
Sudah seminggu sejak kejadian hari pertama masuk kerjaan Yoona, sejak saat itu ia agak menjauh dari Marchel. Meskipun ia sudah memberitahukan kejadian di hari pertamanya masuk kerja kepada Afgan, Afgan menyuruhnya untuk bertahan sampai menjelang hari pernikahannya. Walau Afgan tak terima dengan perlakuan Marchel terhadap calon istrinya tetapi ia tidak membuat istrinya khawatir dan harus berfikir positif, itu kata hatinya.
Hari ini karena weekend mereka berencana mencari tempat untuk merintis usahanya, mereka sedang berkeliling, Yoona menyarankan tempat didekat kampus, karena selain tempatnya yang strategis, banyak kalangan anak muda disana. Dan Afgan menyetujui pemikiran Yoona
Setelah mereka sepakat kemudian mere menyewa ruko didekat kampus, setidaknya usaha harus dilakukan
mulai dari nol. Mereka sekarang sedang duduk di ruko yang ia sewa sekedar beristirahat.
"Yang.. Gimana oke kan?" tanya Yoona
"Bagus Yang.. Aku suka sewanya juga lumayan murah sih " Afgan
"Makanya suatu usaha harus dilakukan dari kecil, insyaallah seiring berjalannya waktu akan berkembang, syukur syukur berkembang pesat" ucap Yoona memberi pengertian pada Afgan, Afgan sedari tadi melihat Yoona dengan tatapan yang tidak biasa.
Yoona yang ditatap seperti itu berusaha tidak salting (salah tingkah).
"Iya sayang.. Sayangku ini pinter banget deh, jadi makin tambah sayang" ucap Afgan sambil mengacak rambut
"😊😊 ya jangan di acak acak juga rambut aku Yang" ucap Yoona sambil menabok lengan Afgan
"Aduh Yang.. Sakit" ucap Afgan sambil memegang lengannya yang terasa kebas
"Heheh maaf kurang keras ya Yang.." ucap Yoona sambil cengar cengir dijawab pelototan dari mata Afgan
"Canda sayang✌🏻 " tambah Yoona
"Eh iya.. Aku langsung pulang ya" Yoona
"Iya.. Aku mampir bentar boleh kan, sambil menyapa bibi Sari" tanya Afgan
"Tentu" Yoona
Mereka memasuki mobilnya dan pergi ke kost tempat tinggal Yoona.
Sesampainya di kost Yoona mengajak Afgan masuk dan bertemu bibi.
"Loh sudah pulang Yoo.." bibi Sari
"Iya bi.. Tania belum pulang?" tanya Yoona
"Akhir akhir ini ia sangat sibuk dihari pertama kerja." bibi Sari
"Selamat sore bibi.. Apa kabar" sapa Afgan
"Baik Gan, alhamdulillah" jawab bibi
"Ayo masuk, bibi buatkan minum dulu" tambah bibi Sari
"Iya bi.." Afgan masuk kedalam dan menunggu di ruang tamu, "aku tinggal bentar bantu bibi" pamit Yoona
"Iya.. Jangan lama lama" ucap Afgan sambil tersenyum
"Emm" diangguki oleh Yoona
Setelah Yoona pergi membantu bibi Sari, tak berapa lama Yoona datang membawa secangkir kopi dan beberapa cemilan.
Bibi Sari pamit untuk ke supermarket dekat sini. Setelah bibi pergi Afgan merekatkan duduknya dengan Yoona.
"Yang... sini deh" panggil Afgan
"Apa?" jawab Yoona
"Sini bentar, mau tak bilangin sesuatu" ucap Afgan
Yoona mendekat kepada Afgan, setelah dirasa Afgan bisa meraih pinggang Yoona, ia menarik tubuh Yoona hingga berpindah dipangkuannya.
"Gan.. Apasih" Yoona sambil ingin lepas dari Afgan tetapi tidak bisa, kedua kaki Yoona dihimpit oleh kedua kaki Afgan
"Lagian, istri aku ini mudah dikerjai sih" ucap Afgan sambil mengeratkan tubuh Yoona hingga menempel sempurna di dada bidangnya.
"Gan.. Sesak nafas" adunya.
