SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 17~KEDUA KALINYA


__ADS_3


Tania dan Ishita mendengar kabar Afgan dari Rafael, lalu mereka menjenguk Afgan.


"Yoona..." panggil Tania dan Ishita bersamaan.


Yoona tak bergeming ia menatap lurus kearah tembok. Tania dan Ishita mendekati Yoona, mereka bertiga berpelukan dengan Yoona di tengah, mereka memeluk sahabatnya yabg sedang terpuruk kesedihan.


Yoona terisak dalam pelukan kedua temannya.


" Afgan... Afgan... dia... hiks " ucap Yoona terisak.


" syuuttt!! aku tahu, kamu yang sabar... Afgan pasti kuat." ucap Ishita


"jangan menangis, nanti aku juga ikut sedih " Tania mencoba mencairkan suasana haru ini.


Yoona menghapus air matanya ia berusaha tegar ia yakin Afgan pasti sembuh.


Dokter keluar ruangan Semua orang segera beranjak mendekati dokter itu.


"bagaimana keadaan suami saya" cerca Yoona


Dokter menghela nafasnya pelan. "Mohon maaf sebelumnya.. masih belum ada perubahan, saya mohon semua keluarga pasien mendoakannya supaya keadaan pasien mengalami kemajuan." ucap Dokter berusaha memperkuat keluarga pasiennya.


Yoona masuk ke ruangan tersebut ia duduk disamping suaminya yang sedang berbaring.


"Gan.. kenapa bisa seperti ini " Yoona terisak dalam diam, hatinya sungguh sakit seperti ada yang menusuknya dengan benda tajam,


"Aaaaa.. " pekiknya dengan memukul pukul pelan dadanya saat Ia terisak, sakit sudah hatinya ia tidak tahan nafasnya tersengal menahan sakit di dadanya.


" aku tahu, kamu pasti tahu keadaanku saat ini.. aku tidak bisa tanpamu Gan... hiks cepatlah kembali, AKU RINDU... SUAMIKU." ucapnya sambil berlinang air matanya.



Yoona tertidur dengan posisi duduk di kursi hingga menjelang pagi, Yoona terbangun setelah Mama mertuanya membangunkannya pelan.


"Yoo... pulang dulu ya... kamu pasti capek biar Mama yang menunggu " ucap Mama Afgan


Yoona beranjak dari duduknya ia ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


saat sudah di lobi Rumah Sakit seorang perawat memanggilnya.


"iya sus..." Yoona


"maaf.. mbak suami dari pasien bapak Afgan Al Fafaro.." tanya suster tersebut.


"iya sus ada apa?" Yoona


" silahkan mengurus administrasi di resepsionis " ujar suster tersebut


"baik saya akan lakukan " ucap Yoona


Yoona menuju resepsionis ia membayar. setelah Yoona mengeluarkan uang sebanyak 20 juta dari tabungannya ia pulang sekedar untuk mandi dan berganti pakaian.


Yoona menengok restorannya yang dikelola oleh Rafael dan Ben, ia sampai disana menggunakan angkutan umum.


"haii.. " sapa Yoona pada Rafa yang sedang dimeja kasir.


"eh Yoo.. kamu udah kesini " tanya Rafael


"iya.. sekedar mampir doang, eh iya.. gimana restoran akhir akhir ini "


"alhamdulillah pemasukan meningkat dan pelanggan meningkat drastis akhir akhir ini " ucap Rafael.


"Alhamdulillah " jawab Yoona


Ben muncul dari ruang dapur.


"loh.. Yoona. apa kabar? kamu baik? " tanya Ben


"hmm." Yoona menganggukkan kepalanya memberi jawaban


"gimana keadaan Afgan"


"masih seperti sebelumnya, masih belum ada perubahan, doanya ya.. supaya Afgan cepat sadar " ucap Yoona memohon


"kamu apa apaan sih Yoo.. ya pastilah itu Afgan itu sahabat kita" ucap Rafael


" terima kasih,, oh ya sudah aku mau ke Rumah Sakit dulu " pamitnya kepada temannya


"iya... hati hati Yoo.. " ucap Rafael


"eh Yoo.. pake montorku saja. ketimbang naik angkutan umum " saran Ben

__ADS_1


"emang nggak ngerepotin nih " Yoona


"enggaklah kalau kamu mau, bawa aja. aku gak papa" Ben


"boleh juga, mana kunci motornya "


"nih " Ben menyodorkan kunci motornya, Ben tahu Yoona bisa pake motornya karena dulu Yoona pernah meminjam motornya pas ngampus.


