
"Cantik.." ucap Mama Marchel, Yoona tersenyum menatap Mama mertua keduanya, tidak bisa di pungkiri Mama mertuanya dua duanya sangat sayang padanya, entah ia harus bersyukur atau malah sebaliknya, ia bingung apa ini rencana Allah yang harus ia jalani.
'Tidak... Ini tidak boleh terjadi, aku hanya milik suamiku seorang, milik Afgan seorang tidak ada orang lain diantara kita berdua' batin Yoona
Yoona dan Mama berjalan turun tangga duduk diruang tamu, mereka duduk tanpa sepatah katapun, hingga membuat Yoona canggung lalu ia memecah keheningan.
"Mah... Emm... Makasih ya..." ucap Yoona berbinar, ia memeluk erat Mama mertuanya.
"Sama sama,, maaf Yoo.. Maaf " ucap Mama dengan berlinang air mata dalam dekapan menantunya, tidak bisa dipungkiri ia juga senang mempunyai menantu seperti Yoona walau cara Marchel yang salah, tetapi sudah bisa dipastikan Yoona adalah pribadi yang sopan.
Yoona melepas pelukannya. "Sssttt... Mama jangan ngomong gitu ya.. Yoona gak pernah salahin Mama kok" ucap Yoona sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Mama Marchel.
Papa Marchel yang baru saja selesai jogging ia melihat istrinya berbincang dengan seorang gadis yang sekarang menjadi istri kedua anaknya.
"Kalian semakin akrab saja" tukas Papa dengan berjalan mendekati kedua perempuan itu.
"Papa... Iyalah Pah.. Dia kan menantu kita.." jawab Mama Marchel
Mendengar perkataan Mama Marchel ia sedikit terperangah dan tersenyum simpul sambil memalingkan wajahnya.
"Em.. Pah. Mah.. Aku ijin sebentar kebelakang ya.." Yoona
"Iya.. " jawab Papa dan Mama Marchel bersamaan
Seperti yang dilakukan di apartemen Afgan, ia menuju dapur untuk memasak, walau disana ada ART tetapi ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai menantu, ingat sebagai menantu bukan sebagai istri.
"Non.. Biar saya aja yang masak" ucap ART tersebut yang tak lain adalah bu Surti
"Tidak apa apa bu... Biar saya bantu" ucap Yoona dengan tersenyum manis ia mengambil segala macam bumbu dan meraciknya lalu ia mengambil beberapa potong ayam yang ada di kulkas, ia mencucinya hingga bersih.
Sampai sampai bu Surti diam ditempat karena kerja Nona Muda di dapur sangat cekatan hingga ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Non ini pinter banget.." puji bu Surti
"ahahaha.. Bu Surti bisa aja.." ucap Yoona sambil menoleh menatap bu Surti di belakang nya.
"Non sama Den Marchel gak akur ya.." tanya Bu Surti dengan hati hati, dia memanglah tidak tahu seperti apa nyatanya hubungan Nona dan Tuan Muda nya.
Yoona diam sejenak lalu ia tersenyum sebagai jawaban yang agak membingungkan.
"Enggak kok.. " sahut Marchel dari belakang mereka ia mendekati Yoona lalu mencium keningnya tanpa rasa malu.
"Chell.. Ada orang malu" ucap Yoona sambil mendorong pelan pinggang Marchel
"Kenapa malu... Anggap mereka tak kasat mata " ucap Marchel lalu ia membopong tubuh Yoona
"Chel!!!!" bentak Yoona dan melayangkan tatapan tajamnya
Marchel melihat itu ia juga sedikit ngeri tetapi ia tidak gencar tetap membopongnya naik kelantai dua dan membawanya ke kamarnya.
__ADS_1
Plakk.. Sebuah tamparan melayang dari tangan mungil Yoona ke pipi Marchel
"Sekali lagi kau macam macam padaku aku tidak akan segan untuk kasar padamu" ucap Yoona tegas menatap Marchel
Cup!!! Ciuman Marchel mendarat di bibir bawah Yoona
"Haiss.." Plaakk.. Satu tamparan lagi mendarat di pipi Marchel sebelah kanan setelah pipi kirinya terkena tamparan
CUP!!! sekarang ini adalah ciuman yang sedikit menuntut, dilumatnya bibir bawah Yoona.
"Emm... Emm.. " Yoona berusaha melepas pertautannya, tetapi tidak bisa hingga ia semakin jengkel dan menggigit keras bibir Marchel
"Aaaaaaa..." teriak Marchel saat bibirnya digigit oleh Yoona, bisa ia rasakan bibirnya berdarah karena ia merasakan ada sedikit rasa asin disana.
"Brengsekk kau... Dasar gila.." teriak Yoona mengema diruangan tersebut
Plak..plak..
Bughhh...
