Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 12


__ADS_3

Presdir terkejut ketika ia menabrak seseorang yang sekarang sedang berkacak pinggang didepannya. Wajahnya terlihat sangat garang membuat presdir menelan salivanya dengan kasar.


"Apa kamu terkejut?" tanyanya dengan tubuh semakin mendekat.


"Dex!"


"Dexter!"


Presdir tersadar dari lamunannya ketika pipinya ditepuk oleh seorang wanita tua yang berada didepannya. "Iya?"


"Dasar kamu ini!."


"Maaf sobo. Aku cuma tidak menyangka jika sobo ada disini." presdir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya, sejak kapan sobo ada dikediaman?" presdir mulai mencairkan suasana dengan bertanya pada sobo.


Mereka kini duduk bersama diruang tamu. Beberapa pelayan datang menghampiri seperti biasa. Ada yang memijat, membawakan makanan dan minuman dan ada juga yang tetap berdiri disana.


"Apa kamu lupa siapa aku?" sobo menjawab dengan pertanyaan. Tangannya meraih anggur yang sudah dikupas oleh pelayan. Lalu, memasukkannya ke dalam mulut.


Presdir kembali tersadar siapa yang sedang ia ajak bicara sekarang. "Kamu seperti baru lahir saja. Apa kamu lupa, dulu aku pernah dari Jepang ke Indonesia dalam waktu yang sangat singkat?" sobo mengingatkan cucunya akan kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Aku ingat sobo." presdir menjawab dengan mata terpejam karena pijatan yang membuat tubuhnya sangat rileks.

__ADS_1


Dua manusia beda generasi itu tampak menikmati segala kenikmatan yang tiada duanya. Mereka tertidur dalam pijatan pelayan dengan bayaran yang tinggi. Mereka tak menyadari jika ada sepasang makhluk dengan bangsa yang sama masuk ke dalam kediaman.


***


Olif menatap tak suka pada saudara kembarnya itu. Semua kata yang tadi dia ucapkan bagaikan bumerang pada dirinya. "Diam lo! Dasar sampah! Masih saja ada bantahan buat melindungi diri!" balas Olif tak mau kalah.


"Aku berhak melindungi diri sendiri dari apapun itu. Karena itu adalah hak aku sebagai seorang manusia." setelah itu Elif pergi meninggalkan ibu dan anak yang tengah mengepalkan tangan.


Elif merebahkan tubuhnya yang lelah karena seharian bekerja dengan extra. Dia memandang langit-langit kamar. Memikirkan mimpi yang ia rasa seperti nyata. Tanpa sadar, Elif menyentuh bibirnya. Merasakan ada sesuatu yang berbeda. Bibirnya lebih dingin dari biasanya.


Apa mungkin karena mimpinya, sehingga bibirnya terasa seperti itu?


Masih banyak pertanyaan yang mencul dibenak Elif ketika ia mengingat mimpinya itu. Daripada terus memikirkan mimpinya yang tak kunjung usai, Elif memilih mengakhirinya dengan bangkit dari tempat tidur. Lalu melangkah menuju kamar mandi yang berada disamping dapur rumah.


***


Tak Elif sadari, Olif memperhatikannya dilubang kecil yang hanya Olif yang tahu. Ia mengintai apa yang Elif lakukan didalam kamarnya. Karena setelah tadi makan malam, Elif langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar seperti biasanya. Tnetu jiwa kepo Olif meronta, menjadikan ia untuk mengintip dilubang yang ia buat secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan siapapun termasuk ibunya.


"Jadi, itu hasil dia kerja sama om-om berduit ya? Enak banget dia. Sehari kencan bisa langsung beli tablet baru." gerutu Olif dengan kesal ketika melihat Elif yang nampak serius didepan tablet barunya itu.


"Pokoknya gue harus coba. Bahkan harus dua kali lipat dari dia. Awas saja dia besok. Gue bakal bikin dia kena semprot sama ibu." seringai terbit setelah memikirkan apa yang akan Olif lakukan untuk saudara kembarnya esok hari dengan dalih membalas atau iri.


***

__ADS_1


Presdir membuka matanya ketika bau parfum yang ia kenal tercium jelas dihidungnya yang mancung. Perlahan presdir tersadar dari mimpinya. Dia menegakkan tubuhnya dan mengucek matanya yang masih buram. Setelah itu, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu.


"Kamu sudah bangun?" suara seseorang membuat presdir menoleh seketika. Ternyata sobo sudah berdiri dibelakangnya dengan tangan memegang segelas cairan berwarna merah kental. Darah segar.


"Sobo, kenapa tidak membangunkan aku?" presdir bangkit dan meregangkan tubuhnya.


"Aku tidak ingin mengganggu mimpi indahmu itu. Kamu juga terlihat lelah, jadi aku biarkan saja kamu tidur disofa." jawab sobo dengan gamblangnya sembari meminum darah segar yang membuatnya semakin terlihat segar saja.


"Ya sudah, aku mandi dulu ya sobo. Setelah itu akan kembali lagi." presdir meraih jas kerjanya dan melangkah menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua kediamah Kandou.


"Pergilah!" sobo duduk disofa dan meletakkan gelasnya diatas meja. Meraih remote TV dan memencetnya. Setelah itu, sobo menikmati siaran kesukaannya itu sendirian.


*


*


*


*


*


Jangan lupa like, hadiah dan koment. Baca terus sampai tamat yaa. Jangan sampai ketinggalan pokoknya. Selamat membaca. Semoga terhibur.

__ADS_1


__ADS_2