"terima kasih " ucap Yoona sambil tersenyum manis. Yoona menaiki motor sport milik Ben.


Setelah sampai di halaman Rumah Sakit, ia menuju ruangan dimana suaminya berada.


Yoona mendudukkan tubuhnya di kursi tempat suaminya berbaring.


seperti biasa Yoona mengajak Afgan bicara walaupun Afgan tidak merespon, memang kata dokter semakin sering pasien dirangsang semakin besar harapan pasien sembuh.


Yoona memegang tangan Afgan diciumnya punggung tangan suaminya " sayang apa kabar... jangan lama lama tidurnya.. aku kangen kamu, kamu gak kangen aku emangnya?? jangan gitu dong,,,, kamu gak mau kita seperti dulu lagi, emang kamu gak mau kita cepet punya anak.." ucap Yoona panjang lebar, Afgan merespon telunjuknya bergerak mengusap telapak tangan Yoona.


"hiks.. bangun Sayang.. masih banyak perjalanan kita yang harus dilalui bersama. hiks.." Yoona terisak saat Afgan merespon.


******


Sudah satu bulan lamanya Afgan masih belum sadar, Yoona sudah mati matian meminjam uang ke rentenir karena ia dan Afgan masih mempunyai sedikit tabungan. sekarang ini ia berada di sebuah rumah yang akan meminjamkannya uang untuknya.


"Inget mbak.. Uang kembali dalam 3 bulan, kalau lebih bayarnya tiga kali lipat. " ucap laki laki tua itu.


"Baik pak,, terima kasih atas bantuannya " ucap Yoona kemudian ia pamit undur diri dari tempat itu.


Yoona berjalan dibawah teriknya matahari, siang ini merupakan siang yang melelahkan, sesekali Yoona mengelap keringat yang menetes di pelipisnya, Setelah sampai dirumah sakit ia segera membayar administrasi pembayaran perawatan Suaminya.


Sudah sebulan ini keadaan Afgan masih belum ada perubahan, Yoona selalu menginap disini ia tidak bisa meninggalkan suaminya sendirian bahkan Mama mertuanya sudah menawarkan diri supaya dia bisa istirahat dirumah tapi Yoona tetap kekeh untuk disini, setidaknya dia tenang berada didekat Afgan.


Sekarang ia duduk disebelah Afgan yang sedang berbaring lemah, perban yang menutupi wajah Afgan sudah dilepas seminggu lalu, luka luka yang ada diwajahnya masih membekas goresan di seluruh wajah Afgan tidak memudarkan ketampanan sejati miliknya.


"Sayang... " ucap Yoona sambil mengelus punggung tangan Afgan " aku selalu menunggumu disini, ku harap kau mengerti AKU RINDU " ucap Yoona lalu mencium kening Afgan dan beralih kedua pipinya kemudian berakhir kecupan di bibir suaminya.


Seperti biasa Afgan selalu merespon ketika Yoona berbicara padanya, terkadang tangannya yang bergerak terkadang detak jantungnya menjadi berdetak  kencang saat Yoona sedang mengeluh akan keadaan. Mungkin jika Afgan sadar dia juga merasakan pahitnya kenyataan yang dialami oleh istrinya. Dan sekarang respon Afgan yang mengeluarkan air matanya membuat Yoona terisak.


Yoona menghapus air matanya ketika Dokter datang untuk memeriksa, ia keluar ruangan di luar baru saja datang orang tuanya dan juga Mama mertuanya.


" sabar Yoo... " ibunya selalu berucap seperti itu supaya anaknya tetap tegar.


