
Yoona menghampiri Afgan saat Afgan menyuruhnya mendekat, ia mencondongkan kepalanya mendekat agar supaya Afgan bicara lirih bisa ia dengarkan.
Saat dirasa Yoona dalam jangkauannya Afgan memberikan kecupan di pipi Yoona.
" Eh! " kaget Yoona bahkan Yoona menatap tajam tubuh yang tengah berbaring dibawahnya.
" Duduk " titah Afgan pelan sambil menepuk ranjang tempatnya berbaring.
Yoona berfikir dulu sebelum bertindak " enggak ah! Nanti gak muat" ucapnya
" enggak... Ini kuat kok " Afgan " sini dong" panggil Afgan.
Yoona segera mendekat dan mendudukkan pantatnya di ranjang tempat suaminya berbaring. Yoona tidak tahan melihat luka luka di wajah suaminya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit menindih suaminya dari samping. Lalu di kecupilah bekas luka yang belum kering itu.
" semoga cepat sembuh " kekehnya saat melihat Afgan menikmati kecupannya.
" Sudah mendingan kan!!" tanya Yoona
"Belum.. Ini belum disentuh " ucap Afgan sambil menunjuk bibirnya.
" hah !! Kamu beneran gak papa.. Itu bibir kamu luka loh ! " Yoona
" gak papa kok. Biar cepat sembuh " jawab Afgan
Yoona tersenyum pada suaminya lalu ia mengecup sekilas bibir Afgan, Yoona hendak melepas tautannya tetapi tangan suaminya menahan pinggangnya.
Yoona tersentak saat Afgan membalas ciumannya dengan kasar bahkan Yoona sendiri tidak bisa mengimbangi suaminya.
" emmhh.. " Yoona memukul pelan dada Afgan saat ia sudah kehabisan stok oksigennya.
Afgan melepaskan tautannya lalu ia mengelap bibir basah Yoona dengan ibu jarinya.
" kamu sakitnya bohongan Ya.. " tanya Yoona
" bohongan gimana nya..?? Aku sakit beneran tau Yang.." Afgan
" kalau sakit beneran kamu gak mungkin bisa kayak gitu.." ketus Yoona sambil menatap tajam muka Afgan
"Entahlah, saat kamu datang tadi, badanku agak segaran tuh " ucap Yoona sambil menatap manik mata milik Istrinya
Yoona terenyuh matanya berkaca kaca tak sadar air matanya berlinang di pipi tirusnya. Cepat cepat ia menghapus air matanya sebelum disadari oleh suaminya.
__ADS_1
" kenapa hm?" tanya Afgan saat menyadari istrinya menangis
" hiks.. Terima kasih sudah kembali " ucap Yoona dengan isakkannya.
"Ssstt!! Aku sudah ada disampingmu, jangan menangis " ucap Afgan sambil menghapus air mata istrinya.
Yoona berhambur memeluk suaminya, ia semakin terisak didalam dekapan suaminya, Rindunya yang yang sudah berminggu minggu kini terobati. Afgan mengelus pundak Yoona sesekali ia juga mengecup puncak kepala istrinya, rasanya rindu yang kian mendera tidak cukup jika hanya memeluknya saja, tapi ia sadar keadaannya masih belum pulih benar. Ia menahannya sampai ia benar benar bisa memanjakan istrinya lagi.
" Sayang.. Maafkan aku " lirih Yoona tetapi masih dengar oleh Afgan
" Maaf kenapa!! Kamu tidak salah, seharusnya aku yang salah, waktu itu aku tidak mengikuti kemauanmu, maaf ya istriku " ucap Afgan sambil menepuk nepuk punggung Yoona.
Yoona menangis sesegukan seharusnya ia yang harus minta maaf, seharusnya ia yang salah, tetapi apakah salah jika ia melakukan itu hanya untuk suaminya bertahan, dan benar saja sekarang suaminya sudah siuman dari komanya yang hampir satu bulan itu.
" sudah jangan menangis, aku jadi ikut sedih " ucap Afgan yang mendengar suara tangisan istrinya begitu menyayat hatinya membuat ia bersalah telah meninggalkan istri tercintanya.
Di luar ruangan seseorang sedang mengintip kedua pasangan suami istri itu melalui jendela kaca.
"Chell.. " panggil Mama Afgan
" iya tan.. " jawab Marchel tanpa menoleh ke orang yang sedang mengajaknya bicara
'Haiiss.. ' batinnya saat melihat Yoona dengan nyamannya di pelukan Afgan.
