
Elif terlihat sibuk menatap layar bercahaya itu. Benda pipih berukuran sedang melekat ditangan Elif kala jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Masiha ada setengah jam untuk Elif berkutat didepan benda yang akan selalu melekat padanya.
Banyaknya e-mail yang masuk membuat Elif sangat sibuk. Belum lagi menghandle jadwal meeting esok hari presdir. Untung saja Elif mempunyai jiwa yang kilat dan tidak lamban. Sehingga kesibukannya tidak terlalu menjadi beban bagi Elif.
"Dia terlihat menikmati pekerjannya." gumam presdir dikamar tersembunyi diruangannya. Hanya presdir dan kepala menager yaitu Javier yang tahu kamar persembunyian presdir. Presdir asik menonton CCTV yang menghubungkan dengan ruang kerja Elif.
Entah kenapa presdir seperti mempunyai mainan baru saja setelah ia mengangkat Elif sebagai sekretaris diperusahaannya. Rasanya begitu asik saja. Bagi presdir.
Tepat pukul lima sore, Elif masih berkutat didepan tabletnya. Ia sibuk mengurus apa yang harus ia urus untuk esok hari. Entah itu karena terlalu semangat menjalankan tugas atau karena memang tidak ingin mengecewakan orang yang telah mengangkatnya menjadi sekretaris perusahaan. Tapi yang pasti Elif akan berusaha bekerja dengan sebaik mungkin.
Elif melirik jam beker yang berada diatas meja kerjanya. Matanya membulat melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Yang artinya dia harus bersiap-siap mengantar presdir. Dengan segara Elif bangkit dan bersiap-siap. Setelah semuanya selesai, Elif bergegas keluar dari ruang kerjanya.
"Apa presdir sudah pulang?" gumam Elif yang melihat ruangan presdir tertutup rapat, tapi lampu didalam ruangan tampak masih nyala.
Elif menghampiri meja resepsionis. Lalu menanyakannya pada karyawan penjaga meja resepsionis yang sedang bersiap-siap pula. "Permisi. Apa presdir sudah keluar dari ruangannya?" tanyanya ramah.
"Seperti belum. Soalnya aku belum melihat presdir keluar dari ruangannya setelah kembali meeting tadi." setelah itu si penjaga meja resepsionis duduk kembali sembari menanti presdir. "Baiklah, terima kasih." Elif pun melangkah kembali ke ruangan presdir.
Dilihatnya ruangan presdir dari kaca. Dengan berani Elif ketuk pintu tersebut sebanyak tiga kali. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Hal itu membuat jiwa penasaran Elif meronta untuk masuk ke dalam ruangan.
"Aku coba cek dulu, ya. Siapa tahu presdir tertidur didalam." pikir Elif.
Dengan pelan Elif mendorong pintu ruangan dengans segala keberanian dan jiwa penasarannya. Tak lupa Elif menutupnya kembali. Kakinya bergerak cepat menyusuri ruangan, sepi. Hanya AC yang me,buat ruangan terasa hidup.
__ADS_1
"Apa mungkin aku telat tadi, ya? Mungkin presdir sudah kembali." pikir Elif yang sudah mencari atasannya itu tetapi tak kunjung bertemu.
"Tapi, bukannya dia bilang kalau dia belum melihat presdir lewat. Lalu kemana, presdir?" tanyanya pada diri sendiri.
Elif berniat hendak keluar dari ruangan ber-AC tersebut. Tetapi ia ingat sesuatu. Berkas presdir yang diminta oleh kepala manager tadi. Bisa-bisanya ia melupakan hal sepenting itu? Elif membalikkan badannya dan berjalan menuju rak berkas milik presdir seperti yang sudah diberitahu oleh Javier.
Tak sengaja Elif menekan sebuah berkas yang dibawahnya adalah tombol pintu kamar rahasia presdir. Pintu kamar mulai terbuka dengan sendirinya, membuat Elif sangat terkejut.
Dengan tangan membawa map berisi berkas yang diminta kepala manager, Elif menghampiri pintu yang kini terbuka lebar. Disana Elif bisa melihat ruangan dengan desain sederhana namun tetap berkesan mewah.
"Ruangan apa ini?" tanya Elif dengan kaki terus melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tanpa Elif sadari dia menginjak kaki presdir. Elif reflek melihat apa yang ia injak. Dan itu adalah kaki presdir. Elif menelan salivanya ketika melihat presdir yang sudah membuka matanya. Menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
Elif segera mendekat tanpa banyak tanya. Presdir bangkit dari tempatnya tadi tertidur. Kini jarak antara Elif dan presdir hanya dua langkah saja, setelah presdir bangkit.
"Lebih dekat." titah presdir.
Jarak pun semakin terkikis sempurna. Debaran jantung keduanya beritme sama cepatnya. Apa mungkin keduanya aadalah jodoh?
Cup!
Elif membelakakan matanya. Ia merasakan sesuatu menempel dibibirnya. Dingin. "Presdir." ucapnya ketika presdir masih menyatukan bibirnya.
__ADS_1
Presdir menjauhkan wajahnya. Lalu menatap wanita dengan wajah berbie yang sudah ia claim sebagai MATE setelah bau bunga Ru Shi tercium diindera penciumannya.
"Pergilah. Itu hukuman karena kamu sudah lancang."
Apa?
Hukuman?
Ciuman tadi adalah hukuman?
Haruskah Elif senang atau marah karena ciuman pertamanya direnggut oleh presdir?
*
*
*
*
*
Marhaban ya ramadhan. Selamat membaca. Maaf sekali semuanya karen akhir" ini jarang up, karena ada acara dan tugas yang ngga bisa ditinggalkan. Mohon pengertiannya, ya. Selamat membaca. Jangan lupa like, hadiah dan koment. Buat Author semnagat terus untuk menyambung episode berikutnya.
__ADS_1