__ADS_1
Afgan mengendurkan pelukannya, dan menatap Yoona, ia menarik turunkan tangannya di punggung Yoona dengan lembut.
"Gan.. Geli jangan seperti ini" Yoona sambil mendorong dada Afgan.
Afgan menyeringai setelah melihat ekspresi Yoona seperti ini. Mungkin setelah mereka menikah ia akan dilihatkan pemandangan lebih dari ekspresi Yoona sekarang.
"Gan.." ucap Yoona
Afgan memegang kedua pipi Yoona dan beralih mengusap bibir mungil Yoona dengan jempolnya, satu tangannya memegang tengkuk Yoona, setelah itu terjadilah pertautan antara bibir Yoona dan Afgan, Afgan sangat lihai mengecup bibir Yoona, sedangkan Yoona hanya melotot tak bergerak membalas ciuman dari Afgan.
Setelah dirasa pasokan udara Yoona habis, ia memberontak dengan memukul dada Afgan, lalu Afgan melepas pertautannya. Ia masih kurang, kemudian ia kembali mencium bibir Yoona ********** dengan lembut Yoona masih berdiam tak membalas karena ini baru pertama kalinya untuknya walaupun Yoona sudah menjalin hubungan empat tahun lamanya ia tidak pernah berbuat lebih dari sekedar bergandeng tangan.
Merasa bahwa Afgan tidak mendapat balasan, ia menggigit bibir bawah Yoona "ahh."ucap Yoona refleks karena Afgan menggigitnya dengan agak keras, setelah Yoona membuka mulutnya lidah Afgan masuk kedalam mulut Yoona dan menjelajahinya, Yoona mendorong dada Afgan tetapi tidak bisa, karena ia sudah dikunci dengan tangan kekar Afgan yang dikalungkan dilehernya mengeratkan pelukannya.
Tania bersama Ishita dan Rendy melihat mereka, "aduh.. Aku tahu kalian akan segera menikah, tetapi ya tahu tempatlah " ucap Tania sambil nyelonong didepan mereka. Yoona menyadari ada teman temannya ia memberontak. Tetapi Afgan tidak bergeming ia masih belum puas ia masih meneruskan kegiatan mereka.
"Mereka yang ciuman kok gue yang malu"gerutu Tania saat berada dalam kamarnya.
Rendy melihat itu jadi bernafsu, ia menarik Ishita dan duduk disebelah Afgan dengan kursi terpisah. Ia mendudukkan Ishita di pangkuannya.
"Kita lakukan seperti Afgan" ucap Rendy
"Apa?" kaget Ishita
"Iya kita lakukan seperti ini " cup Rendy mengecup sekilas bibir Ishita
"Apa!! Dasar tidak tahu malu" ketusnya sambil akan beranjak dari tidurnya tetapi langsung dicegah oleh Rendy, tanpa Ba Bi Bu Rendy menyambar bibir ranum istrinya, ******* tak kalah rakus dengan Afgan, sedang asyiknya mereka melakukan kegiatan tersebut, bibi Sari datang
"Astagfirullah.." kaget bibi Sari melihat dua pasangan sedang bercumbu, mereka semua langsung melepas tautannya melihat bibi nya datang, Yoona dan Ishita salah tingkah langsung meninggalkan lara lelaki.
Yoona dan Ishita sudah di kamar nya, sampai kamar pun mereka berdua karena Tania berada dikamar Yoona ia menegur mereka.
"Sudah selesai" ucap Tania sambil memainkan hpnya.
"Apa nya?" Yoona
"Enak ya.. "Tanya Tania
"Lumayan" ucap Ishita sambil mengusap bibirnya yang masih basah akibat ulah suaminya itu
Diluar Rendy dan Afgan sedang berbincang bincang.
"Pak.. Kan bapak sudah pengalaman nih." Afgan
"Terus?" Rendy
"Caranya buat muasin cewek itu kayak gimana?" sebenarnya ia sudah searching di Google tetapi ia tetap akan bertanya langsung kepada yang sudah berpengalaman.
