
Sekretaris perusahaan Indomarco bernama Aditya itu merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Padahal waktu ia berjabat tangan dengan Elif, tangannya baik-baik saja. Lalu kenapa bisa Marco seperti terbakar setelah menjabat tangan Elif?
Marco sebenarnya terkejut, tetapi berusaha bersikap tenang. "Ah ya! Ini hanya luka kecil. Mari kita mulai meetingnya. Kalian tidak perlu khawatir. Biar nanti Aditya pesankan es untuk mendinginkan tanganku."
Presdir mengangguk dan segera duduk dikursi. Begitu pula Elif yang masih dalam keadaan syok. Dia duduk setelah presdir memberi kode.
Aditya segera memesan es batu kepada pelayan restoran. Setelah itu kembali bergabung dan memulai meeting siang itu.
***
"Saya meminta maaf dengan apa yang terjadi. Kalau perlu anda pergilah ke rumah sakit, biar saya yang menanggung biayanya." presdir bangkit dari kursinya setelah selesai menyantap makan siang. Tangannya terulur menjabat tangan Aditya sebagai perwakilan Marco.
Aditya membalas ucapan presdir. "Tidak perlu, presdir. Tuan akan diobati dirumahnya saja. Sekali lagi terima kasih atas kemurahan hati anda." jabatan tangan pun usai.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas meeting hari ini. Saya permisi." presdir melangkah meninggalkan ruang khusus meeting dengan Elif yang segera menyusul di belakangnya.
Di mobil, Elif hanya diam. Pikirannya terus berkelana tentang kekuatan yang ada ditubuhnya itu. Ada rasa takut dihati kecil Elif ketika mengingat kekuatannya yang bisa saja melukai seseorang tanpa ia sadari seperti tadi.
"Tidak usah terlalu dipikirkan."
Suara presdir membuyarkan lamunan Elif. Menghentikan khayalan yang tidak-tidak yang kemungkinan bisa terjadi kapan saja tanpa diketahui. Presdir bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Elif. Takut khawatir dan cemas.
Kini tangannya digenggam erat layaknya sepasang kekasih. Presdir tidak mempedulikan supirnya yang melihat dari kaca, yang terpenting sekarang adalah berusaha membuat yakin pada Elif. Bahwa yang terjadi adalah ketidaksengajaan. Dan hal itu bisa diatasi setelah mereka bertemu dengan sofu nanti.
Sepanjang perjalanan, mobil tampak hening. Hanya suara kendaraan yang terdengar. Sepasang kekasih itu menatap ke luar jendela dengan tangan masih menyatu erat. Mereka fokus pada pikiran masing-masing.
***
"Aku merasa dia memiliki kekuatan yang begitu besar. Sehingga ketika aku menyentuhnya, kekuatan itu langsung menyerang ku begitu saja. Ini bukan sembarang kekuatan. Aku harus menanyakannya pada ibunda!"
Marco menatap tangannya yang masih memerah. Pikirannya terus melayang memikirkan tentang kekuatan yang sepertinya tidak pernah ia temui. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk menanyakannya pada sang ibunda yang tahu akan segala kekuatan.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" tanya Aditya, sembari memandang ke kaca mobil yang memantulkan bayangan wajah Marco disana.
__ADS_1
Marco mengangguk dengan mata menatap ke arah kaca. "Apakah perlu pergi ke rumah sakit, tuan?" tanya Aditya lagi.
"Tidak perlu. Seperti yang aku katakan tadi, bawa saja aku ke rumah." jawab Marco yang langsung diangguki oleh Aditya.
***
Pukul lima sore, semua karyawan mulai membereskan barang-barangnya. Mereka bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu pula presdir dan Elif. Mereka tengah bersiap di ruang kerjanya.
Presdir yang selesai lebih dulu, segera keluar dari ruang kerjanya. Dia masuk ke ruang kerja sekretaris dan menemui Elif disana.
"Ayo kita pulang. Kita akan menemui sofu dirumah." ajak presdir.
Elif hanya mengangguk. Lalu, meraih tas kerjanya dan mengikuti langkah presdir yang sudah keluar lebih dulu dari ruangannya. Keduanya melewati meja resepsionis yang masih lengkap dengan karyawan yang menjaganya. Mereka menunduk hormat pada presdir seperti biasa saat presdir lewat.
