SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)

SEBUAH RASA (YOONA AZZURA)
SEBUAH RASA 27~KELEWATAN


__ADS_3


Rencana Yoona ingin membantu Mama mertuanya gagal total, benar Afgan tadi melakukan dengan sebentar tetapi caranya yang membuat badannya remuk redam, sudah habis latihan tinju digempur pula sama pak Suami.


Ia terbaring lemah setelah Afgan membantunya memakai pakaiannya lama lama ia tertidur, jam menunjukkan  pukul 4 sore, Afgan membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya, ia memandangi istrinya yang terlelap.


Ia tersenyum kemudian ia mengecup kening istrinya.


"Selamat tidur Sayang..." ucapnya tersenyum


Ia keluar dari kamar menuju ruang tamu, tetapi niatnya tertunda karena tenggorokannya kering, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Gan.." panggil Mama saat Afgan berada di dapur, ternyata Mama sedang menyiapkan segala sesuatu keperluan memasak.


"Iya.." jawab Afgan


"Istrimu mana?" tanya Mama


"Em... Yoona.. Ia... " ucap Afgan gelagapan


"Apa!!" tandas Mama


"Yoona barusan tidur Mah.." ucap Afgan sambil menetralkan kegugupan nya.


"Oh..... " Mama hanya berucap seperti itu


"Mentang mentang kamu perkasa kamu jangan kasar kasar sama istrimu " ujar Mama membuat Afgan tersedak air minumnya.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Afgan terbatuk lalu ia mengelap bibirnya yang sedikit ada tumpahan air minum tadi


"Mama... Kok ngomongnya gitu sih " Afgan benar benar malu setengah mati, wajahnya merah kepanasan saat Mama berucap seperti itu.


"Pttff.." Mama menahan tawanya melihat anaknya yang terlihat lucu saat disudutkan


"Mamah..." rengek Afgan menahan malu


Memang tadi Mama mendengar desahan Yoona yang terdengar jelas karena kamar tersebut tidak kedap suara, padahal Afgan dan Yoona tadi melakukan di kamar mandi tapi tidak bisa dipungkiri suara menantunya terdengar jelas sampai dapur, apakah anaknya sekasar itu saat melakukan hubungan suami istri, pikir Mama


"Kamu jangan kasar kasar dong sama Yoona, gak baik buat kesehatan menantu Mama" ujar Mama hanya diangguki oleh anaknya lalu Afgan melenggang pergi, ia mengambil jaketnya di kamar dan berpamitan kepada Mama nya.


"Mah.. Aku pergi bentar " ucap Afgan mendekati Mama nya lalu mencium pipi Mama.


"Hm.. Hati hati dijalan " jawab Mama.


*****


...



...


Afgan berjalan angkuh di lobby hotel, iya.. Dia datang ke hotel Papanya. Semua pegawai hotel menunduk memberi hormat, ia memasuki lift saat lift tersebut terbuka.


Ting..

__ADS_1


Lift terbuka, ia segera keluar dan menuju ruangan Marchel. Iya.. Dia menemui Marchel ada urusan mungkin.


Pintu dibuka lebar oleh Afgan, Marchel yang terkejut ia cepat berdiri dari kursi kebesaran nya.


"Ada apa kesini, saudaraku.." Marchel menyeringai , saat melihat yang datang adalah adik tirinya.


...



...


"Bisa bisanya kau bertanya seperti itu, Hah!!" bentak Afgan menggema di dalam ruangan tersebut.


"Tega sekali kau kepada istriku.. Apa salahnya Hah!!" tanya Afgan berapi api.


"Heh!! Kau yang bodoh Adikku.." ucap enteng Marchel " jika kau tidak ceroboh dan menerima tawaranku dulu, pasti kalian tidak akan seperti ini " tambahnya


"Apa maksudmu " Afgan


"Aku kan sudah bilang dulu, lepaskan istrimu dan duduk di kursi itu " Marchel menunjuk kursi kebesaran nya. "Jika kau tidak mau, maka istrimu akan berada digenggamanku " Marchel


"Itu bukan tawaran, sama saja kau menjebakku, MARCHEL.." Afgan menekan nama lawan bicaranya


"Kenapa kau berbuat seperti itu hah!!" ucap Afgan " kenapa kau merebut istriku setelah kau merebut Papa dariku HAH!!! apa salahku... Kau sama saja dengan ibumu yang merebut Papa dari Mama " ucap Afgan berapi api dengan menarik kerah baju milik Marchel


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Afgan berapi api meninju wajah Marchel.