Setelah Dokter keluar dari ruangan tempat Afgan berada, Yoona seperti biasa ingin menemani kembali suaminya tetapi langkahnya terhenti saat Marchel berjalan angkuh menuju kepadanya, diikuti oleh kedua orang tuanya yang tergesa gesa menyusul Marchel, sepertinya. Pikir Yoona


' kenapa kesini ' batin Yoona


Semua mata berbinar ketika mendengar perkataan Marchel, tidak bisa di pungkiri bahwa Yoona sekarang tersenyum memperlihatkan deretan giginya dan bahkan ia berurai air mata. Kemarin Papa mertuanya tidak bisa membantu karena semua aset dan keuangan keluarganya berada ditangan anak Istri keduanya, dan Marchel tetap kekeh untuk tidak membantu adik tirinya yang sedang berjuang mati matian untuk bisa bertahan hidup hingga satu bulan lamanya.


Tetapi senyumnya seolah hilang setelah mendengar kelanjutan ucapan Marchel.


" jika kau bersedia menikah denganku, akan Ku kirimkan suamimu ke rumah sakit di luar negeri. " tambahnya.


Semua orang terkejut mendengar perkataan Marchel apalagi ayah Yoona ia tanpa segan menimpali wajah Marcel dengan bogemannya.


"Kau pikir anakku sebuah mainan. hah!! " emosi Ayah sekarang sudah berapi api, ia tidak segan berteriak walaupun sekarang keberadaannya sedang di rumah Sakit sekalipun.


" aku berurusan dengan Yoona, bukan sama om. " ucap Marchel sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


Yoona? Jangan ditanya ia merosotkan tubuhnya ke lantai ia menangis keras disana, ia sudah tidak tahan cobaan apa lagi yang Allah berikan saat ini rasanya Yoona sudah tidak tahan hidup.


Papa Afgan ? Jangan lupakan kebodohannya yang telah memilih mempercayai anak sambungnya ketimbang anaknya sendiri, hingga saat ini ia tidak bisa bergerak dibawah kekuasaan seorang Marchel.Ia menangis meratapi nasib pernikahan anaknya yang masih terbilang baru di mulai oleh anaknya.


Setelah Yoona menimbang akan keputusannya ia memikirkan bahwa ia juga tidak bisa bertahan tanpa adanya suaminya, ia juga ingin melihat Afgan sembuh dan bisa melihat keluarga kecilnya seperti dulu lagi.


Yoona berdiri kemudian menghapus air matanya.


"Aku bersedia... " ucapnya tegas


Senyum Marcel mengembang mendengar perkataan Yoona, tidak sia-sia ia melakukan hal bodoh seperti ini, walau menunggu sedikit lama tetapi usahanya membuahkan hasil.


Mama mertuanya menghampiri Yoona " kau.. Kenapa berjuang demi anakku " ucapnya sambil memeluk anak mantunya.


"Aku ingin suamiku sembuh " ucapnya sambil berurai air mata di pelukan ibu Suaminya.


Keduanya menangis saling berpelukan saling menguatkan lalu.


Kemudian Yoona melepaskan pelukannya lalu berjalan memasuki ruang rawat Afgan.


Ia menumpahkan segalanya disana, hatinya sedang tidak baik baik saja, ia butuh Afgan yang selalu membuatnya tersenyum.


"Apakah keputusanku benar, SAYANG.." ucapnya sambil menggenggam erat tangan Afgan


Kali ini Afgan tidak merespon apa apa, tiba tiba tubuhnya tegang membuat panik Yoona kemudian lalu keluar memanggil dokter.

__ADS_1


Dokter dan suster berlarian menuju ruang rawat Afgan. Setelah kurang lebih setengah jam dokter tersebut keluar. "Kondisi pasien sekarang memburuk, saya sarankan untuk merujuknya di rumah sakit dengan fasilitas lengkap, karena rumah sakit ini tidak mempunyai alat untuk membantu Pasien bertahan " ujarnya kepada semua orang yang ada disana


" kalau begitu saya akan urus semuanya " jawab Marchel.


Kemungkinan Marchel akan mengurus kepindahan perawatan Afgan di rumah sakit terkenal di negara Singapura, kebetulan ia juga mengenal salah satu dokter disana yang tak lain adakah temannya dulu.


