SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 29~ CUEK!!


__ADS_3


RUMAH SAKIT***


Sampai di rumah sakit, Yoona keluar duluan dari mobil saat Afgan akan memarkirkannya dihalaman rumah sakit.


Rumah sakit tersebut adalah tempat sahabatnya bekerja, kebetulan sahabatnya Tania itu, sudah menjadi dokter Kandungan disana.


Yoona membuat janji dengan Dokter Tania Mehra. Afgan baru saja masuk lobby ia menghampiri istrinya.


"Sudah?? Ayo!!" ajak Yoona, ia menggandeng tangan suaminya, entah apa maksudnya diwaktu tertentu ia sangat nyaman dekat dengan suaminya dan dilain waktu saat suaminya mendekat saja ia langsung pengen muntah.


Afgan menuruti kemana istrinya berjalan hingga sampailah mereka di depan ruangan yang banyak antrian ibu ibu hamil, Afgan mengerutkan dahinya ia menemui sebuah kejanggalan tetapi tidak di hiraukan nya. Ia membantu istrinya duduk di kursi tunggu dan ia disebelahnya, matanya terus memandang kanan, kiri, dan belakang.


"Yang..." Afgan masih bingung, Yoona melihat suaminya yang bingung.


"Mau mastiin aja Yang.." ujar Yoona sambil mengelus perut ratanya.


"Yang.." lirih Afgan ia refleks memegang perutnya masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Ihh... Gak peka ya.." ketus Yoona membuat Afgan seketika sadar dan memandang sekelilingnya terdapat banyak ibu ibu hamil, ia menoleh menatap istrinya ia tersenyum haru dan memeluk tubuh istrinya.


"Yang... A-aku bakal jadi ayah.." ucap Afgan sambil menitikkan air matanya


"Heeh.." Yoona menggangguk dalam dekapan suaminya. "Eh Yang... Kenapa nangis sih.. Ini belum tentu kok, kita mastiin dulu ini bener apa nggak" jelas Yoona ia mengendurkan dekapan Afgan karena merasa tidak enak ditempat umum seperti ini.


"Tapi aku gak bisa bohong, aku bahagia Yang " Afgan memegang tangan Istrinya sambil tersenyum dan menitikkan air mata.


Yoona mengusap air mata di pipi Afgan " kamu gak malu ditempat umum nangis" ujar Yoona.


Afgan menghapus air matanya ia tersenyum kecut dan mencium kening istrinya.


*****


Setelah dua jam lamanya mereka mengantri akhirnya nama Yoona di panggil oleh perawat.


"Dengan ibu Yoona Azzura.." panggil perawat tersebut


Yoona berdiri dan memasuki ruangan tersebut dan juga di ikuti oleh Afgan.


"Hai... Yoona... Kamu apa kabar" ucap Tania histeris dan memeluk sahabatnya saat Yoona memasuki ruangannya.


"Lu udah kayak gak ketemu gue bertahun tahun Tan." ujar Yoona yang sesak akibat dekapan Tania yang erat, Afgan yang melihat interaksi kedua perempuan itu hanya tersenyum simpul.


Tania mempersilahkan Yoona dan Afgan duduk di depannya.


"Ekhm.. Ibu Yoona ada keluhan apa selama akhir akhir ini " tanya Tania, ia sedikit canggung padahal kalau di kost an mereka bicara blak-blakan.


"Saya sering lelah dok, akhir akhir ini saya sering muntah di pagi hari dan juga sering pusing." jawab Yoona


"Kapan ibu terakhir datang bulan " tanya dokter Tania


"Em.. Kalau itu... Saya lupa" jawab Yoona enteng sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Pe'a lu.. Seharusnya lu catet tuh tanggal lu pas datang bulan... Ahhh gak habis fikir gue " Tania, ia lupa kalau sekarang ia berada dirumah sakit, bahkan perawat yang membantunya terperangah kepadanya saat dokternya berinteraksi dengan pasien terlalu santai.


