
Byur!!!
Uhuk! Uhuk!
Dengan segala keberaniannya, Malika menyiram segelas air dingin ke wajah Marco. Dirinya sudah jengah mendengar racauan tidak jelas tentang nama wanita yang membuanya kesal. Siapa lagi kalau bukan, Elif?
Aditya dengan sigap menyerahkan handuk kepada Marco yang kedinginan. Dia berdiri tak jauh dari Marco tidur. Bersiap menerima semprotan kata-kata dari atasannya yang baru saja sadar.
"Siapa yang berani menyiramku, ha?!!!" tanya Marco sembari melemparkan handuk yang tadi ia gunakan untuk mengusap air dingin yang ada diwajah dan baju kemejanya dengan marah. Karena baru kali ini ada yang dengan berani menyiram air diwajahnya. Dan yang lebih parahnya, air itu adalah air dingin, keluaran kulkas.
Malika duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang Marco duduki. Kakinya ia silangkan dengan tangan bersedekap di depan dada. Tangannya tergerak membenarkan helai rambut yang menutupi sebagian wajah cantiknya itu. Terlihat santai dan enjoy. Tak ada rasa takut saat melihat Marco yang sedang marah akibat perbuatannya.
"Aditya, sekarang kamu sudah berani bertingkah lebih ya? Dasar bawahan kurang ajar!" Marco bangkit dari tempatnya duduk dan hendak menghajar Aditya. Namun, suara Malika menghentikan gerakan Marco. "Dia tidak bersalah. Aku yang menyiram wajahmu, tuan Marco."
Marco menoleh seketika. Memandang wajah cantik wanita yang sepertinya ia kenal. "Oh, mantan?"
Malika memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Marco. "Ternyata mantanku sekarang sedang menginginkan wanita, ya? Kasihan sekali." cibir Malika, membalas perkataan Marco.
"Bagaimana bisa kamu membawanya kepadaku?" bisik Marco pada Aditya yang diam saja sedari tadi. Menyimak pembicaraan dua orang yang berstatus mantan.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di lift restoran. Setelah itu, aku mengajaknya agar ikut ke apartemenmu." jawab Aditya dengan jujur.
"Dasar bodoh!" gerutu Marco.
Marco kembali duduk di sofa yang tadi ia gunakan untuk duduk ketika mabuk. Mengambil sebatang rokok dan memantiknya. Menghisap asap rokok dalam-dalam dan menghembuskannya lewat mulut, hidung dan telinga.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, tuan Marco." Malika mengingatkan Marco tentang cibirannya tadi, sekaligus pertanyaan.
__ADS_1
"Pertanyaan? Apa perlu aku jawab?" bukannya menjawab, Marco justru melempar balik pertanyaan pada Malika.
"Oh, baiklah. Ternyata memang benar apa yang ku dengar saat kau mabuk." ucap Malika.
"Kenapa kau menyukai wanita itu?" tanya Malika yang penasaran. Karena kini dua pemimpin perusahaan terpikat oleh Elif.
Dengan santai, Marco menjawab. "Entahlah. Mungkin karena dia lebih baik dan lebih cantik."
"Dariku?" selidik Malika.
"Menurutmu? Siapa mantan terakhirku?"
"Aku." jawab Malika dengan percaya diri.
Setelah Aditya menaruh handuk kecil di kamar milik atasannya, dia kembali dengan dua kaleng soda ditangannya. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Malika.
Aditya duduk disebelah Malika dengan memberi jarak. Malika membuka kaleng soda yang baru saja disodorkan oleh Aditya. Menenggak air dinginnya hingga tersisa setengah. Lalu, meletakannya di atas meja kaca.
"Mantan, maukah kau bekerjasama denganku?" tawar Malika dengan rasa percaya diri dan semangat yang menggebu.
"Bekerjasama untuk apa? Perusahaan?"
"Untuk mengambil kembali apa yang telah direbut oleh orang lain." jawab Malika dengan seringai yang membuat Marco menjadi tertarik akan tawarannya.
"Maksud, lo?"
"Kau pasti menginginkan Elif, bukan?"
__ADS_1
"Ya."
"Elif dekat dengan presdir Dex. Dia adalah pria yang akan menggantikanmu dalam hidupku, mantan. Aku ingin merebutnya dari Elif. Jadi, aku ingin kita berdua bekerjasama untuk memisahkan mereka berdua. Bukankah itu akan menjadi sebuah keuntungan?" Malika menjelaskan maksudnya.
Marco tampak berpikir setelah mendengar penjabaran tawaran dari sang mantan.
***
"Presdir, terima kasih telah mengubah malam minggu ku ini." ucap Elif dengan kepala tertunduk malu.
Presdir tersenyum mendengarnya. Ada kelegaan setelah melihat raut wajah ceria dari sang MATE. Karena itulah yang presdir inginkan. Membuat Elif tidak terus-menerus memikirkan kekuatannya itu.
Presdir sendiri merasa takut jika hal itu akan mempengaruhi fisik dan pikiran Elif. Dia tidak mau Elif menjadi orang lain. Pendiam dan lebih banyak melamun.
"Tidak perlu seperti itu. Anggap saja ini kencan untuk pertama kalinya setelah kita mempunyai ikatan. Kamu pun boleh meminta padaku, apapun itu Elif. Asal kamu bahagia, aku pun ikut bahagia." balas presdir, lalu mengecup punggung tangan Elif yang ia genggam sepanjang perjalanan.
Elif memandang wajah tampan yang ada disampingnya. Rasa tidak percaya selalu menyelimuti pikiran Elif. Kini hidupnya berubah semenjak presdir masuk ke dalam kehidupannya yang seperti neraka. Dan hal itu seperti surga bagi Elif. Inilah yang ia inginkan dari dulu. Ada seseorang yang dapat membawanya keluar dari neraka dan membawanya ke surga.
"Sekali lagi terima kasih, presdir. Karena presdir, hidupku menjadi seperti di surga."
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Masukkan ke novel FAVORIT juga yaa. Terima kasih.