Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 3 {Alam Rahim}


__ADS_3

"Mere! Ayo bangun! Mari kita bermain bersama!" suara anak kecil yang saling merengek membuat bulu mata lentik yang awalnya terpejam lama perlahan terbuka.


Elif, penyihir cantik itu mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling yang menurutnya begitu asing. Kamar bernuansa serba putih, wangi yang begitu semerbak dan tidak ada vampir tampan yang selalu menemaninya berbicara saat dia benar-benar tidak bisa bangun dari tidurnya.


Ada dimana dia saat ini? Pikirnya pertama kali.


"Mere?" seketika Elif menoleh ke samping kanan saat suara yang menjadi alasannya terbangun kembali dia dengar. Sesaat Elif terdiam ketika dia mendapati dua anak laki-laki kembar yang tengah berkedip lucu ke arahnya.


"Mere?" Reflek Elif menoleh ke samping kiri. Entah karena apa, ketika mendengar kata "mere" yang berasal dari bibir mungil milik anak kecil disampingnya, membuat Elif seakan terhipnotis. Dia merasa terpanggil dengan panggilan itu. Padahal dia tidak tahu, anak kecil siapa yang duduk disampingnya.


Sepertinya, mereka menungguku bangun. Batin Elif berbicara.


Perlahan dia bangkit dibantu dengan keempat anak kembar disampingnya. Lalu Elif menatap satu per satu anak kecil itu sambil mengusap puncak kepala mereka dengan penuh cinta. Saat hendak menyentuh anak laki-laki kecil yang pertama kali dia lihat saat bangun dari tidur, dia teringat sesuatu.


Mere? Apa dia tidak salah dengar? Bukankah artinya mereka memanggilku ibu?


Tangan kecil milik anak laki-laki bermata biru itu memegang tangan Elif yang tertahan diudara dan berkata "Mere, ini kami. Putra-putrimu dengan pere." seakan bisa mendengar suara batin Elif, anak kecil itu membalas. Hal tersebut membuat Elif terkejut.


"A-apa? Tidak mungkin, sayang. Ini pasti mimpi kan?" ujar Elif terbata.


Jantungnya seketika berdebar karena mendapati kemiripan diwajah keempat anak kecil itu terutama anak laki-laki yang memangilnya mere. Seperti melihat presdir kecil yang tampan. Begitupun dengan anak perempuan kecil yang sangat mirip ketika dirinya kecil.


"Mere, percayalah pada kami." ucap anak perempuan kecil yang membuat Elif seperti tengah berbicara dengan dirinya sendiri.


"Iya mere. Ini memang bukan didunia mere. Tapi ini nyata mere. Mere sedang ada dialam kami." anak kecil laki-laki bermata abu-abu ikut menimpali agar Elif percaya apa yang mereka katakan adalah kenyataan.


Setelah mendengar penjelasan itu, tanpa Elif sadari perlahan air matanya menetes membasahi gaun putih yang dipakainya. Tak menyangka jika empat anak yang mengelilingnya adalah anaknya dengan presdir. Entah percaya atau tidak, Elif sendiri merasa bahwa ini adalah kenyataan.


"Mere, jangan menangis. Nanti pere juga ikut menangis." keempat anak kembar itu berkata secara kompak sambil memeluk Elif dengan erat.

__ADS_1


Mendengar upacan anak kembarnya membuat Elif segera menghapus air matanya. Dia memeluk keempat anak kembarnya dan mengecupnya dengan penuh cinta. "Mere tidak menangis, sayang. Mere sangat bahagia karena bisa memiliki kalian." ucapnya diakhiri senyum manis. Keempat anak kembar itu pun ikut tersenyum manis mendengar ucapan dari sang ibu.


"Mere, kita bermain yuk." Elif pun langsung mengangguk dengan semangat ketika dirinya diajak bermain bersama. Dia turun dari ranjang, disusul keempat anaknya yang sangat lincah. Mereka pun pergi keluar kamar menuju taman yang sangat indah.


Didunia manusia, presdir baru saja keluar dari laboratorium bersama Javier. Dua vampir tampan itu melangkah mengikuti sofu yang sudah berjalan mendahului. Tangga demi tamgga terlewati hingga akhirnya mereka sampai pula ditempat yang dituju yaitu kamar presdir.