*****


Keberangkatan Afgan sedang dipersiapkan. Yoona naik di ambulan tempat Afgan sekarang.


"Mau kemana " ucap Marchel


" aku mau iku dengan suamiku " jawabnya


"Tidak.. Kita akan menikah hari ini " cegahnya seraya menarik tangan Yoona


"Apa!!! " Yoona tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya sekarang.


" iya . SEKARANG AKU GAK MAU TAHU HARI INI KITA MENIKAH. " tegasnya


"Jangan bodoh, aku mau ikut Afgan " jawab ketus Yoona sambil berusaha melepaskan cengkraman Marchel


"Coba saja kalau bisa " Marchel menyeringai lalu mengendong tubuh Yoona bak karung beras.


" aaaa.. Lepaskan Marchel kau gila.. " teriaknya sambil memukul keras punggung Marchel, tetapi Marchel tidak merubah keputusannya hingga sampailah mereka di mobilnya dan segera mungkin menurunkan tubuh Yoona masuk kedalam mobil, Yoona memberontak ingin keluar tetapi ia kalah cepat dengan gerakan Marchel.


Marchel sudah berada di mobil, ia secepat kilat mengendarai mobilnya menuju KUA. Ia ingin secepatnya mengikat Yoona dengan ikatan pernikahan.


*****


Mama Afgan mendampingi anaknya, ia juga di biayai keberangkatannya oleh Marchel.


Sekarang ia sudah berada di rumah sakit besar Singapura. Ia menunggu anaknya di.


.


.


.


.


.


Yoona sedang dirias ia memakai gaun berwarna ungu muda, terlihat elegan dan pas untuk Yoona.


...



...


"Apa yang aku lakukan... Aku menghianatimu Sayang... " ucapnya sambil berurai air mata.


"Maaf  mbak.. Jangan nangis terus dong. Nanti make up nya luntur " ujar perias tersebut. Yoona tersenyum getir Sebagai balasannya, lalu ia menghapus air matanya dan berusaha tetap tenang, tetapi pikirannya terganggu akan keadaan Afgan. Ia berinisiatif mengambil ponselnya dan menghubungi Mama mertuanya.


[Halo mah.. Gimana kabarnya sehat disana kan mah.. ] ucap Yoona kepada Mama mertuanya diseberang ponsel. Ia hanya sekedar basa basi, ada perasaan tidak enak kepada Mama mertuanya itu, mengingat ia akan menikah lagi.


[Alhamdulillah baik nak.. Gimana? Lancar ]  Mama mertuanya


[Apanya mah? ] Yoona load


[Pernikahanmu. ] ujar Mama Afgan, seenggaknya ia harus bersikap baik kepada menantunya yang mengorbankan perasaannya hanya untuk menyelamatkan anaknya.


Yoona terisak di seberang telepon bisa didengar isakan yang memilukan yang pernah Mama dengar dari seorang wanita. Dulu dia juga menangis karena suaminya menikah lagi, tetapi ini menantunya yang menikah lagi, tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya kembali terluka setelah sekian lama. Tetapi ini demi anak semata wayang nya.


[Kenapa menangis nak.. Kamu harus bahagia, jangan pikirkan Afgan ] ujar Mama


[Mama... Kenapa rasanya begitu sakit, dadaku sesak mah.. Aku gak sanggup ]


[Stt!!! Jangan ngomong seperti itu, kamu harus kuat. Anak Mama harus kuat OKE!! ] ujar Mama setegar mungkin


[ Mama.. Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu kepada suamiku, aku hanya ingin menyelamatkan nya dari mala bahaya ini mah. Tolong maafkan aku..] ujar Yoona bergetar karena tangisannya.


[ Mama yang seharusnya berterima kasih padamu nak.. ] sudah cukup, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, mereka Menangis bersama.


.


.


.


..

__ADS_1


APA YANG AKAN TERJADI AKU SENDIRI PUN TAK TAHU, SEMOGA AUTHOR DIBERI AKAL ENCER.😁😂


Bersambung....


__ADS_2