SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 18~AFGAN SADAR


__ADS_3


Yoona semakin terisak saat Marchel mengucapkan ijab qobul yang anehnya suara tersebut begitu lantang dan merdu didengar oleh telinga Yoona.


' apa.. Kenapa ini terjadi.' batin Yoona terisak dadanya begitu sakit.


Walaupun hanya di datangi oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Marchel.


Ibunya selalu memeluk bahu Yoona,  seakan memberinya kekuatan walaupun ibunya sendiri tidak bisa menahan betapa jahatnya dunia terhadap anaknya itu.


Marchel sedari tadi menunjukkan senyum kemenangannya hatinya begitu. ' Ahh!! Senangnya, ' batin Marchel. Akhirnya gadis yang memukulnya dulu di tempat umum menjadi miliknya, walaupun ia telat tapi tidak apa apa yang penting sekarang gadis tersebut di dalam genggamannya.


Setelah selesai mengucap ijab qobul ia mencabut cincin yang ada di jari manis milik Yoona.


"Apa yang kau lakukan " ucap Yoona seraya menepis tangan Marchel yang akan mencabut cincin pernikahannya.


"Kau sudah menjadi milikku, jadi cincin ini harus dibuang " ucap Marchel kini sedikit meninggi.


" heh!! Jangan lupakan bahwa kau yang menengahi pernikahan kami, kau hanya orang ketiga yang berusaha merusak rumah tanggaku " ucap Yoona tak kalah tinggi.


Lalu ia melenggang pergi dengan mengangkat sedikit gaunnya yang menyeret di lantai. Air matanya sudah mengalir deras matanya seiring dengan langkah kakinya. Ia tidak tahu harus pergi kemana ingin rasanya dia menyusul suaminya.


"Yoo... Yoona... Tunggu " ucap Marchel dengan mengikuti Yoona yang sedang jauh dari jangkuannya.


Marchel berlari sekencang kencangnya hingga ia bisa meraih lengan Yoona dan menariknya hingga Yoona berbalik menghadapnya.


" maaf jika aku salah. " ucap Marchel menunduk menatap wajah wanita yang kini menjadi istri siri.


Yoona menatap tajam muka Marchel, berapi api sudah dirinya.


"KENAPA!!!! " teriak Yoona  " KENAPA KAU MENGHANCURKAN KEBAHAGIAANKU.. KENAPA!! "  teriaknya kembali seraya memukul mukul dada bidang Marchel.


Marchel tetap diam ia membiarkan Yoona memukulnya, tidak dipungkiri melihat Yoona yang sekarang ini hatinya terenyuh sangat sesak. Kemudian ia memeluk tubuh mungil istrinya.



" sudah... Jangan menangis, kita akan pergi menemui Afgan." ucap Marchel sambil menenangkan Yoona.


Yoona menangis di pelukan Marchel, ia merasa lututnya lemas seakan tidak kuat untuk menopang tubuhnya kepalanya pusing, seketika Yoona hampir terjatuh ke lantai jika Marchel tidak menahannya.


" Yoo.. Heii.. Yoona.. " panggilnya ketika melihat Yoona tak sadarkan diri.   " Sayang....,"  ia menepuk pelan pipi Yoona, kemudian Marchel membopong tubuh istrinya menuju mobilnya.


Semua orang ikut panik dengan keadaan Yoona mereka mengikuti mobil Marchel.


.


.


.


.


Rumah Sakit.


Dokter sedang memeriksa keadaan Yoona, setelah beberapa menit dokter tersebut keluar.


"Maaf.. Istrinya menyebut nama anda pak. " ucap dokter itu kepada Marchel.


Marchel bergegas,masuk kedalam ruangan istrinya berada.


Marchel duduk di kursi disebelah tempat Yoona berbaring.


Yoona berbaring di brankar yang cukup berisi satu orang itu, keringatnya dinginnya bercucuran, wajahnya putih pucat dan bibirnya terlihat gemetar sambil menggerutu lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Marche. Matanya masih terpejam


Marchel menggenggam erat jemari Yoona, seakan Yoona merespon juga membalas genggamannya.


"SAYANG...  hhh! " Yoona menggerutu pelan, Marchel mengusap dahi Yoona yang penuh keringat.

__ADS_1


" SAYANG.. AFGAN, MAAFKAN AKU "  ucap Yoona lirih.


Marchel yang mendengar itupun memejamkan matanya, air matanya ikut menetes, untuk pertama kalinya ia menangis merasakan sesaknya hatinya saat orang yang ia cintai lebih mencintai orang lain.


.


.


.


.


.


Yoona sudah diperbolehkan pulang, keadaannya sudah pulih walaupun wajah pucatnya masih setia menghiasi kecantikannya.


Sekarang ia dibawa ke kediaman Marchel ia menatap ke segala arah, nuansa kamar seorang pria yang mencolok di ruangan tersebut.


Marchel membuka pintu dia menghampiri istrinya dengan membawa nampan berisikan bubur buatannya. Yoona menatap tajam kearah suaminya. Hah!! Suami? Bahkan ia tidak menganggap pernikahan ini, sangat membenci hubungannya ini.


" ayo makan dulu, supaya tetap sehat " ujar Marchel dengan menyodorkan sesuap bubur yang ia buat untuk  Yoona


Yoona melengos saat Marchel menyodorkan suapannya ia melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Ayo dong.. Biar sembuh Ya.. " bujuk  Marchel pada Yoona


Yoona menggeleng lalu beralih posisi menjadi berbaring dengan memunggungi Marchel


" Sayang... Jangan gitu nanti kamunya gak sembuh sembuh " bujuknya kembali sambil mengelus bahu Yoona,


Apa?? Sayang? Ia saja tidak menganggap Marchel sebagai suaminya walaupun suami siri.