Dengan lesu, presdir membuka pintu. Lalu mempersilakan sofu masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Elif. Tak banyak kata, presdir mengekor dibelakang bersama Javier.


Untuk kali ini presdir hanya akan diam dan menunggu jawaban yang nantinya akan dia dengar setelah Elif diperiksa.


Sedangkan sofu sudah duduk disamping mate sang cucu yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Diraihnya tangan putih guna memeriksa apakah benar Elif tengah hamil atau tidak.


Beberapa menit kemudian...


"Dex, kemarilah!" panggilan sofu membuyarkan lamunan presdir.


"Lihatlah ini." sofu memerintah presdir agar melihat pergelengan tangan Elif.


"Apa maksudnya, sofu?" tanya presdir yang beluum mengerti mengenai pemeriksaan yang dilakukan oleh sofu.


Sofu pun tersenyum mendengar pertanyaan dari cucunya. Tanpa diminta, sofu pun memberitahu hasil pemeriksaanya tadi. "Ini adalah bukti, bahwa mate-mu tengah hamil. Dan anak yang dia kandung berjumlah empat orang." tutur sofu yang membuat presdir terkejut.


Apa pendengarannya tidak salah? 4 orang anak?


Javier yang mendengarnya pun reflek menutup mulutnya. Benar-benar dia tidak menyangka jika sebentar lagi akan menjadi seorang paman untuk empat calon keponakannya sekaligus.


Huh, tidak sia-sia dia berjuang mencari buku kuno di gunung Fuji. Akhirnya terbalaskan dengan kebahagiaan ini.


"So-fu?" presdir tak bisa berkata-kata lagi. Antara bahagia dan takut setelah mendengar berita ini. Lidahnya pun sangat sulit hanya untuk berbicara.

__ADS_1


"Ini benar, Dex. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." tutur sofu yang membuat presdir menghambur memeluk sofu.


"Sofu, aku merasa ini adalah mimpi yang begitu nyata." ungkap presdir disela pelukannya.


"Begitupun dengan aku, Dex." balas sofu sambil menepuk punggung kekar cucunya dengan pelan.


Setelah pelukan usai, presdir berganti memeluk Javier. "Selamat kawan. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Dan aku akan menjadi seorang paman untuk empat keponakan kembarku." ucapan selamat pun Javier berikan pada saudaranya saat pelukan mereka usai.


"Baiklah, Dex. Semua sudah jelas, mate-mu sedang hamil. Dan cerita yang ada dalam buku kuno itu memang benar adanya. Bersiaplah untuk semuanya." sebelum pergi, sofu lebih dulu menepuk pundak cucunya. Tanda agar presdir bersiap dengan apapun yang terjadi kedepannya setelah berita kehamilan mate-nya tersebar.


Saat hampir tiba di pintu, sofu menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menyampaikan sesuatu seperti amanah yang dia terima tadi dari keempat calon cucunya. "Mate-mu belum bisa bangun dari tidurnya, karena sekarang kehidupannya berpindah ke alam rahim bersama empat anak kembarmu, Dex. Tidak perlu khawatir, sebelum melahirkan nanti, mate-mu akan bangun. Dan disitulah kamu harus siap dengan kelahiran empat anak kembarmu yang sedang ditunggu oleh dunia." setelahnya sofu menghilang seiring dengan tertutupnya pintu kamar.


Javier menepuk pundak saudaranya. Lalu pamit pergi karena suatu urusan yang belum dia selesaikan. "Semangat calon ayah." ucap Javier untuk menyemangati presdir yang kala itu berada dalam kebimbangan.


Setelah sofu dan Javier pergi, presdir memilih naik ke atas ranjang. Dia berbaringan disebelah Elif seperti biasa. Digenggamnya tangan putih itu dengan erat. Beberapa kecupan singkat mendarat sempurna. Tanda bahwa presdir sangat mencintai penyihir cantik itu.


Sebelum ikut terlelap, presdir lebih dulu mengelus perut rata Elif dan memberi kecupan penuh sayang disana sambil berkata, "Pere mencintai kalian."


*


*


*


Bersambung...


Hallo ges, maaf ya baru bisa UP. Bantu semangatin donk biar UP nya rutin kaya dulu hehe. Minta doanya juga ya ges, karena bentar lagi author ujian sekolah. Makasih semua. Sampai ketemu dibab selanjutnya.


Like, koment dan fav ya.

__ADS_1


__ADS_2