Dua karyawan penjaga meja resepsionis melirik sinis ke arah Elif. Mungkin kedekatan presdir dan Elif membuat para kaum hawa di perusahaan menjadi iri. Karena sepanjang sejarah yang ada, presdir baru kali ini dekat dengan seorang wanita.
Di dalam lift khusus petinggi, Elif bagaikan nyamuk disana. Malika yang kebetulan satu lift dengan presdir langsung memanfaatkan kesempatan dengan baik. Mengacuhkan adanya Elif yang berdiri dibelakang presdir.
Elif hanya menunduk memandang jas presdir yang ada ditangannya. Karena bagi Elif sekarang, lebih baik memandang jas kerja presdir daripada melihat Malika dengan presdir. Sungguh, membuat hati kecilnya meronta ingin berteriak. Merasa tidak terima jika presdir disentuh oleh wanita seperti Malika.
"Bersikaplah lebih profesional." ucap presdir, dingin dan datar.
"Baiklah. Presdir, saya selaku bawahan anda mengundang anda untuk dinner di malam minggu. Dan saya sangat berharap, bahwa anda akan datang." Malika menjauhkan tubuhnya setelah mendengar ucapan presdir.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat pada waktunya. Malika keluar terlebih dahulu, meninggalkan presdir dan Elif.
***
"Kemarilah." sofu yang sudah tahu kedatangan cucunya dan sang MATE itu langsung menyuruh keduanya untuk mendekat.
Presdir menggandeng tangan Elif dan duduk di kursi yang berada tak jauh dari sofu berdiri.
__ADS_1
"Sofu, mungkin sofu lebih tahu dengan apa yang terjadi." presdir memulai pembicaraan.
Sofu mengangguk paham. Tangannya terhenti dan meletakkan benda pipih di meja laboratorium. "Ya, kamu benar sekali Dex. Kekuatan yang dimiliki oleh Elif bukanlah sembarang kekuatan. Kekuatan itu akan menyerang musuhnya walau tanpa adanya suatu keinginan dari Elif sendiri. Karena apa? Karena kekuatan itu langsung bisa menetralisir apakah itu baik dan buruk. Apakah kamu ingat kejadian dimana anak buahmu terpental saat ingin menyentuh Elif? Ya. Seperti itulah kekuatan Elif. Kekuatan tersebut langsung menyerang jika ada sesuatu yang buruk. Walau itu hanya niat."
"Jika ada hal buruk yang akan menimpa Elif, maka dengan sendirinya kekuatan itu akan langsung menyerang. Itulah keunikan dari bangsa penyihir." lanjut sofu dengan mata menatap wajah sepasang kekasih yang duduk berhadapan dengannya.
"Lalu, kenapa bangsa penyihir bisa musnah jika kekuatan itu bisa menyerang dengan sendirinya, sofu?" tanya presdir dengan segala rasa penasarannya tentang kekuatan bangsa penyihir.
"Karena pada saat itu, kekuatan bangsa penyihir belum disatukan menjadi satu kekuatan. Menjadikan mereka lemah untuk menyerang bangsa Dijun. Dan pada akhirnya mereka semua musnah. Hanya kekuatan mereka yang tidak musnah, karena sudah terikat oleh perjanjian luhur." jawab sofu.
"Jadi, kekuatan ini adalah kekuatan yang terikat oleh perjanjian luhur?"
"Iya. Para leluhur melakukan sebuah perjanjian, dimana pada keturunan terkajir bangsa penyihir, maka dialah yang akan menerima semua kekuatan tersebut. Tanpa dapat dicegah ataupun dikurangi sedikitpun." jawab sofu, membuat Elif bergetar mendengarnya.
"Kamu, adalah keturunan bangsa penyihir yang akan membalaskan apa yang terjadi pada bangsa penyihir dulu. Pada saatnya, mahkota yang ada diatas kepalamu saat ini, akan membawaku pada suatu kejadian yang akan membuatmu mengerti mengapa seluruh kekuatan perjanjian luhur para penyihir itu menjadi milikmu."
***
"Ternyata benar dugaanku. Dia adalah bangsa penyihir yang belum musnah. Tenang saja. Hanya dalam waktu dekat, aku akan memusnahkan dia dan seluruh bangsa yang melindunginya. Hahaha!!!"
*
*
*
Bersambung...
Hai gaes, hari ini spesial hari Raya ya. Jadi up double. Karena besok Author ngga up. Mau menikmati hari Raya.
Minal aidzin wal faidzin ya semuanya🙏.
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Terus tunggu up selanjutnya. Terima kasih.
__ADS_1