Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 23


__ADS_3

"Bacakan jadwal hari ini!" perintahnya dengan nada datar seperti biasa.


Wajahnya menampakkan ketegasan, matanya tertuju pada satu titik dibalik kacamata hitam. Kakinya ia naikkan ke kaki satunya lagi. Tangannya terpaut oleh jari-jemarinya yang lentik.


Terlihat tidak ada senyum manis seperti yang Elif lihat tadi malam. Ada rasa sakit melihat perubahan pada diri pria yang tadi malam membuatnya terbang begitu tinggi. Seperti terhempas begitu saja saat akan mencapai titik kebahagiaan.


"Elif!" panggil presdir, membuat wanita yang sedang memegang tablet itu terhenyak.


"I-iya presdir?" ucapnya, lalu memandang mata presdir. Memberanikan diri menatap manik mata yang selalu berhasil membuatnya tersihir akan pesonanya.


Presdir menurunkan kakinya perlahan. Lalu, tangannya yang tadi terpaut satu sama lain terlepas. Detik berikutnya, presdir menarik tangan Elif. Sehingga tubuh berjas sekretaris itu terhuyung dan menabrak dada presdir.


Satu kata yang terucap ketika kini tubuh keduanya menempel layaknya magnet.


Wangi!


Aroma terapi yang dipakai presdir tercium jelas oleh indera penciuman Elif. Rasanya Elif ingin berlama-lama dalam posisi ini. Mencium aroma wangi tubuh presdir dan merasakan kehangatan dalam dekapannya.


"Kita sedang ada didunia manusia, Elif." ucap presdir, tepat di telinga Elif. Terdengar sangat lembut.


Elif mengangguk pelan. Perlahan tubuhnya ia jauhkan dari presdir. Tetapi, ketika dirinya hendak bangkit, tangan presdir justru mempererat pelukannya dipinggang Elif.

__ADS_1


"Presdir." lirihnya.


Kini kedua bola mata berbeda warna itu membentuk satu garis lurus. Keduanya terdiam selama beberapa saat. Hingga benda kenyal dan dingin itu menyatu, barulah Elif tersadar.


Ingin dia mengakhiri belitan nikmat tersebut, tetapi seluruh tubuhnya menolak. Ingin selalu seperti itu. Tetapi Elif ingat perkataan presdir jika ini didunia manusia. Tidak akan bisa semudah apa yang mereka lakukan tadi malam. Mencapai surga kenikmatan bersama-sama dalam dekapan kehangatan.


"Presdir! Ops! Maaf!" suara yang mereka kenali terdengar dari arah pintu. Menghentikan nikmat yang keduanya tengah rasakan.


Sontak presdir dan Elif menoleh. Pria berjas mengenakan kacamata dengan ujung rambut sedikit menutup kaca sebelah kiri. Terlihat tak kalah tampan dari presdir. Itu pasti. Karena dia juga adalah saudara presdir. Darah ganteng keluarga Kandou mengalir dalam diri mereka berdua.


"Maaf presdir, saya mengganggu kegiatan anda. Saya akan keluar sekarang." kepala manager itu segera membalikkan badannya dan bergegas untuk segera pergi meninggalkan pasangan beda bangsa itu. Tetapi belum sempat kepala manager menyentuh handle pintu, suara presdir terdengar dan langsung menghentikan gerakannya.


"Javier! Kemarilah!"


"Javier! Cepatlah!" perintah presdir.


Sedangkan Elif berdiri dengan wajah tertunduk. Dia pura-pura melihat ke layar bercahaya tak terlalu terang dan membuka e-mail berisi jadwal presdir.


Javier mendekat dengan terus mengulum bibirnya. "Iya, presdir?" ucapnya ragu. Padahal didalam hatinya ingin sekali memaki saudaranya itu karena tidak bisa menahan nikmat. Apalagi sampai dia melihatnya, membuat adiknya terbangun seketika.


Oh, tidak!

__ADS_1


Javier ingin sekali berlari dari ruang kerja mewah itu yang lengkap dengan segala apa yang diinginkan oleh presdir. Tetapi, dia tidak berani. Karena sekarang presdir sudah menahannya agar tidak pergi kemanapun. Hanya dengan satu kalimat saja.


"Ada apa kemari?" tanya presdir, datar.


Javier membenarkan letak kacamatanya. "Saya ingin memberikan berkas ini. Ini adalah berkas khusus yang diminta oleh perusahaan Indomarco. Mereka ingin berkas ini segera jadi dan mendapat tanda tangan anda secepatnya. Silakan presdir periksa." berkas yang berada dalam map itu terletak di atas meja kerja presdir, setelah Javier meletakkannya.


Lalu, presdir mengambilnya dan membukanya. Memeriksa kata demi kata yang berada didalam berkas dengan teliti. Setelah itu barulah dia menandatangi berkas tersebut dan menyerahkannya kepada Javier.


"Terima kasih, presdir." Javier menerima berkas yang sudah lengkap dengan tanda tangan pemilik perusahaan yang sekarang sedang berkembang sangat pesat.


"Sama-sama. Dan jangan lupa kalau kamu ingin masuk ke dalam ruangan saya, ketuklah pintu terlebih dahulu. Apakah anda mengerti kepala manager?" presdir mengingatkan bawahannya itu, sekaligus agar kejadian tadi tak terulang. Karena presdir menyadari sampai saat ini rona merah diwajah cantik bak berbie itu tidak juga hilang. Tentu akibat menahan malu.


"Baik, presdir. Saya permisi. Mari, nona." Javier buru-buru mempercepat langkahnya dan keluar dari ruangan. Meninggalkan saudaranya dan sang MATE.


"Dasar! Lihatlah sekarang adikku bangun gara-gara mataku ternodai perbuatan kalian!" Javier menggerutu ketika pintu ruang kerja presdir tertutup. Matanya melirik ke arah adiknya yang bangun. Entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya agar adiknya tertidur kembali.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, hadiah dan koment. Terima kasih.


__ADS_2