
Hari demi hari terlewati dengan hati yang berat bagi Elif ketika dia berada di rumah. Orang yang membuatnya kuat itu, kini acuh padanya. Tentu Elif sangat sedih dengan perubahan sifat ayahnya yang jauh lebih cuek dari biasanya.
Ditambah lagi dengan dua wanita beda generasi itu terus saja mengompori ayahnya agar semakin menjauhi Elif. Satu tempat yang membuat Elif merasa ada didunia yang nyata ini. Tempat itu adalah kantor. Dimana ada banyak orang teman yang Elif dapat disana. Walau juga banyak yang tidak menyukai Elif, tetapi mereka tak ada yang berani mengatakannya langsung. Karena ada presdir, sehingga mereka takut.
"Malam ini, kamu harus ada dipesta. Tidak ada penolakan dengan alasan apapun." presdir menyerahkan kartu yang dibuat khusus oleh Javier untuk mengundang Elif ke acara pesta. Pesta yang akan penuh dengan kejutan nantinya.
Elif tampak ragu untuk menerima kartu undangan tersebut. Pikiran buruk ayahnya pergi malam-malam itu membuat Elif dilema. Disisi lain Elif harus mematuhi perintah presdir dan disisi lain, Elif juga sedang berusaha membuat ayahnya percaya kalau apa yang didengar ayahnya itu tidak benar.
Lalu, sekarang presdir mengundangnya ke acar pesta nanti malam?
Apa yang akan ayahnya pikirkan tentang dirinya nanti?
"Dan pakailah ini untuk nanti malam." presdir menyodorkan paperbag hitam berisi gaun pesta untuk Elif pakai diacara pesta nanti malam.
"Maaf presdir, tapi..." Elif bingung harus mengatakan apa pada atasannya itu. Semua alasan pasti akan presdir tolak.
Presdir yang bisa membaca kegelisahan Elif itu paham apa yang membuat Elif ragu untuk datang.
"Saya katakan sekali lagi, bahwa tidak ada tapi-tapian. Kamu harus ada disana atau pekerjaanmu akan hilang dalam sekejap."
__ADS_1
Elif menatap presdir dengan tatapan tidak percaya. Sebegitu pentingnya kah dia harus ada dipesta? Pikir Elif. Sehingga pekerjaan menjadi taruhannya?
"Ba-baik, presdir. Saya akan datang." dengan terpaksa Elif membalas perkataan presdir. Dan hal itu membuat predir tertawa riang dalam hatinya.
"Bagus. Sekarang kamu boleh kembali." setelah itu Elif segera kembali ke ruangannya dengan membawa kartu undangan, tablet kerja dan paperbag.
***
"Ternyata selera presdir bagus juga memilih pakaian." Elif menatap dirinya dengan tubuh berbalut gaun pesta polos berwarna merah hati. Sangat elegan ketika dipandang. Tetapi tidak bagi dua wanita beda generasi yang terlihat sangat iri melihat penampilan Elif malam itu.
"LIhat dia bu. Sok cantik banget. Palingan disana suruh ngantar minuman ke tamu saja belagu dia." Olif menatap tak suka denga gaun mahal yang dipakai saudara kembarnya itu dibalik pintu kamar.
"Astaga-naga!" Olif terkejut melihat bandrol harga gaun yang berada didalam paperbag.
Semahal-mahal baju yang dibeli oleh Olif sangat berbeda jauh dengan harga satu gaun milik Elif. Bahkan jika dipikir kembali oleh Olif, seluruh baju-bajunya itu jika dijual tidak akan cukup untuk membeli satu gaun mahal polos yang kini hanya bisa disawang oleh Olif saja. Kasihan.
"Benar tuh, paling sama ayah kamu ngga bakal boleh dan berakhir dikunci dikamar kaya dulu. Kita tunggu saja. Yuk duduk manis, daripada nunggu putri bekicot kaya dia." ibu Olif membuayrkan lamunan Olif dengan membalas perkaatan Olif tadi.
Elif tampak merias wajahnya yang sudah cantik alami itu dengan polesan make up sederhana. Tak lupa, Elif mengambil dompet kecil hasil tabungannya selama tiga tahun itu dan membawanya keluar dari kamar. Berniat menemui sang ayah yang sedang makan di meja makan.
__ADS_1
"Mau kerja kamu pakai kaya gitu?" ayah Elif bertanya tanpa melihat wajah cantik anaknya itu, namun hanya sekilas saja.
Elif berniat menjawab tetapi suara ibunya terdengar memanggil dirinya dan sang ayah. Bergegas Eif dan ayahnya melangkah ke ruang tamu kecil rumah mereka itu.
Elif terkejut ketika melihat pria berjas sedang berdiri diambang pintu rumahnya dengan sangat gagah. Tidak hanya Elif, tetapi Olif, ibu dan ayahnya pun ikut terkejut dengan kedatangan pria asing yang terlihat sangat kaya itu.
"Presdir???"
*
*
*
*
*
Jangan lupa likee, hadiah dan koment yaa. Selamat membaca. Semoga terhibut.
__ADS_1