Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 34 {Suka / Cinta}


__ADS_3

Hari yang dinantikan oleh pemimpin perusahaan akhirnya tiba. Pembukaan berjalan dengan lancar. Beberapa sambutan pun sudah terucap satu dua patah kata. Besok, adalah awal dari pengerjaan proyek Villa yang ada ditengah gunung. Lebih tepatnya, sedikit lebih dekat ke kaki gunung.


Letak tempat yang tak jauh dari gudang tempat penyekapan, membuat presdir kadang khawatir tentang apa yang diucapkan oleh saudaranya yaitu Javier, menjadi kenyataan. Proyek yang baru saja dibuka dan akan dilaksanakan besok memang berjalan dengan lancar. Namun, tidak ada yang bisa memastikan jika saat pelaksanaan proyek itulah petaka akan datang.


"Presdir, apakah anda butuh sesuatu?" suara familiar menyapa sang presdir yang duduk di kursi ruang kerjanya. Mata elang itu memandang ke arah jalan raya yang dilewati ribuan kendaraan setiap harinya. Pikirannya melayang jauh ke masa depan. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Mengingat hubungannya dengan sang mate bukan hubungan biasa.


Bahkan kemarin, sofu telah mengatakan jika sudah ada beberapa bangsa yang mengetahui tentang perikatan antara bangsa vampire dan bangsa penyihir yang hal itu adalah mustahil. Karena setahu mereka, bangsa penyihir telah musnah. Mana mungkin masih ada? Pikir mereka.


"Presdir." panggilan terdengar lebih keras, membuat kursi yang tadinya menghadap ke jendela berputar.


"Kemarilah. Aku sudang tidak ingin apa-apa." presdir menyuruh wanita cantik yang berdiri tak jauh darinya untuk duduk dikursi yang ada di didepannya.


Mendengar jawaban tersebut, wanita cantik bak boneka berbie itu menuruti perintah presdir. "Tapi presdir, anda terlihat sedang melamun." sang mate yaitu Elif yang sekarang sedang berprofesi menjadi sekretarisnya itu bersikap formal seperti biasa. Tentu hal tersebut membuat presdir jengah mendengarnya.


"Elif, cukup! Kita sidang berdua. Gunakanlah bahasa keseharian kita saja. Aku kamu lupa?" presdid tak membalas, justru menegur Elid agar menggunakan bahasa keseharian mereka ketika berada di kediaman Kandou.


"Maaf, presdir. Aku hanya ingin bersikap professional walau hanya berdua. Jika tidak, takut menjadi kebiasaan." Elif tertunduk setelah membalas ucapan presdir.

__ADS_1


Presdir menghembuskan napas. Mengacak rambutnya yang tebal itu. Lalu bangkit dari kursi dan menghampiri Elif.


"Tidak salah aku mengangkatmu menjadi sekretarisku. Kamu bijak sekali. Tolong maafkan atasanmu ini yang sedang tidak dalam mood baik." presdir menyender dimeja yang biasa digunakan untuk menumpuk berkas penting perusahaan. Tangannya dilipat ke dada. Memandang ke arah wanita cantik yang tertunduk.


Di tempat lain, Marco termenung di kursi kebesarannya. Memikirkan kemungkinan yang terjadi tentang cincin yang dia ambil. Dia juga berpikir, apakah dirinya hanya suka pada sekretaris cantik perusahaan yang bekerjasama dengannya atau mencintai pada pada pandangan pertama?


Tapi ketika tau siapa orang yang dia in-car itu, Marco menjadi ragu. Dia teringat pesan ibundanya tentang seorang penyihir. Pikirnya, apa iya itu Elif?


Rasanya seperti tidak mungkin. Wanita cantik berwajah polos itu mempunyai kekuatan yang setara dengan ibundanya? Oh tidak, itu seperti sebuah khayalan. Namun seperti nyata.


"Aditya, menurutmu apakah ini nyata? Aku masih tidak percaya jika aku menaruh hati pada wanita yang mustahil ada didunia ini." Marco memilih bertanya pada sekretarisnya, Aditya.


Marco menganggukkan kepalanya. Menimang ucapan Aditya yang tak lain adalah sahabat masa kecilnya dibangsa Dijun.


Malam harinya, Marco dikejutkan dengan kedatangan ibundanya. Padahal jika ibundanya pergi tidak akan kembali secepat ini. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?


"Putraku, kamu melakukan tindakan yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya kamu menuruti wanita yang ada dimasa lalumu itu. Sehingga kamu tidak sadar, jika kamu telah membuat api!" gertakan dari ibundanya, membuat Marco tak berani berucap sedikitpun.

__ADS_1


"Sekarang, semua bangsa sudah hampir tau tentang wanita penyihir itu. Tak lama lagi, bendera perang akan berkibar. Mereka akan memperebutkan wanita penyihir itu karena kekuatannya. Ini semua tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ibunda yang melenyapkannya, bukan orang lain. Sekarang, berikan cincin yang kamu ambil dari penyihir itu."


Marco segera membuka laci lemarinya. Meraih kotak hitam berisi cincin yang dia dapatkan susah payah. Lalu, memberikannya kepala ibunda.


"Dengan cincin ini, ibunda akan tau sejauh mana mereka bertindak. Dan untuk kamu putraku, awasi dari dunia manusia. Kabari ibunda jika ada yang mulai mencurigakan saat kamu bertemu dengannya. Apa kamu mengerti?"


"Iya, ibunda."


*


*


*


Bersambung...


Maaf ya gaes, UP nya jadi ngga teratur. Dan pastinya ceritanya lagi ngga seru. So, ini itu menuju konflik besar, jadi Author buat selow dulu dan pas konflik bakal seru. Jadi, sebagai pembaca setia selalu tunggu kisah selanjutnya ya.

__ADS_1


Like, koment dan favorite. Makasih...


__ADS_2