
"Kita harus mengibarkan bendera perang terlebih dahulu sebelum mereka! Cepat, siapkan pasukan terbaik!" ratu Izora memerintahkan prajurit terpercayanya untuk menyiapkan pasukan perang.
Dirinya sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk menunggu perang ini dimulai. Karena, ratu Izora tidak ingin bangsa lainnya mendahului dirinya untuk melenyapkan keturunan terakhir bangsa penyihir. Dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak!
Malam harinya, seluruh pasukan sudah disiapkan dengan sebaik mungkin. Prajurit terbaik dan terpercaya pun siap untuk perang dimalam itu. Kekuatan mereka pun tak lagi diragukan.
Para panglima menunduk hormat saat ratu Izora datang. "Sekarang waktunya kita memulai peperangan. Aku ingin, kalian semua berperan dalam perang ini sebaik mungkin. Jika tidak, aku akan melenyapkan kalian juga." ancaman itu membuat para prajurit menunduk takut.
"Mari kita mulai perang."
***
Di kediaman Kandou, presdir berjaga di laboratorium bersama Javier. Menunggu Elif yang belum juga sadar. Sedangkan yang lainnya, berada di kamar sobo. Mereka menemani sobo setelah racun yang ada ditubuh sobo dikeluarkan.
Kediaman yang megah bak istana itu terlihat sunyi. Hanya suara jangkrik yang menghiasi halaman kediaman. Hingga suara ledakan berhasil memecah keheningan. Bahkan, para penghuni yang berada didalam kediaman pun terkejut mendengarnya.
"Gue merasakan aura peperangan." Javier bangkit dari tempatnya duduk setelah mendapat penglihatan.
__ADS_1
Presdir ikut bangkit, "Apa maksud lo?"
Javier tak menjawab, dia segera berlari keluar dari laboratorium untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Begitu pula dengan yang lainnya yang berada di lantai atas. Mereka semua turun dan bergegas menuju halaman kediaman.
"Hahaha!!!" suara tawa menggelegar di halaman kediaman saat seluruh keluarga keluar.
Mereka semua terkejut saat melihat banyaknya pasukan bangsa Dijun dibelakang ratu kesombongan. Terutama sofu. Dia tidak menyangka jika bendera perang akan dikibarkan sekarang.
Presdir yang baru datang pun ikut terkejut. Semua begitu mendadak. Kekuatan mereka pun belum pulih setelah digunakan.
Lalu, bagaimana akan menghadapi bangsa Dijun yang sudah siap didepan mata?
"Kenapa? Apa kalian terkejut melihatku?"
Sofu maju selangkah, diikuti pula oleh yang lainnya. "Kami tidak terkejut. Kami sudah tahu bahwa kamu pasti akan mengibarkan bendera perang. Untuk apa kami terkejut?" ucapan sofu berhasil menantang si ratu kesombongan.
Dalam ikatan batin, sofu memerintahkan anak, menantu dan cucunya untuk membagi tugas. Membuat portal pelindung untuk sobo dan Elif, memanggil seluruh bangsa Kandou untuk berperang dan menjalankan siasat yang dulu pernah mereka siapkan untuk perang.
__ADS_1
Ratu Izora menatap tak suka pada pria tua yang berada tak jauh darinya. Taktik pertama dengan kode dijalankan tanpa sepengetahuan lawan perang. "Hahaha! Bagus jika kalian tidak terkejut. Jadi, mari kita berperang sekarang juga. Akan aku pastikan jika kalian akan musnah seperti bangsa penyihir. Hahaha!"
Sofu bersiap mengumpulkan kekuatannya. Anak dan menantunya pun bersiap mengumpulkan kekuatan dan fokus.
Bola api berwarna biru dengan petir terbentuk ditangan ratu Izora. Sambaran petir terdengar dimana-mana. Angin berhembus kencang menerpa wajah berkekuatan tak diragukan.
"Inilah balasan kalian karena mencoba berurusan denganku!"
Duar!
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Yuk like, koment dan favorite. Dukung terus ya walau belum sebagus novel yang lainnya. Makasih...