SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 22~TERUNGKAP


__ADS_3


Afgan menggercapkan matanya saat


silau terkena cahaya lampu di kamarnya.


Ia melihat istrinya tertidur di dekapannya, sekilas ia tersenyum saat  melihat muka polos istrinya saat tidur. Ia mencium kening istrinya lalu beralih kedua pipinya dan berakhir di bibir mungil milik Yoona.


Sedikit lama ia mencium bibir manis istrinya bahkan sekarang ciuman itu menjadi lebih menuntut. Yoona membelalakkan matanya saat ia kehabisan nafasnya ia mendorong pelan pundak Afgan membuat Afgan tersadar dan melepas ciumannya.


"Kita lakukan sekarang " ucap Afgan sudah tersulut gairahnya sesuatu dibawah sana ingin merasakan sebuah pelepasan


Yoona menggigit bibir bawahnya saat Afgan menyeringai, ia mengangguk sedikit ragu dan.. " tapi ini masih pagi Yang.." ucap Yoona mencoba bernegosiasi


"Mau pagi, siang , ataupun malam itu tidak penting " ucap enteng Afgan


Yoona mengangguk mantap, ia juga ingin merasakan surga dunia.


Afgan memulai permainannya dimulai dari menciumi seluruh wajah cantik istrinya dan beralih di leher jenjang istrinya menyesapnya membuat tanda disana, Yoona bergerak gerak gelisah saat Afgan memberikan tanda tersebut, kepalanya mendongak memberikan akses pada Afgan.


Afgan turun dari leher menuju dada istrinya yang masih terbungkus kaosnya. Ia merubah posisi mereka menjadi duduk, Yoona terduduk di pangkuan suaminya.


Yoona bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di sela paha suaminya, dengan jahilnya ia sedikit menekan pantatnya membuat Afgan berdesis, ia tersenyum jahil melihat Afgan seperti ini.


Afgan menaikkan kaos Yoona hingga kaos tersebut terlepas dari tubuh Yoona, ia mencari pengait b*a Yoona dan melepaskan kain terakhir yang menutupi tubuh seksi istrinya. Ia membaringkan Yoona kembali menciumi belahan istrinya dan beralih mel***t dada istrinya.


Yoona menutup mulutnya ia tidak kuasa ingin mengeluarkan apa yang ia rasakan sekarang.


" tidak apa apa keluarkan suaramu sayang " ucap Afgan sambil menyingkirkan tangan Yoona dari mulutnya


Ciuman Afgan semakin turun hingga sampai di pangkal paha Yoona.


"Ahh...." saat Yoona merasakan bibir lembut Afgan menyentuh area sensitifnya yang masih berbalut roknya


" yeahh.. Terus keluarkan desahanmu SAYANG... " ucap Afgan disela sela kegiatannya


Hari masih pagi buta waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi tetapi mereka baru saja memulai permainan dewasanya.


Tangan Afgan mengusap lembut paha Yoona yang terbalut rok yang panjangnya selutut, seiring dengan usapannya membuat rok tersebut menyibak keatas hingga sampai terlihat sehelai kain yang menutupi area V istrinya, ia menyibakkan sedikit ****** ***** istrinya membuat jari telunjuknya bisa merasakan benda lembut yang sedikit basah karena ulah nya.


" Ahhh.. Yaaangg..emmhh" saat jari suaminya mengobrak abrik miliknya, tak kuasa ia mengeluarkan desahannya beriringan dengan pergerakan tangan Afgan semakin dipercepat.


"Ah... Sshh.. Gaannn.. Sudah " ucap Yoona meminta Afgan untuk memberhentikan kegiatannya

__ADS_1


Afgan merasa jemarinya  terjepit ia semakin menekan jarinya kedalam hingga menancap sepenuhnya kedalam lubang kenikmatan milik istrinya, ia menginginkan istrinya semakin mendesah ia menambah dua jarinya, hingga tiga jari masuk kedalam lubang sempit milik istrinya.


" ah.. Ah.. Ah..  Gaann... Ah. Ssshh.. " racaunya seiring dengan gerakan dari Afgan


Hingga pada akhirnya Afgan merasakan ada yang mengalir keluar dari milik istrinya, ia mengeluarkan jarinya dan mengemut jari jarinya tanpa jijik, lalu melorotkan ****** ***** milik istrinya dan beralih menyapukan lidahnya di pangkal paha istrinya.


Yoona semakin menggeliat ia tidak nyaman seperti ini, membuat ia mengabit kepala suaminya dengan kedua kakinya saat suaminya sibuk dengan kegiatannya.


Setelah Afgan selesai dengan kegiatannya, ia melepaskan seluruh pakaiannya juga istrinya tanpa sehelai kain.


Afgan membuka kedua kaki Yoona lebih lebar lagi, ia mengarahkan miliknya ke milik istrinya. Sekuat tenaga ia menerobos lubang istrinya yang masih tersegel, sekuat tenaga juga Yoona meremas kain sprei dan menjerit kesakitan saat miliknya terkoyak oleh benda tumpul dan besar.