"Di Google banyak" jawab Rendy
"Yaelah pak.. Pelit amat sih bagi ilmunya dong."ucap Afgan
Bibi Sari sedang menyiapkan makan malam dibantu oleh Yoona, Ishita, Tania. Sedangkan Rendy dan Afgan sedang mengobrol di ruang tamu.
Setelah semua siap, mereka memanggil para lelaki untuk segera makan karena hari sudah malam.
Mereka makan malam bersama, kadang mereka bicara seperlunya karena sedang makan jadi kebiasaan mereka kalau makan cukup makan tidak saling bercanda, itu prinsip bibi Sari.
Setelah seselai makan, mereka bicara diruang tamu.
"Semuanya saya ingin bicara sesuatu." ucap Rendy
"Bicara apa Ren.." jawab bibi
"Mohon doanya supaya diberi kemudahan, Ishita sudah mulai mengikuti program kehamilan."
"Ah.. Syukurlah semoga cepat diberi momongan" jawab Bibi Sari dengan riang
"Yee... Asyikk punya keponakan deh aku " sahut Tania
"Iya.. Seru tuh kayaknya, rame juga jadinya " ucap Yoona
"Iya.. Kita bentar lagi juga punya anak kok" sahut Afgan, semua orang menatap Afgan dengan tatapan yang tidak bisa diartikannya.
"Belum menikah juga, ngaco' kamu " ucap Yoona
__ADS_1
"Kalau kita sudah menikah maksudku, gitu aja kok ngambek sih Yang.." ucap Afgan
"makanya cepet cepet dihalalin dong " ucap Rendy
"Tinggal nunggu hari H, kurang lebih dua bulan lagi, oh iya aku juga mau ngomong sama semuanya." Afgan
"Mau ngomong apa Gan.." jawab Yoona sambil menatap Afgan bingung
"Mau minta doa restu nya juga, mau merintis usaha restoran bersama Yoona, doakan saja semoga lancar bisa berkah " ucap Afgan
"Amin..." semua orang.
"Mau buka dimana restorannya?" Tania
"Deket kampus itu loh, kios sebelah Rumah Sakit" jawab Yoona
"Wah.. Aku bakal sering mampir kesitu dong " ucap Tania
"Harus dong, promosikan juga ke temen temen kamu" kekeh Yoona
"Siyap itu mah " Tania
Setelah selesai mengobrol Rendy dan Ishita pamit pulang, Afgan juga pamit pulang.
Rendy dan Ishita sudah berjalan duluan, mereka masuk mobil.
Yoona dan Afgan masih asyik mengobrol di depan gerbang.
"Yang, gak ikut aku pulang " ucap Afgan
"Ngapain disana?" jawab Yoona
"Kan kita mau menikah kenapa gak belajar jadi istri dulu sih "kekeh Afgan
"Maksudnya gimana? " load Yoona
"Idihh.. Gak peka banget sih Yang.." ucap Afgan ambigu
"Apa sih Afgan.. Jangan buat aku bingung deh " jawab Yoona
"Gak jadi deh, nanti kalau kita sudah menikah, aku ajarin jadi istri yang baik" ucap Afgan cengar cengir
"Mulai deh, udah sana pulang " usir Yoona
"Yang.." Afgan
"Hm" jawab Yoona
"Hadiahnya " ucap Afgan sambil kode nunjuk pipi
"Malu Gan.. Ini tempat umum" jawab Yoona
"Ya udah deh, biar aku aja yang beri hadiah untukmu "
Afgan mendekat kearah Yoona, ia menunduk mensejajarkan dengan wajah Yoona, ia mencium kedua pipi Yoona, lalu ia mengecup bibir Yoona, tetapi rasanya kurang ia mengecup lagi eh bukan, sedikit ada *******,
"Woyy.. Gak baik bukan muhrim malam malam ciuman ditempat umum " teriak Ishita dari dalam mobil membuat Afgan dan Yoona langsung melepaskan ciumannya.
Lalu mobil Rendy berlalu meninggalkan tempat.
"Sudah sana pulang, nanti dicariin mama" ucap Yoona
"Iya.. Aku pulang " ucap Afgan lalu mencuri ciuman dibibir Yoona
"Gan.." teriak Yoona karena Afgan sudah lari duluan.
.
.
.
...
*****
__ADS_1
Bersambung.