
Sebulan telah berlalu dengan cepat. Hari demi hari terlewati dengan rasa takut yang selalu terselip. Mewanti-wanti sesuatu yang sepertinya akan terjadi.
Elif, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa mengendalikan kekuatan istimewa yang ada ditubuhnya. Karena jika bukan dirinya, siapa lagi?
Mendengar sudah banyak bangsa yang mengincar dirinya, Elif semakin berusaha keras untuk terus belajar mengendalikan kekuatannya agar bisa terkendali dengan baik. Bayangan seseorang waktu di gudang tengah hutan, terkadang menghantui pikiran Elif. Hati kecilnya masih penasaran siapa dalang yang melakukan semua itu padanya.
Namun, karena sofu bilang jika dia yang akan mengurus semuanya membuat Elif tak lagi terlalu dihantui oleh siapa dalang dari semuanya.
Begitupun dengan presdir yang akhir-akhir ini menjadi lebih dingin dari biasanya. Perubahan sikap presdir juga diketahui oleh para bawahan kantornya. Karena, jika waktunya makan siang, selalu saja presdir meminta untuk makan didalam ruangan. Dan tentunya ditemani sang sekretarisnya yaitu Elif.
"Akh! Kenapa rasanya sakit sekali." sendok jatuh dari tangan Elif seketika setelah merasakan sakit luar biasa dijantungnya.
Presdir yang melihat hal tersebut langsung menelpon Javier agar ke ruangannya secepatnya.
"Apa yang terjadi, Elif? Mana yang sakit?" raut khawatir terlihat jelas saat presdir bertanya.
Javier datang setelah mendapat perintah. Dirinya menghampiri Elif yang terus memegang baju bagian jantung. Meremasnya dengan kuat seakan sakit tersebut terasa sangat luar biasa.
Dengan kekuatannya, Javier mencoba memfokuskan pikirannya. Menerawang jauh apa yang membuat Elif menjadi seperti itu.
"Tidak mungkin."
__ADS_1
"Apa yang tidak mungkin?"
Javier menatap presdir lalu Elif secara bergantian. "Aku melihat seorang wanita tengah memegang cincin ikatan kalian. Dan dirinya sepertinya sedang mengambil kekuatan yang berada dicincin itu. Atau lebih tepatnya, mengambil kekuatan si pemilik cincin lewat cincin tersebut."
"Apa?"
"Kita harus membawa Elif pada sofu secepatnya. Karena waktu kita tidak banyak. Atau wanita yang sedang mengambil kekuatan Elif, akan semakin gencar mengambilnya." saran dari Javier langsung diangguki oleh presdir.
***
"Hahaha." tawa menggelegar diruangan tempat bertahta sang ratu.
"Akhirnya, perlahan aku bisa mengambil kekuatanmu itu. Dan aku yakin, kamu pasti akan menjadi lemah dan kalah." ucapnya percaya diri sembari melihat ke arah cincin yang sedang dipegangnya.
"Cukup Izora! Hentikan semuanya. Jangan harap kamu dapat melenyapkannya selagi kami masih ada disini. Lenyapkan kami terlebih dahulu. Baru kamu pergi dan bertarung dengan dia." gertakan seseorang membuat ratu Izora menjadi geram.
Tiga orang berpakaian serba hitam berdiri tak jauh dari singgasana ratu Izora. Mereka adalah sobo, chichi dan haha. Bangsa vampire yang dapat menembus portal yang dibuat oleh ratu Izora.
"Kalian! Kenapa kalian menantangku? Apa urusan kalian dengan gadis penyihir ini?" bangkit dari singgasananya, ratu Izora menunjuk ke arah tiga orang yang berdiri dengan gagah tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Sobo maju selangkah. Memberikan ruang lebih dekat untuk dirinya berbicara pada ratu sombong bernama Izora. "Asal kamu tau, gadis penyihir itu adalah mate cucuku. Jadi, jangan pernah berharap kamu dapat melukainya sedikitpun atau melenyapkannya. Karena kami akan selalu melindunginya." dengan tegas sobo menjawab.
__ADS_1
"Hahaha. Jadi, karena itu kalian menantangku? Maka baiklah jika itu yang kalian mau. Bersiaplah menyusul para penyihir yang sudah ku musnahkan." tangan berjari lentik dengan kuku panjang berwarna hitam itu mulai meliuk bersamaan dengan gerakan bibir merah sang ratu kesombongan.
Duar!
Ruang tamu tempat bertahta kini menjadi riuh akibat ledakan terdengar dimana-mana. Adu kekuatan yang tak seimbang itu membuat tiga orang tak begitu saja menyerah. Mereka terus melawan hingga suatu racun, masuk ke dalam tubuh sobo yang membuat sobo jatuh tersungkur dengan darah yang terus mengalir keluar.
"Sudah cukup! Hentikan!" haha berteriak saat melihat ibunya yang tidak berdaya ditanah.
"Hahaha. Sudah ku bilang bukan, jangan menantangku atau kalian akan ku musnahkan. Tapi, kalian begitu bersemangat melindungi gadis penyihir itu. Maka, jangan salahkan aku jika kalian akan menanggung sendiri akibatnya. Rasakan ini!"
Duar!
Petir menyambar ke arah tiga orang yang sedang bersimpuh. Namun, kabut tebal datang tiba-tiba. Membuat penglihatan ratu Izora terganggu dengan pandangan yang ada didepannya tadi.
"Sial! Ada yang berani ikut campur lagi denganku. Ku tunggu waktu kalian akan menantangku lagi. Dasar debu!"
*
*
*
__ADS_1
Semoga kalian suka dan terhibur. UP double lho. Jangan lupa like dan koment ya. Buat semangat Author lagi gaes. Makasih...