
Semua orang telah berkumpul di ruang tamu kediaman setelah persalinan Elif selesai. Wajah yang mulanya penuh dengan senyuman kini berubah pucat. Tak ada yang membuka suara. Sampai presdir bergabung, barulah sofu angkat bicara. “Bagaimana dengan Elif? Apakah sudah lebih baik setelah meminum ramuan dan darah murni yang ku berikan, Dex?”
Presdir menghela napas sembari menggeleng, “Elif masih tidak sadarkan diri, sofu. Bahkan setelah ku beri ramuan dan darah.”
“Aku sangat mengkhawatirkannya.” Lirih presdir sembari tertunduk. Jauh dilubuk hatinya, presdir sangat takut terjadi apa-apa dengan matenya. Melihat perjuangan saat melahirkan tadi pun sudah membuat presdir merasa seperti disayat. Sangat perih. Dirinya tidak akan pernah bisa membayangkan jika mate yang telah mengirimkan anak-anaknya ke dunia harus pergi secepat ini. Tidak akan!
Haha mengelus punggung putra semata wayangnya dengan sayang. Haha tau apa yang putranya itu khawatirkan. “Tidak akan terjadi apapun pada Elif, Dex. Percayalah pada haha. Kuatkan dirimu, karena ada yang harus kamu khawatirkan lebih dari ini.” Mendengar ucapan haha, presdir lantas menatap haha dengan penuh tanda tanya.
Sofu yang melihat pergerakan dari predir segera memberi jawaban atas pertanyaan tersirat dari cucunya itu. “Semua bangsa sudah bersiap melakukan penyerangan untuk membunuh anak-anakmu. Karena mereka tidak akan tinggal diam setelah sang penguasa dunia lahir.”
Presdir terdiam setelah ingat bahaya apa yang sedang mengincar keluarganya. Kelahiran anak-anaknya memang sudah ditakdirkan akan memicu peperangan diantara semua klan. Dan sudah waktunya dirinya siap untuk menghadapi peperangan yang hanya tinggal menunggu kapan akan tiba.
“Malam bulan purnama adalah saat dimana perang akan terjadi. Sofu sangat yakin. Karena dimalam itu kekuatan semua bangsa akan terisi penuh.” Ucap sofu memberitahu tentang perkiraan perang besar akan terjadi.
Javier berpikir sejenak. Kemudian ikut membuka suara untuk mengusulkan idenya. “Jika benar seperti itu, maka sebaiknya kita menggunakan buku ramalan nama penguasa. Aku pernah membaca buku petunjuk penggunaanya. Dikatakan disana bahwasanya jika kita mengambil nama untuk seorang bayi dari buku itu, maka si bayi akan diberi kekuatan sesuai nama penguasa yang diabadikan didalam buku tersebut. Namun, sepertinya Dex sudah menyiapkan sebuah nama untuk eempat anak kembarnya.”
Presdir mengangguk, dirinya memang sudah menyiapkan nama untuk keempat anak kembarnya seperti yang sudah dia bicarakan dengan Elif. “Sebenarnya Elif yang mencarinya lewat sebuah buku. Tapi aku lupa apa nama bukunya. Ku lihat nama dan artinya bagus. Jadi, kami sepakat untuk menggunakannya nanti ketika anak kami lahir. Apa kalian tahu namanya?”
“Tentu kami ingin tahu.” Semua orang menjawab dengan kompak. Penasaran nama yang akan diberikan pada keemoat bayi kembar yang baru saja lahir.
“Baiklah. Untuk yang pertama lahir, ku beri nama Kevin Frederick Sivano Kandou. Untuk yang kedua, Brian Frederico Eliezer Kandou. Untuk yang ketiga, Deepna Cassia Angelika Kandou. Dan yang terakhir adalah Deepti Gevani Edelsteen Kandou.” Presdir pun menyebutkan nama keempat bayi kembarnya.
Semua orang terpukau setelah mendengar nama yang disebutkan oleh presdir. Berbeda dengan Javier yang terlihat syok. “Astaga, nama itu persis seperti raja dan ratu terdahulu. Apakah Elif sudah membaca buku ramalan nama penguasa? Jika benar, ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Keempat bayi ini akan mendapatkan kekuatan seperti yang dimiliki raja dan ratu yang ada dalam buku.” Beritahu Javier seperti yang dirinya tahu lewat buku yang pernah dibacanya.
