SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 31 ~ MARCHEL POV


__ADS_3


Aku sedang duduk di kursi kebesaranku, mematut berkas berkas yang tergeletak di meja kerjaku, aku sangat menikmati profesiku sekarang, walau aku lulusan kedokteran tetapi aku lebih suka pekerjaanku sekarang, iya... Berkat Papaku sekarang aku berada disini.


Menurutku Papa sangatlah bodoh, bisa bisanya dia menelantarkan anak kandungnya "heh!! Dasar tua bangka"


Saat aku sedang fokus dengan kesibukan ku, tiba tiba pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang paruh baya, siapa lagi kalau bukan Papa tiriku ini.


"Ada apa pah.." aku bertanya kepadanya, karena memang ia sangat jarang kesini.


"Cepat persiapan dirimu, kau harus mewakiliku di Malaysia nanti, kita akan mengikuti seminar disana dan dapatkan tender besar disana " ucap tegas Papa kepadaku


"Oke!!! Aku akan kesana, Papa tidak usah khawatir, semuanya pasti akan beres, serahkan kepadaku " ucapku dengan percaya diri.k


"Bagus... Segera persiapkan segalanya" papa


"Baik"


*****


Aku sedang mempersiapkan diriku juga barang barang yang aku butuhkan disana, aku sangat antusias dengan ini , menurutku kesempatan ini tidak akan aku buang dengan sia sia. Kapan lagi aku bisa keliling luar negeri, bertemu dengan suasana baru dan juga orang orang baru. Mungkin disana nanti akan sedikit memakan waktu lama mengingat aku juga harus mengecek  hotel papa yang ada disana


Aku berangkat dengan diantar supir pribadiku ke Bandara.


Setelah satu setengah jam akhirnya mobil yang aku tumpangi sampai di di Bandara.


Aku keluar dari mobil dan menyeret koper di kedua tanganku, aku berjalan angkuh kedalam Bandara tersebut.


Aku menunggu keberangkatan pesawat yang aku tumpangi, sebentar lagi pesawat akan berangkat semua penumpang memasuki pesawat tersebut.


####


Aku menggercapkan mataku bangun dari tidurku setelah satu jam sampai di apartemen yang aku sewa disana. Sudah dua jam aku sampai di Malaysia.


"Akhhh... Yoonaa... Kau membuatku tersiksa" ucapku sedikit mengerang, pasalnya saat aku tertidur tadi, aku mengimpikan aku dan istri siriku sedang melakukan kegiatan bercinta, membuat tubuhku panas dan sesuatu dibawah sana sudah berdiri tegak, aku langsung menuju kamar mandi, dengan membawa ponselku.


Aku merenggangkan otot otot di tubuhku kadang tulang tulangku sampai berbunyi.


Aku duduk di bak mandi yang kosong  tanpa air, aku menaruh ponselku di sebelah ku dan menyandarkannya di dinding.


Aku memutar video dewasa dan memulai mengurut milikku saat sudah tak berbalut sehelai kain.


"Akkhh... Ohhh... Sshhhh.... " ini sangat menyiksaku aku seolah berfantasi  sedang bercinta dengan istri siriku.


Rasanya seperti nyata saat bayangan tubuh istriku begitu nyata apalagi kemarin lusa aku membawanya paksa dengan keadaan tubuhnya hanya berbalut  selimut tebalnya.


"Ahh... Emmhhh... Y-yoonaa.. Ohhh..." aku mempercepat pijatanku hingga sebentar lagi aku akan mencapai puncak.


"AKKHH..." eranganku melengking di setiap sudut ruang kamar mandi tersebut, tanganku kotor dengan cairan pelepasan ku.


Setelah kurang lebih setengah jam aku akhirnya sampai pada puncak, tubuhku yang telanjang sangat berkeringat, padahal hanya setengah jam dan itu hanya so*o  s*x, tidak bisa di pungkiri hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku sangat puas, bayang bayang *********** saat aku lihat dulu sangat mempengaruhi pikiranku, sangat indah padat dan sedikit berisi.

__ADS_1


Aku membersihkan diriku disana, setelah kurang lebih satu jam setengah aku berada dikamar mandi akhirnya aku selesai dengan urusanku.


...#####...


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Aku melewatinya di negara asing, setelah seminggu aku datang ke sini dulu aku langsung memenangkan dua tender besar di negara asia ini, Hotel Papa yang ada disini juga berkembang pesat seiring dengan berjalannya waktu, besok aku akan berangkat ke Indonesia rasanya sangat senang bahwa aku akan pulang ke tanah Air setelah lima bulan lamanya.


Rindu kepada Ibuku dan istriku sudah tak terbendung apalagi saat aku menelpon istriku itu selalu tidak diangkat, Ah membuatku semakin rindu saja.


Aku sekarang sudah berada di Hotel Papa tempat aku menginap selama berbulan bulan aku semangat dalam mem-packing baju baju ku, ditambah aku membawakan sebuah oleh oleh untuk istriku itu, aku rasa ini akan membuatnya senang.