"Ya.. Maaf aku gak kepikiran sampai situ" ucap Yoona lirih sambil memasang wajah imutnya

__ADS_1


"Ya sudah, mari saya periksa " ia mencoba menetralkan kemarahannya kepada sahabatnya itu.


Yoona berdiri di ikuti oleh suaminya, Afgan membantu Yoona naik keranjang kecil yang hanya muat satu orang itu.


"Misi ya.." Tania meminta izin, ia membuka baju Yoona dan memperlihatkan perut rata Yoona.


Tania mengoleskan gel dan meng-Usg terlihat di layar hitam putih itu terdapat gambar seperti biji kacang, entah apa itu, kedua pasangan itu hanya melihatnya saja.


Tania tersenyum dan menurunkan baju milik Yoona kembali setelah ia membersihkan sisa gel yang ada di perut Yoona.


"Selamat pak.. Bu.. Anda akan segera menjadi orang tua, usia kandungan ibu Yoona sudah memasuki minggu ke lima" jelas Tania kepada pasangan suami istri itu.


Yoona tersenyum ia melihat Afgan dengan wajah bahagia begitu juga Afgan juga bahagia ia membantu istrinya duduk dan menurunkannya dari ranjang.


Mereka berjalan menuju tempat duduknya semula.


"Saya kasih resep vitamin, silahkan di tebus di apotek " Tania menyodorkan kertas putih itu kepada Afgan.


"Terima kasih Dok.." ujar mereka bersamaan, sambil menjabat tangan Dokter Tania


"Sama sama.. selamat untuk kalian berdua " jawab Tania sambil menerima jabatan tangan pasangan suami istri itu.


*****


"Yaang... Aku pengen ke restoran " rengek Yoona saat di mobil, Afgan tidak memperbolehkan istrinya datang ke restoran karena kalau sudah sampai sana, pasti ada aja kesibukan yang buat buat oleh istrinya, ia tidak mau mengambil resiko istrinya yang sedang hamil muda


"Enggak Yang... Kita pulang aja Ya.." Afgan mencoba bernegosiasi dengan istrinya.


"Bentaran doang Yang... Yahh " rengek Yoona, ia memeluk lengan kekar milik suaminya


Afgan melajukan mobilnya tanpa berfikir kalau ucapannya tadi menyinggung istrinya ia dengan santai nya menikmati perjalanan.


......


Setelah kurang lebih setengah jam lamanya perjalanan mereka sampai di kawasan apartemen Afgan. Afgan memarkirkan mobilnya.


Seperti biasa Afgan selalu membantu istrinya melepas sabuk pengaman tetapi, kini saat ia membantu istrinya melepaskan ikatan sabuk tersebut, dengan cepat Yoona melepaskan sendiri dan keluar dari mobil.


Afgan masih mematung saat istrinya berjalan duluan, ia segera keluar dari mobil dan mengejar istrinya yang akan memasuki lift.


"BERHENTI!!!" tegas Yoona mencegat Afgan akan memasuki lift bersamanya


Ia memencet tombol angka 20 dan saat pintu lift perlahan menutup.


"Yang..." Afgan mengayunkan tangannya kedepan ingin memasuki lift bersama istrinya tetapi melihat tatapan tajam milik istrinya, ia jadi mengurungkan niatnya.


Lift terbuka Yoona berjalan menuju apartemen...


"MAMA..." panggil Yoona kepada Mama mertuanya, ia memeluk tubuh Mama nya.


"Bener kata Mama.. Mama akan segera menjadi Oma.." ujar Yoona sambil mendekap tubuh Mama mertuanya.


"Selamat nak... Kamu hamil... Dan terima kasih.." ujar Mama sambil mengelus punggung menantunya.


"Sini Mama bantu,.. kamu jangan cape cape ya.. Di usia kandunganmu ini, masih rentan " ujar Mama sambil mengelus perut rata menantunya.


