
"Hei, bangun!" suara seseorang membuat Elif tersadar dari mimpinya. Dia mengucek matanya yang masih buram dan mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk.
Dilihatnya seorang wanita sedang berdiri didepan meja kerjanya. Tangannya terlipat didada, sangat angkuh tetapi berwibawa. "Bangun!" ucapnya sekali lagi, membuat kesadaran Elif kembali sempurna.
"Nona Malika?" Elif bangkit dari kursi kerjanya, membungkuk hormat. "Kamu ini sekretaris baru sudah lalai dalam menjalankan tugas. Bagaimana nanti perusahaan kedepannya jika kamu akan terus seperti itu?" sindir manager pemasar dengan mata menyusuri ruangan baru sekretaris.
Elif bingung harus menjawab apa. Takut salah kata akan berujung petaka baginya. Dan Elif hanya memilih menunduk dan mengucapkan kata 'maaf'.
"Ada apa ini?" suara bas seseorang terdengar mengusik indera pendengaran dua wanita cantik yang sedang berdiri.
Malika langsung menghampiri presdir, saat tahu suara siapa yang baru saja terdengar. "Presdir, tadi aku menegurnya. Sekretaris baru yang anda pilih itu lalai dalam menjalankan tugasnya. Bagaimana perusahaan kedepannya jika dia terus saja seperti itu?" sembari melirik sekilas pada Elif yang menunduk.
Denga wajah datar, presdir menghampiri Elif yang masih menunduk. "Biar aku yang berbicara padanya. Lebih baik kamu pulang. Ini sudah pukul lima sore." titah presdir tanpa membalas perkataan yang diucapkan Malika tadi.
Manager pemasar tampak kesal dengan sikap acuh yang ditunjukkan presdir. "Presdir, anda seharusnya lebih ketat lagi dalam memilih seseorang yang akan bekerja diperusahaan ini." Malika terus berusaha membuat presdir Dex sedikit peduli dengan ucapannya. Tetapi nyatanya tidak. Semua perkataanya bagai angin lewat ditelinga sang presdir.
"Sudak aku bilang, kembalilah ke ruanganmu. Sudah saatnya pulang." kali ini presdir berbicara dengan sedikit nada penekanan. Hal itu membuat Malika hanya dapat diam dan segera pergi.
Tinggalah presdir dan Elif didalam ruangan. Elif teringat pada mimpinya, dimana presdir menghukumnya dengan sebuah ciuman.
Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan sekarang? pikir Elif ketika melihat langkah kaki yang terus mendekat.
Presdir tersenyum simpul melihat wajah cantik sang MATE. Ingatan presdir pun kembali menyergap. Kejadian tadi adalah nyata, bukan mimpi. Dia sudah berhasil sedikit demi sedikit menandai bahwa gadis yang ada dihadapannya hanya miliknya seorang. Yaitu dengan mencuri ciuman pertamanya.
Tetapi, karena kekuatan tersembunyi presdir maka kejadian nyata itu seperti mimpi. Sungguh sangat pintar sekali presdir menutup kejadian yang menguntungkan dirinya itu.
"Jangan ulangi lagi. Atau kamu tidak akan lulus dalam ujian ini. Mengerti?" presdir mengikis jaraknya agar dapat mencium bau bunga Ru Shi yang begitu harum.
Elif mengangguk patuh. "Baik, presdir."
"Pintar." puji presdir.
Tunggu!
Apa Elif tidak salah mendengar tadi?
__ADS_1
Presdir memujinya?
"Saatnya jam pulang. Tolong bawakan pakaian saya ke dalam mobil." setelah itu presdir berlalu dari hadapan Elif menuju lift khusus. "Baik, presdir."
Sedangkan Elif bergegas masuk ke ruangan presdir untuk mengambil apa yang diperintahkan presdir. Elif meraih jas berwarna abu-abu yang terletak dikursi kerja milik presdir. Tak lupa ia juga membawakan tas kerja berwarna hitam yang berada disofa ruangan.
Setelah semuanya lengkap, Elif kembali ke ruangannya. Meraih tasnya dan memasukkan tablet ke laci meja kerjanya. Lalu segera turun menyusul presdir yang sepertinya sudah menunggu di mobil.
