Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 5 {Bertemu}


__ADS_3

Haha menggenggam tangan sobo dan menempelkannya dipipi. Membuat sobo yang kala itu tengah beristirahat lantas membuka matanya secara perlahan. Bibir itu perlahan melengkung membentuk ukiran senyum setelah tahu siapa yang disampingnya.


"Sonya, kau datang?" tanya sobo pada putrinya yang kini tengah menatapnya dengan penuh kerinduan. Karena semenjak perang besar itu terjadi, keduanya berpisah. Dan sekarang mereka kembali dipertemukan.


Haha mengangguk menjawab pertanyaan dari sobo. "Aku datang karena chichi memanggilku." tambahnya dengan seutas senyum dibibirnya.


"Apa kamu sudah mendengarnya?"


"Iya."


"Selamat putriku. Sebentar lagi kamu akan menjadi sepertiku." sobo menghambur dalam pelukan putrinya. Dan haha pun tak tinggal diam, dia langsung menyambut dengan antusias.


"Terima kasih, haha. Aku bahkan tidak menyangka kebahagiaan ini akan dapat begitu cepat." perlahan pelukan itu terlepas dengan sobo yang menatap putrinya dengan wajah serius. "Haha bisa membaca semuanya. Kamu terlihat sangat khawatir, putriku." sobo membelai wajah cantik putrinya yang sangat mirip dengan sofu.


Haha hanya mampu bergeming ditempatnya. Bingung harus membalas ucapan sobo seperti apa. Karena tak dapat dipungkiri jika dirinya saat ini tengah diselimuti kebahagiaan bercampur kekhawatiran. Semuanya menjadi satu.


"Tenanglah. Kita akan berjuang bersama-sama seperti yang chichimu katakan. Kita akan mempersiapkan semuanya." sobo berusaha membuat putrinya tenang dalam keadaan yang sebenarnya sangat genting. Seolah waktu berjalan sangat cepat dan membawa mereka ke hari dimana kengerian itu tiba untuk kedua kalinya. Bahkan kali ini jauh lebih mengerikan dari yang kemarin.


Haha mengangguk lemah. "Aku percaya haha, kita pasti bisa melewati hari itu. Aku yakin." Haha meraih satu tangan sobo dan menggenggamnya dengan erat. "Harus yakin." balas sobo dengan penuh keberanian.


Di tempat lain...


Presdir mengerjapkan matanya beberapa kali ketika dirinya sadar dari mimpi yang tak ingin dia akhiri dengan cepat. Senyum terbit dibibir tipisnya yang tak biasa melengkung indah kala mengingat mimpinya tadi. Entah dorongan dari mana, tangan putih itu kini sudah mendarat diperut rata sang mate yang masih belum juga bangun dari tidurnya.


"Pere mencintai kalian. Terima kasih karena telah hadir dimimpi pere. Semoga kedepannya kita bisa ketemu lagi. Pere berharap kalian baik-baik saja disana bersama mere." ucap presdir dengan mengusap perut rata Elif dengan penuh kelembutan. Membayangkan yang dia usap adalah keempat anaknya yang begitu lucu-lucu seperti yang dia lihat dimimpi.


Setelahnya presdir bangkit dari tempatnya mengistirahatkan tubuh. Tak lupa kecupan singkat mendarat dikening sang mate. "Aku pergi dulu ya." walau presdir tahu dia tidak akan mendapat jawaban dari lawan bicaranya, presdir tetap melakukannya dengan senang hati. Berharap ketika dirinya kembali nanti, mata berbulu lentik itu sudah terbuka. Dan dia sangat menanti hari itu tiba.


Presdir melangkah menuruni satu per satu tangga menuju lantai bawah. Matanya yang tajam bergerak memindai setiap inci ruangan. Mencari sosok tampan yang biasa dia mintai pertolongan.


"Apa kamu mencari Javier?" sontak presdir menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba mengusik indera pendengarannya karena suara itu sangat tidak asing.

__ADS_1


"Haha?" bukannya menjawab, presdir justru bertanya balik. Memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


Wanita cantik yang dipanggil haha itu mendekat. Menepuk pelan bahu kekar putranya, berharap hal itu bisa mengurangi segala beban yang sedang putranya pikul. "Haha pulang untukmu dan matemu, sayang."