Marchel POV..
menghampiri Yoona yang sedang duduk bersama Bunda nya. Mereka terlihat sangat akrab padahal mereka baru saling memahami situasi.
aaku melihat senyum indah istriku.
"Hah! Hatiku tidak bisa berbohong tentang perasaan ini" ucapnya pelan.
Saat aku ingin melenggang pergi, Yoona memanggilku
"Pak.. Eh maksudnya Chel " ucap Yoona sedikit canggung.
aku membalikkan badannya " iya.. " ucapnya pelan, tidak bisa dipungkiri didalam hatiku sekarang ada sebongkah bunga yang bermekaran.
Yoona menghampiriku, senyum manis Yoona merekah saat berjalan mendekatiku membuatku jadi salah tingkah.
Yoona memegang tanganku, yang justru membuatku mendadak gugup jantungku serasa ingin melompat keluar dari tubuhku.
" Chel.... Hmm.. Kita jadi menemui Afgan kan " ucap Yoona dengan menampakkan wajah imutnya.
__ADS_1
"I-iya... " jawabku sedikit gugup
"Yey.. Asyikk " ucap Yoona sambil berjingkrak, aku yang melihat itu tersenyum simpul.
Setelah itu Yoona berjalan menuju lantai dua sambil bersenandung pelan tidak bisa dipungkiri hatinya begitu berbunga bunga saat Marchel menyetujui permintaannya.
Yoona sedang menyiapkan bajunya yang tadi ia bawa dari apartemen suaminya.
"Loh mau kemana?" tanyaku saat Yoona mengemasi beberapa pakaiannya
" loh.. Katanya tadi mau jenguk Afgan, kamu lupa "
'Duh aku mana bisa nolak kalau kayak gini imutnya istriku '
"Kamu kan masih sakit, nunggu kamu sembuh ya.." bujukku tetapi Yoona tetap kekeh ia bilang sakitnya sudah sembuh. Aku hanya ingin dia tidak tertekan denganku supaya pelan pelan Yoona bisa menerimaku. Akhirnya aku menyetujui permintaannya.
...✈✈✈✈✈...
Di pesawat istriku ini terlihat pucat aku khawatir sedari tadi dia hanya duduk diam disampingku tanpa bicara.
"Kamu baik kan?" tanyaku pelan saat Yoona menyandarkan bahunya di sandaran kursi, ia hanya mengangguk terlihat lesu wajahnya aku hanya memastikan dengan menyentuh dahinya dengan punggung tangan.
"Ya ampun sayang.. Kamu demam " ucapku sedikit terkejut, buru buru aku mengambil obatnya yang Sengaja aku bawa tadi.
Setelah minum obatnya Yoona tertidur bersandar di dekat jendela, wajah polosnya sangat manis tenang, seperti hilang sifat bar bar nya saat mata terbuka.
Aku mendekatkan diriku kepadanya lalu mengecup bibir mungil nya.
Ah!! Rasanya begitu manis aku ingin mencobanya kembali kukecup bibirnya lagi tapi tidak aku sedikit memberi luma*an kecil disana, sesekali Yoona mengaduh sedikit mengerang, tapi entah kenapa hatiku sangat sakit mendengar erangan istriku yang menyebut nama suaminya, apakah secinta itu Yoona kepada adik tiriku, apakah aku tidak ada sedikitpun dihatinya. Aku melepas langsung ciumanku.
Aku bersandar di sandaran kursi, sebentar lagi akan sampai tujuan.
.......
..._SINGAPORE_...
Dirumah sakit aku dan Yoona sekarang berada. Aku segera mencari informasi mengenai Afgan. Setelah aku dapat informasi aku berjalan dengan menggandeng tangan Yoona, Yoona tanpa respon ia mengikuti apapun apa yaang aku lakukan. Setibanya di ruangan ternyata Afgan sudah siuman, tapi kenapa hatiku menjadi tidak tenang melihat Afgan sudah siuman.
Yoona langsung melepas tanganku dan masuk kedalam ruangan tempat Afgan berada.
Menyaksikan interaksi Yoona dengan suaminya, hatiku berdetak kencang saat mereka berciuman dan terlihat Yoona sangat menikmati ciumannya. Aku pikir dengan tadi aku menggandeng tangannya dan dia tanpa respon, aku menyimpulkan bahwa ada secercah harapan untukku ada dihatinya , tapi nyatanya tidak. Aku lenggang pergi dari sana
Sebelum nanti aku tak terkendalikan.
__ADS_1
Marchel POV of.