Ting!
Pintu lift khusus petinggi terbuka. Tampak presdir berjalan dengan tangan dimasukkan ke dlam saku celananya. Matanya fokus pada jalan yang ia lewati menuju lobby. Semua karyawan menunduk hormat ketika ia lewat.
"Selamat sore presdir."
"Sore."
Tak lama kemudian, Elif muncul dari lift biasa untuk karyawan. Dia berjalan menuju lobby yang ramai oleh para karyawan perusahaan. Terlihat presdir dengan santai duduk dikursi belakang mobil. Matanya melirik sekilas ke arah wanita yang sedang berjalan menghampirinya.
"Cantik." pujinya dengan nada pelan.
"Sore, presdir." sapanya ramah ketika sudah masuk ke dalam mobil. "Sore." balas presdir.
Elif mengetuk kaca mobil dengan pelan sebanyak tiga kali. Presdir segera menoleh dan membuka kaca mobil.
"Selamat sore, presdir." sapa Elif, ramah.
"Sore. Masuklah." setelah itu Elif bergegas pindah ke pintu mobil satunya. Berniat memberikan jas dan juga tas pada presdir.
"Masuklah."
Elif memandang presdir dengan tatapan bingung. Apa maksud presdir tadi? Masuk?
"Silakan presdir. Ini barang-barang milik anda." ditaruhnya jas dan tas diatas kursi sebelah presdir. "Saya bilang masuk." belum sempat tertata sempurna, suara presdir kembali terdengar.
"Tapi, presdir?"
__ADS_1
Javier yang melihat hal tersebut segera menoleh ke belakang. "Nona, silakan masuk ke dalam mobil. Sopir akan mengantar nona nanti." ucapan Javier menyadarkan Elif dari kebingungannya.
Terpaksa Elif masuk ke dalam mobil dengan benak penuh dengan pertanyaan. Sekali lagi Elif mengingat-ingat apa yang tertulis dibuku sekretaris. Disana tidak ada kata 'mengantar'. Lalu, kenapa juga presdir harus mengantarnya pulang? Apa tidak berlebihan?
Elif menggenggam erat jas dan tas milik presdir ketika mobil mulai melaju di jalan raya. Tanpa disadari Elif, Malika melihatnya masuk ke dalam mobil mewah presdir. Dan terlihat wajah tak suka ketika mobil mulai berjalan meninggalkan lobby perusahaan.
"Dia sudah mulai berani bertindak lebih rupanya. Dasar wanita licik."
***
Sesampainya dikediaman Kandou setelah tadi mengantar Elif pulang, presdir segera turun dari mobilnya bersama Javier. Dia berjalan dengan jas abu-abu terlampir dipundaknya seperti biasa. Itulah gaya khas sang presdir ketika kembali dari perusahaan.
"Rupanya ini semua rencana lo, ya?" Javier menebak apa yang ada didalam pikiran saudaranya ketika mereka masuk ke dalam kediaman.
"Tebakan lo memang nggak pernah salah." balas presdir terus berjalan masuk ke dalam. Ia berniat menemui sofu yang selalu berada di laboratorium.
Javier tersenyum mendengar jawaban dari saudaranya. Ia memang mempunyai kekuatan khusus yaitu dapat membaca pikiran dan hati seseorang dengan cepat dan selalu benar. Dan hari ini dia menebak isi pikiran dan hati saudaranya.
"Sudah gue duga sebelumnya. Lo pasti bakal ngelakuin itu sama dia." Javier terkekeh.
Presdir menyunggingkan senyum khas disudut bibirnya. Ternyata rencananya sudah diketahui saudaranya. Lebih tepatnya alasannya melakukan hal tersebut.
"Bagus kalau begitu. Gue bakal selalu dukung." tepukan singkat mengakhiri perjalanan mereka. Javier naik ke lantai dua dimana kamarnya berada, sedangkan presdir memilih menemui sofu terlebih dahulu untuk membicarakan hal penting.
*
*
*
*
*
Hayo, siapa yang tau apa yang mereka bahas tadi? Yuk koment dibawah. Jangan lupa like dan hadiahnya. Selamat membaca. Semoga terhibur.
__ADS_1