Ah, tunggu dulu. Presdir merasa ini seperti mimpi. Haha ada didepannya dengan senyum hangat seorang ibu yang begitu menenangkan. Belum lagi tepukan dibahunya yang selalu berhasil membuat beban yang dipikul sedikit terasa ringan. Dan ucapan sayang yang sudah lama tidak dia dengar.


Apakah semua ini mimpi? Pikirnya tidak percaya.


"Sayang, ini bukan mimpi. Haha telah datang." sekali lagi wanita cantik itu menepuk bahu putranya. Mengakhiri pikiran putranya bahwa ini adalah mimpi.


Ketika presdir sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi, dia langsung memeluk tubuh penuh kehangatan itu. Dia benar-benar merindukan haha. Wanita yang sangat dia cintai sebelum sang mate, Elif.


"Aku merindukanmu, haha." lirihnya ditelinga haha.


Haha yang mendengar itu langsung mengukir senyum dibibirnya. Tak bisa bohong, dia juga merindukan putranya. Pangeran kecil yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Huh, rasanya dia tidak akan percaya waktu berjalan sangat cepat.


Diusapnya punggung presdir dengan sayang. Disela itu haha berkata, "Selamat sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi ayah." dan hal itu sontak membuat presdir bergeming. Perlahan pelukan itu terlepas. "Apa haha sudah mengetahui semuanya?" tanya presdir, menatap manik mata haha dengan dalam.


"Apa karena itu chichi dan haha pulang ke kediaman?"


"Ya."


Presdir mengusap wajahnya setelah mendengar jawaban dari haha. Entah dia mau berkata apa lagi sekarang. Perlahan tapi pasti semua bangsa akan tahu berita besar ini, pikirnya. Bohong jika presdir tidak takut, bahkan sekarang wajahnya pun terlihat begitu gelisah. Dan haha bisa membacanya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Banyak yang mencintaimu. Dan mereka akan bersatu untuk kita semua." ucap haha dengan penuh keyakinan.


"Aku berharap begitu, haha." setelahnya ibu dan anak itu pergi ke laboratorium untuk bertemu dengan sofu yang saat itu tengah meracik ramuan baru dari tumbuhan temuannya.


Presdir duduk disebuah kursi berjejer dengan haha. Meja besi menjadi batas antara mereka dengan sofu yang masih asik meracik. Tak ingin membuang waktu lama, presdir membuka obrolan ketiga generasi itu.


"Sofu, haha, aku bertemu keempat anak kembarku bersama Elif dimimpi." katanya memulai.

__ADS_1


Sontak sofu menghentikan kegiatannya, ditatapnya sang cucu dengan serius. "Apa mereka mengatakan sesuatu padamu?" selidik sofu. Menduga pertemuan cucunya dialam mimpi dengan keempat calon cicitnya itu karena ada yang ingin mereka sampaikan.


"Ya. Mereka mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir lagi. Dialam rahim mereka akan aman. Begitu juga dengan Elif. Namun..." presdir menjeda ucapannya membuat sofu dan haha menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Apa??"


"Mereka ingin segera bertemu kita." lirih presdir.


Sofu dan haha saling pandang mendengarnya. Detik berikutnya mereka tertawa bersama.


"Haha mengira akan terjadi sesuatu, sayang."


"Iya. Kamu sudah membuat kami khawatir." sofu ikut menimpali sambil menggelengkan kepala. Ada-ada saja ulah calon ayah ini.


"Maafkan aku. Ku kira itu akan menjadi berita yang mengkhawatirkan karena belum semestinya mereka bertemu kita bukan?" ucap presdir dengan wajah bersalah karena salah mengartikan ucapan calon anaknya.


"Apa kamu tahu kenapa mereka mengatakan itu padamu?"


Presdir menggeleng.


"Karena mereka merindukan sosok yang sudah membuat mereka ada didunia ini. Dan itu adalah kamu, ayahnya."


Hati presdir meleleh seketika.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Hai ges, akhirnya kita ketemu lagi. Jangan bosen-bosen ya. Temenin author sampe tamat lho hehe. Eh author mau tanya, kalian ngga pengen ketemu sama baby D⁴? Tungguin ya ges, bentar lagi ketemu kok. Jangan lupa vote, like dan koment. Author tunggu antusias kalian ketemu baby D⁴ yaaa. Sampai jumpa dibab selanjutnya ges.


__ADS_2