


"dimana mana " ucap Yoona saat mengingat kejadian tadi, ia mulai terisak lagi.


"sstt! jangan menangis, aku akan menghilangkan sentuhannya." Afgan


"disini " Yoona menunjuk lengannya, " disini " kemudian Yoona menunjuk kedua pipinya " dan.." ucap Yoona terpotong dengan Afgan


mengecup kening Yoona, dilanjut kedua pipinya dan mengecup sekilas bibir Yoona


"aku tahu semuanya. " kemudian ia mengecup punggung tangan Yoona, lalu beralih di pundak Yoona.


"Gan.. udah geli " ucap Yoona


"katanya semuanya " ucap Afgan.


"iya.. tetapi gak  yang dalem dalem juga Gan.. geli udah Ah." ucap Yoona sambil menahan geli akibat ulah Afgan.


"aku hanya melakukan yang bisa aku gapai, setelah menikah nanti aku akan bersihin semuanya " ucap Afgan sambil memegang pipi Yoona.


"sudah ya.. sudah tak berbekas." ucap Yoona


"iya.. tidur gih, aku mau tidur di ruang tamu " ucap Afgan, lalu beranjak dari ranjang.


"hmm.." Yoona mengangguk.


.


.


.


...


Bersambung...

__ADS_1


.


.****


__ADS_2