Aku mengambil ponselku dan menoel kontak Istriku.


Tut


Tut


Tut


Sambungan terhubung, aku sangat senang istriku mengangkat telponku setelah sekian lamanya.


"Halo....." ucapku dengan telepon genggamku.


"Halo.... Sayang..." ucapku kembali.


Aku tidak mendengar suara apa apa diseberang sana, hanya ada suara hembusan angin yang aku dengar, dimana Yoona. Apakah Yoona baik baik saja, itu membuatku khawatir, hingga aku mendengar suara Yoona lirih sedikit mendesah.


Ahhh hatiku tidak pernah bohong sungguh sakit, sangat sakit mendengar wanita yang kita cintai sedang bercinta dengan suami nya.


Apa??? Kasihan.. siapa yang Yoona maksud itu, siapa yang sedang mereka kasihani, tolong ini Membuatku berfikir yang tidak tidak.


"Emmhh.... Afgan jangan ini punya dia.." ucap Yoona ambigu.


Siapa yang Yoona maksud?? Dia siapa? Itu membuatku semakin gugup mendengar Yoona berucap demikian, senyumku merekah saat Yoona berucap dia... Jantungku berdetak kencang saat mendengarnya dengan suara merdu itu.


Tak lama aku mematikan ponselnya sangat sakit sekali tapi sedikit senang karena Yoona tadi mengatakan demikian.


Aku menjadi lebih semangat lagi, setelah packing aku langsung beranjak tidur.


Aku memiringkan badanku ke kiri dan ke kanan kadang telentang kadang tengkurap sesekali beranjak duduk kembali.


"Kapan paginya" ucapku sambil melirik jam di atas nakas dekat ranjang.


Aku benar benar tidak bisa tidur sampai menjelang pagi buta, jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi aku langsung ke kamar mandi mengingat keberangkatan ku pukul lima pagi.


****


Sampailah aku di bandara Soekarno-Hatta aku cepat cepat menarik koperku di kedua tanganku, supir pribadiku sudah menungguku di lobby bandara.


pukul sepuluh pagi sudah sampai di rumah Papa.


"Sayang... Ya ampun anak Mama sudah pulang" ucap Mamaku sedikit berlari menghampiri ku.

__ADS_1


Mama menundukkan kepalaku dan mencium kening ku, aku membalas mencium kedua pipinya, Papa menghampiriku dengan melentangkan kedua Tangannya aku menyambutnya dan berhambur memeluknya.


"Papa bangga sama kamu." ucapnya


Aku tersenyum lebar dalam pelukannya, aku segera menyerahkan oleh oleh yang aku bawa untuk mereka.


Mereka sangat bahagia dengan itu, aku juga senang mereka terlihat bahagia.


"Pah... Mah.. Aku ke kamar dulu" ucapku.


Setelah sampai di kamar aku langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diriku.


Setelah berkutat kurang lebih lima belas menit akhirnya aku keluar dari kamar mandi.


Aku mengganti pakaian formalku, setelah rapi aku langsung berjalan keluar kamar sambil menyalakan rokokku. Aku menyesapnya sepanjang aku turun tangga.


"Nak.. Mau kemana?" ucap Mamaku.


"Aku mau pergi sebentar Mah... Aku ada urusan" ujarku.


Aku langsung melenggang pergi dari sana dan memasuki mobil pribadiku yang sudah berbulan bulan tidak aku tumpangi.


"Aku rindu sekali denganmu" ucapku sambil membelai kemudiku.


Aku menjalankan mobilku keluar area rumah.


Aku berhenti di toko bunga saat perjalanan membawakan seikat bunga mawar merah untuk istriku tercinta.


"Mbak.. Mau buket mawar merah itu ya mbak... Yang ukuran besar" ucap seorang Wanita yang masih aku dengar karena jaraknya terhalang oleh rak bunga.


"Suara itu... Mirip dengan Yoona" ucapku sambil melihat ke samping tetapi aku hanya melihat rambutnya yang terjepit oleh jeday.


Setelah wanita itu pergi, aku penasaran dan mengikutinya, seorang  wanita hamil dengan dress bumil berwarna biru dongker itu berjalan menghentikan taksi.


Aku cepat cepat memasuki mobilku dan mengikuti taksi tersebut. Dipikiran ku hanyalah Yoona saat itu, wanita itu mirip sekali dengan Yoona, istri siri ku walau tubuhnya sedikit membengkak karena memang ia bumil tetapi suaranya, rambutnya juga gaya berjalannya sangat mirip dengan Yoona.


Tak salah lagi taksi tersebut berhenti di restoran Afgan, aku melihat wanita itu keluar dari taksi dan memasuki restoran tersebut.


Seseorang memeluk wanita tersebut, tidak salah lagi karena Afganlah yang memeluknya.


"Jadi... Yoona.. Ia hamil anaknya Afgan " ucapku monolog.


Marchel POV end..


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2