"AHH..... SAYAANGGG..." jerit Yoona bersamaan dengan hentakan Afgan sedikit keras.


"Sshh..." Afgan berdesis saat miliknya terjepit oleh benda lembut milik istrinya, ia masih menikmati sensasi itu, ia belum menggerakkan miliknya.


"Ah.. Sakit Gaaann..." ucap Yoona sambil berlinang air mata, bahkan saat inipun Afgan belum menggerakkan tubuhnya tetapi reaksi istrinya sangat memilukan. Ia menggerakkan miliknya maju mundur dengan perlahan sambil menikmati ekspresi Yoona yang kesakitan sedikit ada nikmat, sesekali Yoona menggigit bibir bawahnya saat tidak kuasa menahan suaranya.


" oh.. Sayangg... Ah.. " desah Yoona, sekarang perlahan demi perlahan rasa sakit yang ia rasakan pertama kali sedikit berkurang yang ada hanya rasa geli dan nikmat saat benda besar itu bergerak keluar masuk dari miliknya.


"Yeah.. Baby..hh.. Panggil suamimu ini " titah Afgan sambil menggenjot istrinya


"Sayaangg.... Ah.. " desah Yoona saat Afgan sedikit menaikkan ritmenya menjadi sedang, tubuhnya bergerak berirama dengan hentakan Afgan.


"Emmhh..." Yoona menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat seiring dengan Afgan menambah ritmenya menjadi cepat.


"Sttt!! Panggil suamimu baby.." tegas Afgan


"S-sayaaang... Ah... Afgan...ah.ah.." desah Yoona semakin menjadi jadi.


Membuat Afgan menjadi membabi buta dengan tubuh istrinya.


Sedikit lagi Afgan akan mencapai puncaknya setelah empat kali menyemburkan benihnya didalam rahim istrinya.


"Ah.." desah keduanya pelan pelan Afgan mencabut miliknya, ia berbaring dan memeluk erat istrinya


Yoona mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan didalam dekapan suaminya. Ia memeluk erat suaminya seakan tidak mau kehilangan walau hanya sedetik pun itu.


"Aku harap kamu percaya denganku." ucap Yoona sambil berlinang air mata.


Afgan merasakan dadanya basah akibat.


"Kenapa hm!! Cerita sama aku " Afgan sedikit mengeratkan pelukannya agar Yoona lebih tenang.

__ADS_1


"A-aku gak mau kehilanganmu" Yoona terisak " maaf.." ucap lirih Yoona.


"Kenapa sih!! Cerita deh " Afgan menatap istrinya setelah ia mengendurkan pelukannya


"Marchel... " Yoona masih bingung mau menjelaskan dari mana


"Kenapa? " Afgan sedikit meninggikan suaranya saat ia mendengar nama itu.


" Marchel... Emm.. Ki- kitaa... Hiks... Sayangg maaf" Yoona terisak


"Kenapa hm!! Aku tanya sama kamu " ucap Afgan sambil menggoyang goyangkan pundak istrinya


" kita.... Kita m- menikah.." ucap Yoona sedikit bergetar


"APA!!!" Afgan terkejut bukan main, ia langsung merubah Posisinya menjadi duduk ia menatap lekat wajah istrinya, terlihat ia sangat ketakutan saat Afgan menatapnya tajam.


"Apa kamu bilang... Menikah.." Afgan, Yoona meneteskan air matanya


Afgan beralih menindih tubuh istrinya, sekarang ia sudah terbalut amarahnya, tubuhnya yang tadi lemah setelah melakukan kegiatannya sekarang tidak terasa, yang ada hanya kekesalan padSEBUAH RADAa Istrinya.


"Katakan padaku kalau kamu bohong" Afgan membuka lebar kedua kaki Yoona.


Yoona menggeleng pelan, ia tidak bisa berkata apa apa.


Dengan sekali hentakan milik Afgan kembali mengobrak abrik area istrinya, jika tadi Yoona mendesah kenikmatan, sekarang ia menjerit jerit kesakitan, sekarang Afgan melakukannya dengan kasar dan brutal.


" katakan hm!! " Afgan berbisik ditelinga Yoona


"Mmmmhh... Gaann... Pelan pelan... Sakit...." jerit Yoona tak peduli jika suaranya didengar oleh mertuanya yang ia lakukan sekarang hanya dengan menjerit ia sedikit meredakan rasa sakit ia rasa sekarang.


"Sssstt!! Katakan cepat hah! " bentak Afgan semakin menancapkan miliknya dengan dalam, Yoona semakin kelonjotan beriringan dengan hentakan milik suaminya.


"D-demi kamuuh.. Uh.. Hhhh"  Yoona berusaha berbicara normal nyatanya hentakan tersebut membuat ia tidak kuasa mengucapkan kata kata.


"Ma' maaf... Ah. Ah. Ah. S-sayangg..." Yoona mencengkram pinggang Afgan berharap supaya menghentikan kelakuan suaminya yang berlebihan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2