"Baik mah.." ia melemparkan senyum manisnya, Afgan yang baru datang pun merasa di cuek kan okeh kedua wanita tersebut.

__ADS_1


######


Malam hari datang...


Yoona sedang makan bersama Mama mertuanya, Afgan?? Ia sore hari tadi pamit ke restorannya, karena Rafa dan Ben membutuhkan bala bantuan saat restoran Afgan Mulai ramai.


"Kamu harus sehat sehat ya.. Makan yang banyak itu baik buat kamu dan dedek nya" ujar Mama sambil mengambil lauk pauk dan menaruhnya di piring Yoona.


"Baik mah.... Aku akan selalu menjaga cucu Mama.." jawab Yoona.


Disaat semua bumil pada umumnya sering gak nafsu makan, lain lagi dengan Yoona ia tambah tidak segan segan memakan semua yang tersaji di meja makan hingga perutnya tidak muat.


"Biar aku bantu mah.." Yoona membantu membereskan meja makan setelah mereka makan tadi.


Setelah selesai membereskan meja makan, Yoona mendudukkan pantatnya di sofa, ia menyandarkan sepenuhnya tubuhnya hingga kepalanya mendongak keatas, ia memejamkan matanya.


"Aahhhh.... Ini sangat nyaman " gumam Yoona sambil melentangkan kedua tangannya, Mama mertuanya tadi ke kamar duluan sehingga ia gabut dan akhirnya jadi seperti ini.


Cup.. Sebuah kecupan mengenai bibir membuat Yoona tersadar dan membuka mata lebar lebar, ia melihat kepala Afgan sudah berada di atas kepalanya.


"Capek ya.." tanya Afgan sambil tersenyum


"Sedikit " jawab singkat Yoona ia masih kesal dengan suaminya tadi tetapi ia tidak melupakan kewajibannya, ia beranjak menuju dapur dan membuatkan kopi untuk suaminya, Afgan mengikuti istrinya dari belakang, mengikuti Yoona kesana kemari mengambil gelas dan juga mengambil gula bubuk.


Saat Yoona ingin menyeduh air panas, tangan Afgan mengelus perut Yoona dari belakang, dan menciumi punggung istrinya.


Setelah Yoona selesai menyeduh kopi ia melepas paksa tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


Ia menaruh panci di tempatnya dan meninggalkan Afgan sendirian di dapur.


"Yang.." Afgan mengejar istrinya yang terlihat merajuk, ia mengejarnya hingga sampai di kamarnya.


Ia tidak melihat istrinya tetapi ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, ia tersenyum dan melepas jaketnya di ikuti bajunya hingga memperlihatkan tubuh nya yang setengah telanjang, ia membuka pintu kamar mandi memperlihatkan istrinya sedang menyiapkan air hangat untuknya.


Afgan memeluk tubuh istrinya dari belakang ia mengecup pipi Istrinya.


"Makasih Sayang.." ujarnya.


"Iya.." lagi lagi, Istrinya itu hanya berucap seperlunya lalu melepas dekapan suaminya dan meninggalkannya sendirian, padahal Afgan ingin di manja oleh istrinya tetapi istrinya sedang merajuk.


Afgan bergegas mandi dan setelah selesai ia keluar dengan handuk melilit di pinggangnya, ia menghampiri istrinya yang sedang menata tempat tidur, ia memeluk istrinya kembali, lagi lagi istrinya tidak merespon malah melepas paksa dekapannya.


"Ganti baju sana.." akhirnya istrinya berucap juga, ia melaksanakan perintah istrinya.


setelah ganti baju Afgan berjalan menuju istrinya yang sudah berbaring di ranjangnya, ia menaikkan satu kakinya ke ranjang tetapi istrinya berucap.


" siapa yang suruh kamu tidur di sini " ketus Yoona sambil melemparkan bantal di muka Afgan.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2