Yoona melayangkan tamparannya di kedua pipi Marchel dan beralih meninju sudut bibir Marchel. Ia masih jengkel hingga tanpa rasa bersalah ia menendang 'benda kramat' milik Marchel
"Emmtt... Ahhh.. Yoona " rancau Marchel sambil menutupi pangkal pahanya
Yoona menyeringai, ia mengusap kasar bibirnya yang masih ada sisa ciuman Marchel " rasain kamu.." ketus Yoona lalu ia melenggang pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Marchel seorang.
Ia berlari turun dari tangga hingga sampai dilantai dasar. Ia melihat Mama dan Papa Marchel memasuki rumah, karena mereka tadi pamitan pergi sebentar ke supermarket terdekat.
"Mama.." Yoona terisak dalam pelukan Mama Marchel
"Sssttt..!! " Mama Marchel menenangkan menantunya, Papa Marchel tahu apa pemicu Yoona menjadi seperti ini.
Tak! Tak! Tak! Suara sepatu dengan seiring hentakan kaki seorang dari tangga menuju ke bawah
Marchel... Ia berjalan angkuh turun dari tangga dengan tangannya mengapit rokoknya.
"Apa yang kau lakukan HAH!!! " Teriak Papa menggema di ruang tamu yang luas tersebut, semua pelayan bahkan mendengar teriakan Tuannya hingga membuat mereka beranjak menuju mes dibelakang.
"Ssshhhh..." Marchel menyesap rokoknya lalu menghembuskannya
"Kau apakan istri anakku Hah!!" ucap Papa dengan nada tinggi
"Anak!!! Aku juga anakmu PAPA.." Marchel dengan nada lirih terkesan menekan kata Papa.
" kau!! Kau..." ucap Papa sedikit bingung akan berucap apa, ia takut menyakiti hati istri keduanya.
" hiks.. Hiks... Afgaaann...." teriak Yoona yang sudah jengah dengan pertengkaran Marchel dan Papa mertuanya
"Sini kamu.." ucap Marchel sambil menarik tangan Yoona dengan kasar.
"Aaaaaa.... Tidak Marchel lepas.." teriak Yoona sambil memberontak melepas genggaman tangan Marchel
__ADS_1
"Ayo!!" tegas Marchel, ia juga sangat jengkel dengan sikap Yoona yang agak keras kepala itu, ia terpaksa bermain kasar jika sudah begini. Marchel memapah bahu Yoona agar ia tidak menyakiti tangan Yoona.
Yoona sedikit memberontak pergerakannya terbatas karena dekapan Marchel
"MARCHELLL" teriakan Afgan menggema di tempat tersebut. Semua orang menoleh kearahnya
"Afgan...... Tolong akuu.... Hikss..." teriak Yoona ia berusaha melepas genggaman Marchel tetapi tetap tidak bisa
"Lepaskan Marchel" tegas Afgan seraya ia melangkah mendekati Marchel
"Heh!! Coba saja kalau bisa " ucap Marchel menyeringai, Yoona melihat Marchel lengah ia menginjak kaki Marchel dan akhirnya dekapan Marchel terlepas, Yoona berlari turun dari beberapa anak tangga, ia berhambur memeluk erat tubuh suaminya.
"Hikss... Afgan... "
"Sssttt!!! Tenang Sayang... Aku sudah disini" ucap Afgan lalu ia melenggang pergi memapah istrinya perlahan.
Setelah sampai di mobil Afgan membuka pintu mobil dan menuntun Yoona untuk memasuki mobilnya
Afgan mengitari Mobilnya dan memasuki mobilnya, ia menyalakan mesin dan melakukan mobilnya.
Setelah beberapa waktu akhirnya mereka sampai di depan kawasan apartemennya.
Afgan keluar dari mobil dan membuka pintu mobil dimana Yoona berada. Ia membopong tubuh istrinya yang terlelap dalam tidurnya.
Ia memasuki lift dan memencet tombol angka 20 sedikit kesusahan.
Ting!! Lift terbuka ia segera keluar dan memasuki apartemennya, ia membaringkan tubuh istrinya didalam kamarnya.
Flashback on..
"Sayang... Sayang..." teriak Afgan menggema didalam apartemennya tetapi istrinya itu tidak menyahut.
"Sayang... Dimana kamu..??" Afgan berteriak lagi.
Ia kembali kedalam kamarnya, matanya melihat sebuah kejanggalan,ia melihat handuk istrinya teronggok dilantai.
"Kemana kamu " ucap Afgan sambil mengambil handuk, ia menghirup wangi tubuh istrinya melekat di handuk tersebut.
Kemudian ia meletakkan handuk tersebut di atas ranjangnya.
Ia keluar kamar tepat saat Mama nya memasuki apartemennya.
"Mah... Lihat Yoona nggak?" tanya Afgan
"Yoona..!?? Mama tadi.. Marchel ia kesini " ucap Mama sedikit takut akan ucapannya.
"Apa!! Marchel. Dimana dia sekarang " Afgan
" Mama gak tahu Gan... Tolong selamatkan menantu Mama " pinta Mama.
Afgan segera berlari mengambil kunci mobilnya ia mencari Yoona.
__ADS_1
Flashback of..