Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 15


__ADS_3

Sebelum sampai di rumah Elif...


"Mas ganteng, lagi ngapain disitu sendirian?" seorang ibu-ibu berdaster mengejutkan sang presdir yang tengah menghubungi nomor seseorang yang bukan dan yang tak lain adalah Elif di samping mobil mewahnya.


Presdir menoleh seketika. Lalu, menurunkan kacamata hitamnya, melihat siapa yang baru saja bertanya padanya. Ternyata ibu-ibu pemilik jajan yang berada didekat gang.


"Elah mas, malam-malam nungguin siapa atuh?" tanya ibunya lagi.


"Saya sedang menunggu..." belum sempat presdir menjawab sepenuhnya, si ibu sudah memotongnya.


"Pacar pasti." tebak si ibu dengan percaya diri.


Mungkin karena terbiasa setiap malam selalu saja ada yang menunggu pacarnya di warung si ibu. Dan hal itu membuat si ibu menebak setelah mendengar kata 'menunggu' dari mulut presdir.


"Ganteng doang, nunggunya di gang." jiwa lanyah si ibu membuat presdir tak habis pikir.


Kalau bukan karena dia adalah MATE-ku, tentu aku tidak akan menunggu di gang seperti ini. Gerutu presdir dalam hati, tetapi masih dengan wajah datar seperti biasanya.


Presdir menggelengkan kepalanya, lalu menghembuskan napas untuk mentralkan tubuhnya menghadapi ibu lanyah yang masih setia berdiri di depan warung.


"Maaf, apa ibu tahu dimana rumah Elif berada?" tanya presdir pada si ibu.


Si ibu tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari presdir. "Itu yang diujung sono. Rumah bercat abu-abu. Paling pojok sendiri." jawabnya sembari menunjuk ujung komplek yang sepi.


"Ya sudah bu, terima kasih." presdir pun kembali ke mobil dan memperhatikan gang kecil yang tidak bisa dilewati oleh mobil.

__ADS_1


"Sama-sama". balas si ibu dan masuk ke warung karena ada ibu-ibu berkaos pendek yang datang untuk membeli telur dan sebagainya.


Presdir berpikir kembali, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berjalan ke rumah yang ditunjuk si ibu lanyah tadi.


Sesampainya di rumah yang terlihat paling berbeda itu membuat presdir merasa iba. Ternyata sekretarisnya itu hidup dengan keadaan yang bisa terbilang memprihatinkan, menurutnya.


"Jika benar dia adalah MATE-ku, aku akan membuatnya hidup penuh dengan kebahagiaan. Bukan hidup di rumah yang kumuh dan kecil seperti ini. Menjijikan." presdir melangkah ke jalan bebatuan kecil menuju rumah berlampu bohlam kuning.


Dilihatnya dengan seksama, ternyata pintu terbuka sedikit. Presdir memasukkan tangannya ke dalam saku dan terlihat sedang menyisir halaman depan rumah kecil yang ditinggali Elif.


Setelah itu, presdir melangkahkan kakinya dan berhenti tepat didepan pintu dengan jarak satu langkah. Tangan kiri presdir ia keluarkan dari saku celana dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali.


Terdengar suara dua orang wanita dari dalam. Samar-samar presdir mendengarkan percakapan dua wanita itu. Mereka ternyata sedang membicarakan seseorang yaitu Elif.


"Dimana Elif?" tanya presdir datar, dengan kacamata bertengger dihidungnya.


Ibu dan Olif saling pandang mendengar pertanyaan dari tamu tampan rumah mereka. "Ada didalam tuan. Maaf, anda siapa?"


Presdir memasukkan tangannya kembali ke saku celana. Lalu, melangkahkan kakinya beberapa langkah setelah dua wanita yang berada di ambang pintu mundur beberap langkah.


"Panggilkan saja Elif kalau dia ada didalam." jawab presdir dengan tatapan datar.


Ibu Olif membalikkan badan dan berteriak memanggil suaminya dan Elif. Setelah itu, ibu Olif kembali menghadap presdir dengan wajah tertunduk. Mungkin mereka tahu jika orang yang sedang bertamu itu adalah orang yang sangat kaya.


"Presdir???"

__ADS_1


Presdir, Ibu, ayah, dan Olif menoleh seketika saat mendengar Elif memanggil pria tampan yang sedang berdiri gagah diambang pintu. Ibu, ayah dan Olif terlihat terkejut karena Elif tahu siapa pria yang sedang bertamu itu.


"Ayo." presdir memutar badannya dan hendak keluar dari rumah yang membuatnya jijik itu.


Elif bergegas berlari untuk menanyakan sesuatu pada presdir. Tapi belum sempat Elif sampai kakinya tergelincir. "Aukh!"


Dengan jantung masih berdetak lebih cepat karena merasakan sakit yang akan didapat, kini Elif membuka matanya. Ternyata presdir menangkapnya dengan sigap. Menopang dengan tangan tubuh ramping bak manekin itu secara reflek.


"Maaf, presdir." buru-buru Elif berdiri dan melihat kakinya yang sedikit pegal akibat tadi menabrak pembatas pintu rumah.


"Lain kali hati-hati." ucap presdir.


Ayah Elif masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Kini pikirannya berkecamuk mengenai putrinya itu.


Apa benar putrinya menjadi jalang?


*


*


*


*


Janga lupa like, hadiah dan vote. Selamat membaca. Semoga terhibur.

__ADS_1


__ADS_2