SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 16~TRAGEDI


__ADS_3


Afgan memasuki mobilnya, ia mengendarai mobilnya, begitu tenang hingga ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya ternyata istrinya, ia mengangkat panggilan dan bisa mendengar suara Yoona.


"Apakah istriku sudah tidak sabar " monolognya setelah mengakhiri panggilannya, lalu ia meletakkan ponselnya di kursi penumpang tetapi ponsel tersebut meleset dan terjatuh di lantai mobil.


"hah!! kenapa jatuh segala sih " gerutunya sambil mencoba meraih ponselnya dan setelah mendapatkan ponselnya ia menaruhnya kembali di kursi penumpang yang ada disampingnya.


ia melihat jalan raya kembali " Eh! lampu merah " kaget nya lalu ia menginjak pedal rem tetapi


" ada apa ini... kenapa tidak berfungsi " ia semakin panik ia menekan klaksonnya lalu ia membanting setirnya kearah kanan tetapi mobilnya tak kunjung berhenti hingga tiba tiba mobilnya berhenti di tengah perempatan.


"hah!! lega " ucapnya sambil memegang dadanya.


TRON TRON TRON..


suara klakson sebuah truk berbunyi nyaring dari arah samping Afgan memekik kaget.


" Aaaaaaaaaaa.. " teriaknya, ia diombang ambingkan oleh mobilnya yang terpental. Afgan masih sadar dan berucap " Sayang... " lirihnya kemudian matanya berkabur dan ia kehilangan kesadarannya.



(anggap saja scene nya malam hari )


" Gaaaaannnn.... " teriak Ben dan Rafael bersamaan setelah melihat tragedi kecelakaan tersebut. Mereka segera keluar mobilnya dan menghampiri mobil ringsek milik Afgan.


"Gan. Gan... Fa Afgan gimana ini " panik Ben


tak lama polisi datang setelah kejadian tersebut.


Polisi mengevakuasi korban kemudian Polisi tersebut menemukan ponsel Afgan yang terjatuh keluar dari mobil, keadaannya masih bisa hidup hingga salah satu Polisi tersebut membuka ponselnya yang kebetulan tidak di sandi.


Polisi tersebut mencari kontak yang mungkin penting, ia menemukan 'MY WIFE❤' kemudian ia menekan tombol telepon dan sambungan terhubung...


" Halo dengan keluarga Pemilik Ponsel ini, dengan berat hati saya menginformasikan bahwa suami ibu kecelakaan " ucap Polisi tersebut.


tidak ada jawaban yang ada hanya suara isakan seorang wanita.


Yoona POV...


Aku sedang menunggu kedatangan suamiku, ini sudah malam dan gak biasanya ia pulang larut seperti ini, aku cemas setelah kejadian foto pernikahanku yang aku pasang kemarin bersamanya terjatuh tanpa adanya angin, sungguh itu membuatku berfikiran negatif.


aku menunggunya di depan pintu masuk, mondar mandir karena cemas , Mama melihatku kemudian ia menegurku supaya aku tetap  tenang dan aku berusaha untuk menyembunyikan kecemasanku  hingga ponsel yang aku pegang berdering aku menoleh Mama yang berada dibelakangku dan aku tersenyum Mama menjawabnya juga tersenyum padaku. aku mengangkat panggilan dari suamiku.


Ingin aku mencerca banyak pertanyaan hingga mulutku terbuka ingin berucap tetapi didahului seseorang yang memberi kabar buruk padaku.

__ADS_1


aku ternganga serasa tak percaya hingga tak sengaja menjatuhkan ponselku. Kakiku, kakiku terasa lemas aku terduduk dilantai Mama menghampiriku aku masih syok hingga pertanyaan Mama tidak aku hiraukan Mataku berkabut seiring berurainya air mataku, aku terisak dan Mama memelukku, aku semakin nangis kencang tubuhku bergetar seiring isakan tangisku.



Tak lama aku ditenangkan oleh Mama ada seseorang yang memencet bel. Mama membuka pintu dan ternyata Rafael  yang berkunjung.


Yoona POV end..


"Tante.. Afgan kecelakaan " ucap Rafael bergetar memberi kabar buruk pada keluarga Afgan.Ben tidak berani berucap sepatah katapun.


Mama Afgan ternganga mendengar, matanya keluar butiran bening yang menetes di pipinya.


"apa!! " lirih Mama Afgan


"tante.. tante yang kuat mari saya antar ke lokasi " ujar Rafael, Mama Afgan menurut dan kemudian mata Rafa melihat Yoona yang sedang duduk termenung di kursi ruang tamu.


Rafa menghampiri Yoona kemudian menepuk pundak Yoona, seakan Yoona tersentak kaget ia melihat Rafael.


" El.. Afgan.. " ucap Yoona lirih sambil berurai air mata. Rafael menuntun Yoona menuju mobilnya kemudian melajukan mobilnya ketempat kejadian.


Hingga mobil Rafael sampai, Polisi masih belum bisa menyelamatkan tubuh Afgan yang terhimpit oleh mobil.


Yoona segera keluar dari mobil Rafael setelah  melihat Afgan bisa dikeluarkan.



" Gaaannnn.... " teriaknya sambil berlari berhambur memeluk tubuh suaminya yang terbaring tak berdaya. Wajahnya berlumuran darah dan tubuhnya juga berlumuran darah.


"apa yang terjadi " ucapnya sambil membawa tubuh Afgan dipelukannya. ia menangis kencang tangannya dan bajunya terkena darah suaminya.


Dirumah sakit...


lampu ruang operasi menyala, semua dokter dan perawat yang berjadwal menangani pasien iya pasien tersebut adalah Afgan. keadaannya sangat kritis, ia kehilangan banyak darah untung stok darah dirumah sakit tersebut sedang ada. kemudian suster mengambil tiga kantung darah dan berlari secepat mungkin ke ruang operasi kembali.