Yoona menggerakkan bahunya untuk menghindari tangan Marchel.


" oke oke.. Setelah kamu sembuh kita berangkat menemui Afgan " ucapnya membuat Yoona berbinar ia membalikkan posisinya menjadi telentang lalu duduk.


Marchel mengangguk lalu ia kembali menyodorkan sesuap bubur yang ia buat tadi.


" aa..." ucap Marchel sambil menyodorkan sendoknya ke depan mulut Yoona.


" hm.. Aku bisa makan sendiri " ketusnya sambil mengambil alih mangkuk yang ada ditangan Marchel.


Yoona akan menyuapkan buburnya kedalam mulutnya ia melirik Marchel yang masih menatapnya.


" kenapa masih disini!! " Yoona


" mau masti'in aja supaya kamu habis memakan bubur buatan ku " Marchel sambil menyilakan kedua kakinya diatas ranjang.


" enggak sana jauh jauh, aku muak sama kamu " ketusnya sambil mengibaskan tangannya mengusir Marchel.


Marchel menghela nafasnya kasar. " ini kamarku, jadi aku bebas mau dimana dan ngapain aja. "


" oohh.. Gitu ya. Oke aku aja yang pergi " ucap Yoona lalu ingin beranjak pergi tapi ditahan oleh Marchel


"Iya. Iya.. Oke aku ngalah kamu menang sekarang " kekeh Marchel


" harus wanita yang boleh menang " ketus Yoona, Marchel menghela nafas lalu melenggang pergi dari kamarnya.


' hufft!! Untung sayang '. batin Marchel   sambil mengelus dadanya setelah berada di luar kamarnya.


Yoona makan bubur buatan Marchel, ia mengunyah kunyah merasakan betapa nikmatnya bubur buatan Marchel hingga lahap dan tak sadar ia menghabiskan semangkuk bubur.


........


..._SINGAPORE_...


Afgan sedang dalam perawatan intensif semenjak ia dilarikan di rumah sakit besar Singapura, walaupun ia masih beberapa jam disana tetapi kondisinya sudah cukup baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Mama Afgan setia menunggui anak semata wayangnya itu, senyumnya merekah saat mendengar kemajuan dari kondisi anaknya. Ia bahagia karena anaknya sekarang selamat dari kondisi yang sebelumnya.


" Gan.. Apa yang Mama katakan nanti setelah kamu sembuh  " monolog Mama sambil memegang punggung tangan Afgan.


" apa yang harus Mama katakan nanti" Mama Afgan terisak, hatinya sakit sangat dalam hingga ia tidak sanggup untuk memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada Afgan.


" Hiks.. Gan Mama RINDU.."  ucapnya


" Ma...ma...." ucap lirih Afgan, ia samar samar mendengar suara tangisan Mama nya.


"Afgan!! Gan kamu sadar nak.. Sebentar Mama panggil dokter dulu. " ucapnya lalu melenggang pergi memanggil dokternya.


Setelah beberapa waktu Afgan di periksa, Dokter tersebut memberitahukan bahwasannya kondisi Afgan jauh lebih baik.


Mamanya mengucapkan terima kasih kepada Dokter yang menangani anaknya , ia sangat senang Afgan bisa cepat pulih disini.


"Gan.. Gimana keadaan kamu " Mamanya.


" aku..Baik mah.." lirihnya


"Ya sudah jangan banyak gerak dulu, usahakan baik istirahat yang cukup, mama tinggal ke ruang administrasi dulu " ucap Mama


"Mah.." cegah Afgan


"Iya.." jawab Mama


" dimana istriku " ucapnya


"Istri? Mu.. Yoona.. Ia.. Sedang..... Yoona.." ucapnya terputus setelah mendengar suara wanita yang ia kenal.


" SAYANG.... " ucap Yoona, Iyah!! Dia adalah Yoona, setelah memakan bubur beberapa waktu lalu, Yoona memaksa Marchel supaya cepat berangkat menuju ketempat Dimana suaminya berada.


Senyum keduanya merekah Mama dan Afgan tidak menyembunyikan kebahagiaan nya setelah melihat orang yang mereka cintai.


" sayang... Yoona.. " ucap Mama sedikit terkejut tetapi ia juga bahagia.


Yoona memeluk Mama mertuanya membenamkan wajahnya di pundak mertuanya dan perlahan ia terisak.


" sstt!! Kenapa menangis, Afgan sudah sadar." ucap Mama sambil mengusap punggung  Yoona.


Yoona melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah cantik mertuanya, ia menggeleng sambil terisak, tetapi dengan tenangnya mertuanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Mama Afgan keluar dari ruangan tersebut, ia memberikan ruang kepada anak muda tersebut.


" Sayang.. " lirih Yoona, ia tidak berani menatap mata suaminya, ia menundukkan kepalanya sambil tangannya mengusap punggung tangan suaminya.


"Hmm.. " jawab Afgan


" aku minta maaf.. " ucapnya


" minta maaf kenapa? Hm!.." Afgan


" maaf, ka..karena.... Baru datang kesini " ucap Yoona, ia tidak mungkin memberitahukan perihal pernikahan dirinya bersama kakak tiri dengan keadaan suaminya yang seperti ini.


"Iyah.. Tidak apa apa.." ucap Afgan sambil mengusap rambut halus Yoona menggunakan tangan kirinya.


Yoona memejamkan matanya saat sentuhan tangan Afgan di rambutnya, begitu lembut dan juga ia sangat merindukan saat saat seperti ini.


" Yang.. Sini " panggil Afgan


"Iya..." Yoona mencondongkan tubuhnya mendekati suaminya.


.


...


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2