"Jangan membawa nama Ibuku... Ku peringatkan kau " tegas Marchel


"Heh!!! Apa sebutan seorang wanita yang merebut suami orang, Apa?" Afgan menyeringai menatap Marchel yang mencengkram bajunya, ia menahan sakit di perutnya.


"JALANG.." ucap Afgan didepan muka Marchel.


Marchel semakin menggebu saat Afgan berkata seperti itu, ia tidak ingin Ibunya di katai seperti itu. Ia meninju Afgan di pipinya.


"Kau.. Selalu tidak bisa mengalah kepadaku, kau ambil semuanya dariku... Ambil saja nyawaku jangan mengambil apa yang sudah menjadi hakku. Dia istri sah ku,  TALAK ISTRI SIRI MU." titah Afgan kepada Marchel, ia terduduk di lantai sambil tangan kirinya memegang perut dan tangan kanannya mengelap sudut  bibirnya yang,mengeluarkan darah.


" benar.. Benar. Aku menginginkan kamu mati, supaya semuanya menjadi milikku seutuhnya, termasuk Yoona " ucap Marchel, ia menyambar mencekik Afgan, membuat Afgan kesulitan bernafas.


"Ayo.. Cepatlah mati " ucap Marchel sambil mempererat cengkraman dileher Afgan.


"Akkqq.. Hak... Akkhh.." Afgan tersengal ia kesulitan bernafas ia memegangi tangan Marchel mencoba melepaskan cengkraman nya tetapi ia tidak memiliki tenaga ia sudah lemah sekarang, perlahan menutup kedua matanya.


Cit...


Suara decitan  pintu ruangan terbuka lebar, seseorang memasuki ruangan menghampiri kedua orang yang ada disana.


"AFGAANN..." teriak seorang wanita dibelakang Marchel, membuatnya segera membalikkan badan dan melepas cengkraman di leher Afgan.


"Y-yyona..." ucap gugup Marchel saat dihadapan istri siri nya.


"AFGAN..." Yoona menyingkirkan Marchel yang menghalangi jalannya ia membawa tubuh suaminya kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Afgan... Sayang... Bangun. " ucap Yoona sudah berlinang air mata.


Ia memcoba memberi nafas buatan kepada suaminya, berkali kali tetapi tidak berhasil, ia berlari keluar ruangan meminta bantuan.


"Tolong... Tolong.. Tolong suami saya " teriak Yoona.


Marchel sedari tadi diam di tempat, ia merenungi apa yang ia lakukan barusan, kenapa bisa seperti ini.


Semua pegawai hotel berbondong bondong ke ruangan tersebut, mereka membopong tubuh lemas Afgan dengan tandu, Yoona mengikutinya dari belakang.


#####


Rumah sakit.


Yoona duduk di kursi dekat Afgan berbaring, Afgan sudah sadar sedari tadi.


Yoona menggenggam tangan Afgan.


" lain kali, jangan nekat seperti ini, " ketus Yoona, Afgan sedari tadi hanya tersenyum melihat istrinya memarahinya.


"Dia bukan manusia, dia monster Yang.. Kenapa kamu nekat sekali sih " Yoona sedari tadi memarahi Afgan, sesekali ia menabok punggung tangan Afgan.


"Ssstt... Aku baik baik saja " ucap lirih Afgan, sedikit ia rasakan lehernya memar akibat cekikan Marchel


"Bedebah kau Marchel' batin Afgan, ia menatap Yoona penuh gembira saat Yoona mengkhawatirkan nya.


******


Diluar Ruangan


"Apa jika aku  yang berada di posisi Afgan, kau berbuat seperti itu untukku" ucap pelan Marchel melihat Yoona begitu mengkhawatirkan Afgan.


"Apa aku pernah di hatimu Yoona.." ucap Marchel dengan berlinang air mata.


Ia segera keluar dari rumah sakit tersebut dan membayar administrasi perawatan Afgan.


####


Untung saja tadi Yoona memberinya nafas buatan saat masih di lokasi kejadian membuat Afgan segera usai dari kritisnya tadi.


"Yang... " Yoona


"Hm..." Afgan


" gak jadi, istirahat aja " ucap Yoona, ia mengelus rambut Afgan yang sudah ingin marah kepadanya membuat Afgan tidak jadi memarahi nya.


Perlahan Afgan terlelap dalam tidurnya, sangat nyenyak membuat Yoona tersenyum lebar memandangi wajah polos milik suaminya.


.


.


..


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2