
Presdir membuka satu persatu kancing baju yang ia pakai seharian untuk bekerja. Setelah itu presdir masuk ke dalam bathup air hangat yang tadi sudah disiapkan oleh pelayan. Rendaman air hangat berhasil membuat presdir memejamkan mata karena merasa tubuhnya terasa sangat rileks.
Setengah jam membersihkan badan, presdir keluar kamar dengan kaus berlengan pendek. Terkesan sederhana ketika dilihat. Memang seperti itu presdir. Terlihat sederhana namun dibalik semua itu harga menjulang begitu tinggi untuk mendapatkan satu pakaian yang sedang presdir pakai.
Presdir menuruni setiap anak tangga menuju lantai satu. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Terlihat sangat cool. Sesampainya dilantai satu, presdir kembali berjalan menuju ruang makan yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
"Kemarilah, Dex!" perintah sobo ketika melihat cucunya sudah datang.
Pelayan menyiapkan makan malam presdir dan mempersilakan presdir untuk duduk. Presdir pun duduk di kursi yang sudah disiapkan.
"Apakah tidak ada ikan hari ini?" tanya presdir datar dengan mata menyisir satu persatu lauk yang tersaji di meja makan.
Koki menghampiri presdir dan menunduk hormat "Maaf presdir, hari ini nyonya besar menginginkan tidak ada ikan." jawab koki andalan kediaman Kandou.
Presdir melirik ke arah sobo yang tampak menikmati semua hidangan dengan lahap. "Kembalilah!" koki pun segera kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan penutup.
"Sobo, bukannya sobo tahu jika aku sangat menyukai ikan. Kenapa sobo memerintahkan koki untuk membuatkannya?" tanya presdir pada sobo.
Sobo tersenyum manis, lalu memasukkan cumi-cumi asam manis ke dalam mulutnya. "Karena, hari ini ada yang spesial." jawab sobo yang membuat presdir mengernyit.
Spesial?
"Sobo, aku sedang tidak bercanda..." presdir hendak protes namun kata-katanya terhenti saat suara seseorang terdengar dibelakangnya.
"Kamu sudah cerdas, jangan terlalu banyak mengonsumsi ikan."
Presdir menoleh seketika. Matanya terbelalak ketika mengetahui siapa yang memotong perkataanya tadi.
__ADS_1
"Haha?"
"Chichi?"
Dua pasangan suami istri berbaju hitam itu duduk dikursi sebelah presdir. "Ayo makan." perintah haha pada presdir.
"Sejak kapan chichi to haha, ada disini?" tanya presdir penasaran, karena dia tidak menyadari kedatangan kedua orangtuanya yang seperti tiba-tiba itu.
Chichi menoleh dan menatap presdir "Sofu yang meminta kami datang. Jadi, kami datang kemari."
"Ayo makan semuanya." suara sofu terdengar, membuat semua orang langsung diam dan menyantap makanannya masing-masing.
Presdir yang terbiasa memakan ikan itu merasa aneh jika hanya memakan seafood saja. Tetapi presdir ingat, jika chichi dan haha adalah orang yang sangat membenci adanya ikan. Dan hal itu membuat presdir mengalah, untuk hari saja tidak ada masakan ikan untuknya. Pikir presdir.
***
Wajah bak boneka berbie itu terlihat cantik ketika polesan terakhir selesai. Elif meraih tas kerjanya dan ikut bergabung di meja makan dengan keluarga kecilnya.
"Kamu sudah berani berbohong pada ayah?" ayah Elif bertanya tanpa menatap wajah Elif yang bingung dengan pertanyaan yang ada.
"Ayah, maksud ayah berbohong bagaimana?" Elif balik bertanya karena bingung dengan pertanyaan dari ayahnya.
Seingat Elif, dia tidak pernah sama sekai berbohong pada ayahnya. Tapi, kenapa sekarang ayahnya justru bertanya kenapa dia berani berbohong?
Ayah meletakkan sendok makanan mendengar pertanyaan balik dari Elif. Bukan malah jawaban yang dia dapat. "Pura-pura, lo." Olif datang dengan senyuman mengejek.
Apa ini ulah Olif? Pikir Elif menyelidik.
__ADS_1
"Kamu bilang sama ayah, kalau kamu bekerja untuk membantu ekonomi keluarga kita. Tapi, kenapa kamu justru bekerja sebagai jalang?!!"
Elif terkejut dengan perkataan ayahnya yang benar-benar diluar dugaanya itu. "Ayah, Elif beneran bekerja membantu ekonomi keluarga kita. Kata siapa Elif bekerja menjadi jalang, yah? Semua itu hanya bualan saja. Ayah harus percaya sama Elif."
"Yah, apa ayah mau bukti kalau Elif beneran bekerja bukan sebagai jalang? Coba ayah lihat pakaian Elif ini, tas ini dan ini." Elif memperlihatkan pakaian sekretarisnya, tas khusus sekretaris dan tablet yang berisi jadwal presdir.
Ayah hanya melirik saja, lalu bangkit dari tempatnya makan. "Semua itu cuma bualan kamu supaya pekerjaan kamu bisa terus lanjut." ucapan bagai tusukan itu membuat Elif merasa tak percaya.
Orang yang selalu membuatnya bertahan, kini justru sudah berpaling dari dirinya hanya karena sebuah bualan belaka yang berasal dari rencana licik saudara kembarnya.
"Aku tahu, kalau kamu yang buat ayah mengira yang nggak-nggak sama pekerjaan aku." setelah mengatakan itu, Elif memilih pergi meja makan. Bergegas berangkat bekerja dengan perut yang masih kosong.
"Rencana kita berhasil, bu. Biarin saja dia kaya gitu. Biar tahu rasa." Olif saling tos dengan ibunya setelah kepergian Elif.
"Otak kamu memang cerdas kalau soal rencana kaya gini." balas ibu Olif sembari menyeringai dan melanjutkan kegiatan sarapannya dengan lahap.
*
*
*
*
*
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Tetap semangat buat kalian dan author juga. Selamat menikmati hasil karya author ini. Semoga terhibur.
__ADS_1