Yoona sedang terduduk di kursi tunggu sudah dua jam lamanya dokter belum juga keluar hanya perawat tadi yang keluar dengan tergesa gesa tanpa menghiraukan kepanikan dibenak Mama Afgan dan juga Yoona. kemudian suster tersebut kembali membawa tiga kantung darah.


"Mah.. Afgan.. " ucap lirih Yoona kepada Mama mertuanya, Mama tidak merespon ia diam menatap lurus tembok yang ada didepannya mungkin karena masih syok dengan keadaan sekarang.


Rafa mencoba menenangkan Yoona dan Ben mencoba menenangkan Mama Afgan.


"El... kenapa bisa terjadi " tanya Yoona kepada Rafael. tetapi Rafa tidak bisa berucap sepatah katapun membuat Yoona semakin terisak.Rafa mencoba mengelus punggung Yoona supaya perasaan Yoona tenang.


Afgan sudah dipindahkan ke ruang rawat, tetapi Afgan masih belum sadar.


Yoona terduduk di kursi disebelah ranjang tempat Afgan berbaring, tangannya meraih punggung tangan suaminya mengelusnya perlahan punggung tangan Afgan kemudian membelai cincin pernikahannya.

__ADS_1


" Sayang... " ucap Yoona bergetar menahan tangis. " bangun, jangan buat aku sedih, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan ku sendiri disini, please buka matamu Sayang.." ucap Yoona.


Yoona semakin terisak melihat Afgan tanpa respon ia meletakkan punggung tangan Suaminya di pipinya menciuminya lalu meletakkan kembali di pipinya.


"Sayang.. kita sudah berjanji akan selalu bersama, jangan seperti ini kita baru memulai kehidupan baru kita, jangan tinggalkan aku.. " Yoona menangis disana, tak lama ia merasakan belaian di pipinya ia melihat tangan Afgan bergerak walau gerakan tersebut sangat halus.


"dokter.. dokter.. sus. Suter.. " teriaknya setelah membuka pintu ruangan tersebut.


terlihat Dokter sedang berjalan tergesa gesa menuju Yoona.


"dok.. tangan suami saya bergerak " ucap Yoona setelah sang Dokter sampai diruangan.


"tenang bu.. saya periksa dulu, silahkan tunggu diluar " ujar dokter tersebut.


Setelah beberapa menit dokter itu keluar dan memberitahu keadaan Afgan sekarang.


"Maaf semua.. keadaan pasien sangat kritis kemungkinan pasien mengalami koma " ujar Dokter tersebut, jangan di tanya reaksi semua orang yang ada disana Yoona merosot kelantai. tak sadarkan diri setelah mendengar kabar berikut.


Rafa membopong tubuh Yoona dan membaringkannya di kursi panjang yang ada di depan ruangan Afgan sekarang berada.


Setelah mencium bau minyak angin Yoona menggercapkan matanya berkali kali, ia melihat sekeliling.


"Ibu...  " ucapnya pada Ibunya saat melihat ibunya sudah ada disampingnya.


orang tua Yoona segera berangkat ke kota setelah mendengar kabar tentang suami anaknya.


"Yang tenang sayang.. Afgan pasti kuat. " ucap ibu Yoona menenangkan Yoona


"ibu... aku takut " ucapnya sambil berhambur memeluk ibunya.


"ssstt!! Afgan pasti kuat, ia tidak mungkin meninggalkan anak ibu ini. " ucap Ibunya sambil membelai rambut kusut milik anaknya.


kemudian datanglah papa Afgan bersama istri keduanya.


"bagaimana keadaan putraku " ucap papa kepada istri pertamanya, tetapi Mama Afgan tidak bergeming kemudian Rafa menyahut dan menjelaskan semua yang telah terjadi pada Afgan.


papa Afgan terduduk lemas di kursi tunggu kemudian Tanti menenangkan suaminya.


"Afgan pasti kuat " ujar Tanti sambil menepuk pelan pundak suaminya, Dendi menghadap istrinya dengan berurai air mata, kemudian ia berhambur memeluk tubuh istrinya, Mama Afgan melihat adegan itupun langsung memalingkan wajahnya. Hatinya juga teriris ia juga butuh sandaran untuk saat ini kemudian Ben melihat ibunya Afgan yang sedang terisak ia menghampiri.


"Tante.. tante yang tenang, Afgan anak yang kuat ia jago bela diri pas sekolah dia juga memenangkan piala nasional, aku yakin Afgan bisa melewati masa sulitnya" ucap Ben kemudian memberi pelukan hangat supaya ibu dari temannya ini tenang. Mama Afgan menumpahkan air matanya ia menangis tergugu di pelukan Ben.. '  aku seperti pernah merasakan pelukan hangat yang sama seperti dulu aku bersama mas Bram  '  batin Hermin, ia tiba tiba mengingat masa lalunya, hingga tak sadar ia sudah cukup lama berada di pelukan pemuda yang mendekapnya. ' sangat nyaman, aku rindu '  batin Hermin. setelah puas Mama Afgan melepas pelukannya kemudian mendongak menatap Ben.. ia membelai pipi Ben dan berucap " pria baik, semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik hatinya " . Ben tersenyum kemudian menyentuh tangan tante Hermin yang ada di pipinya.


"terima kasih Tante " ucap Ben sambil mencium punggung tangan Tante Hermin, ia akhirnya bisa merasakan pujian seperti ini setelah bundanya yang meninggal empat tahun yang lalu.


***Bersambung...

__ADS_1


hufftt..  maaf kalau kurang menjiwai*** ...


__ADS_2