
"Ayahanda! Ibunda!"
Mata dengan bulu mata lentik itu terbuka seketika. Napasnya naik turun tak beraturan. Bulir bening menetes ketika tubuh bergaun itu bangun.
Tak berapa lama, presdir datang "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya sembari duduk ditepian kasur.
Mata keduanya bertemu. Seketika itu juga Elif memundurkan tubuhnya. Beringsut ke belakang hingga punggungnya mentok. Tangannya bergetar takut. Pelipisnya pun kini basah oleh peluh.
Presdir dibuat bingung dengan perubahan sikap Elif padanya. Gurat ketakutan pun terpancar jelas dari mata abu-abunya itu. Menandakan seberapa takutnya dia saat itu.
"Elif, apa kamu baik-baik saja?" presdir mendekati Elif yang menunduk dengan tangan memegang selimut tebal yang biasa digunakan presdir untuk menjadi penghangat saat tidur.
"Berhenti!" ucapnya, membuat presdir terkejut.
Seketika itu presdir menghentikan gerakan tubuhnya mendekati Elif.
"Elif, ada apa ini?" tanya presdir.
Elif memalingkan wajahnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Hingga bulu kuduknya meremang.
Mimpi tadi, masih terus menyelimuti pikiran Elif. Sepasang suami istri yang ia panggil dengan sebutan ayahanda dan ibunda. Terlihat diwajah mereka berdua ketakutan yang luar biasa. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap, setelah suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga.
"Elif..." presdir memeluk tubuh ramping itu tanpa ragu sedikitpun.
__ADS_1
"Presdir..." lirih Elif.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Apa mata saya salah melihat. Kenapa anda sekarang berubah?" lirih Elif, tepat ditelinga presdir.
Usapan lembut terus presdir hadiahkan untuk sang MATE. Telinganya yang super tajam itu mendengar lirihan sang MATE. "Apa kamu bisa melihat identitas ku yang asli?" kini presdir berganti melontarkan pertanyaan. Tubuhnya ia lepas perlahan dari tubuh Elif.
Presdir menatap dalam manik mata Elif. "Entah presdir. Yang pasti, sekarang yang saya lihat seperti bukan anda yang biasa saya lihat di kantor. Anda mempunyai taring. Seperti yang saya lihat diruangan itu." jujur Elif. Wajahnya menunduk takut. Karena sekarang, wajahnya begitu dekat dengan presdir.
Tentu siapapun akan takut jika didepan mereka ada seorang vampire dengan taringnya yang bisa kapan saja masuk ke dalam tubuh. Menghisap dalam-dalam darah yang mengalir dalam tubuh yang dalam waktu singkat. Membayangkannya saja sudah membuat merinding.
Tangan presdir meraih dagu Elif. Perlahan mengangkatnya hingga kedua mata dengan kornea mata berbeda warna itu saling menatap satu sama lain.
"Jangan takut. Aku tidak akan melakukan seperti yang sedang kamu pikirkan. Karena tugasku sekarang adalah menjagamu, bukan menyakitimu. Dan asal kamu tahu Elif, karena kekuatanmu yang semakin bertambah itulah kamu bisa melihat identitas ku yang sebenarnya. Kekuatanmu itu melebihi apa yang ku punya, bahkan bisa menembus dinding yang berasal dari cincin pemberian sofu. Kamu tidak perlu takut." tak seperti biasanya, presdir mengatakan dengan gamblang rangkaian kata-kata yang membuat hati sang MATE berdesir.
Elif terpaku seketika. Matanya seolah terkunci oleh tatapan sang presdir. Kini, dia tak lagi takut dengan taring yang ia lihat itu setelah mendengar penjelasan dari presdir.
"Tetaplah bersamaku, Elif. Sstelah ini kita akan melakukan ritual tepat bulan purnama nanti. Disana kita akan disatukan. Walau dunia kita berbeda dengan dunia manusia, tetapi aku ingin keduanya itu sama. Kita bisa bersama selamanya."
Cup!
Tangan Elif tergerak seketika membalas belaian lembut yang ia dapat dari presdir. Kecupan singkat namun berkali-kali itu membuat Elif termangu. Tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih belum paham.
Mulai dari pertemuannya dengan sofu di laboratorium, pakaian yang berubah menjadi gaun kerajaan dan sekarang bisa melihat identitas presdir yang ditutup oleh kekuatan cincin. Itu semua masih Elif pikirkan. Namun, tiada hasil. Dia masih belum menemukan apa yang ia cari.
__ADS_1
"Ayo kita ke taman belakang. Upacara akan dimulai beberapa menit lagi. Dan, jangan takut ketika kamu melihat banyak orang seperti diriku. Karena itu adalah kamu ku. Jika kamu takut, teruslah berada disisiku."
Cup!
***
Elif berjalan dengan jari-jemari berpautan dengan jemari presdir. Langkahnya sangat anggun dan elegan ketika berjalan diatas rumput ditaman belakang. Berhasil menyita perhatian para kaum vampire yang sedang menikmati pesta perayaan tahunan dan menunggu upacara sakral nanti ketika bulan purnama datang.
"Presdir, aku takut." lirih Elif setelah melihat manusia bertaring ada disekelilingnya. Menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Jangan takut. Mereka tidak akan berbuat yang tidak-tidak. Ppercayalah. Mereka adalah kaumku. Kaum terpercaya dari seluruh bangsa vampire."
Pautan jari-jemari itu semakin erat. Ketika menaiki sebuah tangga menuju bangunan yang biasa digunakan untuk melakukan ritual tertentu. Bangunan itu seperti kuil namun berbeda. Karena atapnya bolong, berguna sebagai jalur lewatnya kekuatan yang akan datang dari para leluhur setelah ritual itu dilaksanakan.
"Istriku, bukankah dia seorang penyihir? Anak yang pernah kamu ceritakan padaku waktu di Jepang?" chichi bertanya setelah mengingat cerita yang pernah haha ceritakan mengenai kisah masa lalu sahabatnya yang adalah seorang penyihir.
Bercerita tentang kisah sahabatnya yang mempunyai anak. Yang dulu pernah mereka buang ke alam manusia karena keadaan yang sangat genting di dunia penyihir.
Haha mengangguk ucapan suaminya. "Benar. Dia adalah anak..."
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Terima kasih.