Wajah yang tadinya pucat kini kembali menghadirkan senyuman. “Itu sangat bagus.” Sobo ikut menimpali. Kekhawatirannya perlahan berkurang setelah mendengar ucapan Javier.
__ADS_1
“Ini pertanda baik. Kita semua harus mempersiapkannya sebaik mungkin. Agar keempat bayi itu mendapatkan kekuatannya secara penuh.” Perintah sobo pada semua orang.
“Tentu sobo.”
*****
Tepat saat malam bulan purnama, keempat bayi kembar itu telah siap di taman belakang kediaman Kandou untuk melaksanakan ritual. Semua prajurit yang diperintahkan oleh sofu untuk menjaga kediaman pun sudah bersiap dengan berjaga disekeliling kediaman. Karena bau klan lain tercium dengan jelas.
“Bersiaplah semuanya. Mari kita gabungkan kekuatan agar bisa menarik kekuatan dari langit dengan perantara buku ramalan nama penguasa ini.” Javier memimpin diatas altar bersama keempat bayi yang nampak terlelap didalam keranjang.
Javier memejamkan mata. Mulutnya mulai merapal mantra sembari mengeluarkan kekuatannya. Semua orang mengikuti ketika Javier berkata, “Dengan perantara buku nama ramalan penguasa ini, atas nama raja Derick sang penguasa iblis, raja Fred sang penguasa serigala, ratu Cassia sang penguasa peri dan ratu Edel sang penguasa kerajaan Edelweis. Tinggalkan kekuatan suci kalian ke dalam tubuh empat bayi yang akan menjadi penguasa ini. Dos’to!”
Jdar!!!
Duar!!!
Brak!!!
Semua orang menatap ke arah puing-puing yang harus oleh sebuah kekuatan. Dan mereka tercengang ketika tahu siapa yang berubah.
“Apa kabar kalian? Lama tidak bertemu.” Ucap seseorang yang sedangd berjalan dengan pongahnya diikuti para raja dari beberapa klan dibelakangnya.
Semua orang yang melihat mendecih tak suka.
“Cih! Kau dan ibumu memang tak ada bedanya. Dan asal kau tahu, disini tak ada yang ingin bertemu denganmu. Jadi, kau perlu berpura-pura dekat dengan kami.” Presdir dengan berani menjawab ucapan lawan yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
__ADS_1
“Hahaha!!! Kau ini terlalu sombong Dexter. Seharusnya kamu menjamu kedatangan kami dengan sangat meriah. Sebelum kematianmu dan anakmu.” Balas pria yang tak lain adalah Marco.
“Oh ya? Bukankah kau dan para raja dibelakangmu yang akan mati terlebih dahulu?” ucap presdir sebelum terbang ke atas sebuah pohon.
Melihat lawannya terbang, Marco pun ikut terbang. Diikuti oleh para raja yang ikut melakukan penyerangan.
Sleretttt!!!!
Kilatan petir yang berhasil Marco ciptakan mengenai sobo dan haha. Sehingga dua wanita itu tidak bisa berjalan. Melihat hal tersebut, Marco dengan liciknya mengirimkan bola-bola runcing yang dilapisi listrik ke arah sobo dan haha yang tengah berjuang untuk bangkit dengan kekuatan mereka.
Bola-bola mulai melesat dari tangan Marco. Sedangkan presdir masih menghalau serangan bola api dari berbagai arah. Dirinya sedikit kewalahan menghadapi peperangan yang sangat tidak imbang ini.
“Rasakan ini, Dexter.” Lirih Marco seraya melesat dengan tongkat milik ibunya untuk membunuh presdir yang tengah fokus dengan serangan dari para raja.
Sedangkan Javier yang melihat bola-bola kiriman Marco segera membuat perisai untuk sobo dan haha dengan sisa tenaganya yang hampir habis untuk menarik kekuatan dari langit lewat buku ramalan nama penguasa. Setelahnya Javier tak sadarkan diri. Javier berharap kekuatan dari langit akan memberikan keajaiban.
“Dos’to.”
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Hai ges, alhamdulillah akhirnya bisa UP juga setelah sekian lama. Maapin ya kalo updatenya lama. Semoga aja kalian masih suka sama ceritanya. Kalo lupa bisa baca lagi dari awal. Makasih semua. Author tunggu semangatnya dari kalian semua.
Jangan lupa like dan koment ya. Bakal Author like balik dan dibalesin tentunya.