
Presdir berjalan santai menuju laboratorium khusus yang ada dikediamannya. Langkahnya terhenti ketika sampai dipintu berbahan besi yang didesain dengan sangat khusus dari seorang arsitektur terpercaya sang presdir. Presdir menekan tombol merah kecil yang berada disela pintu. Tombol itu berguna untuk mendeteksi bagi siapa saja yang masuk ke dalam ruangan laboratorium. Rancangan khusus itu baru dipakai beberapa hari. Dan sekarang presdir mencobanya.
"Tepat sekali Dex. Kemarilah!" sofu yang menyadari pintu laboratorium terbuka setelah mendeteksi itu langsung paham dengan langkah kaki sang cucu.
Sofu hanya melirik sekilas untuk memastikan bahwa pendengarannya masih sama, namun tidak setajam dulu waktu muda. "Sore, sofu." presdir duduk dibangku bundar sembari memandang setiap pergerakan kecil sofu yang tengah meracik sesuatu.
Sofu tersenyum simpul. "Sore." balasnya.
Presdir memutar-mutar kursinya dengan pelan. "Apa ada yang ingin sofu katakan lebih dulu sebelum aku menceritakan semuanya?" presdir membuka pembicaraan yang tadi disela oleh keheningan.
Tangan tua itu yang tengah meracik itu terhenti. Matanya memandang ke arah presdir. "Aku sudah tahu semuanya, Dex. Dan aku memintamu menemuiku karena aku hanya ingin mengingatkan saja bahwa tinggal dua minggu lagi menuju prunama. Aku ingin kamu segera membawa wanita itu sebelum purnama itu tiba. Agar aku bisa mendeteksi apakah benar dia adalah MATE yang selama ini kita tunggu-tunggu." suara sofu terdengar menggema di laboratorium yang sangat lengkap itu. Ruangan kedap suara seperti yang diinginkan oleh sofu sendiri.
Presdir mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terlontar dari sofu. Tak presdir sangka bahwa waktu berjalan sangat cepat. Tinggal dua minggu menuju purnama, sedangkan presdir pun hanya baru saja meng-klaim sang MATE dengan sebuah ciuman. Lalu bagaimana untuk kedepannya?
"Cukup kamu bawa saja dia kemari, Dex. Jika saja itu memang benar, maka kita akan melakukan ritualnya tepat saat bulan purnama dengan disaksikan oleh seluruh bangsa vampire." seperti bisa menebak isi pikiran dan hati cucunya, sofu mengatakan semuanya dengan gamblang.
"Baiklah, sofu. Dexter akan memikirkannya kembali nanti." presdir hanya dapat mengatakan hal tersebut. Karena mau bagaimanapun semua akan lebih tersusun jika sang kakek yang menyusunnya.
"Bagus."
"Minumlah darah segar yang ada digelas itu supaya tubuhmu menjadi lebih fres setelah apa yang kamu lakukan pada manusia itu." ucapan sofu membuat kefokusan presdir teralihkan.
Wajah presdir terlihat sedikit memerah karena malu. Oh, presdir. Ternyata apa yang kamu lakukan itu sofu telah mengetahuinya lebih dulu. Seberapa malunya dirimuatas apa yang kamu lakukan?
__ADS_1
"Kamu seperti ibumu. Menggunakan kekuatan untuk mendapatkan keuntungan." cibir sofu yang membuat presdir tersedak.
"Hati-hati." sofu memperingatkan dengan senyum mengejek.
Baru seperti itu saja kamu sudah tersedak?
Lalu, bagaimana tadi jika aku membahas hukuman ciuman yang kamu lakukan?
Dasar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Batin sofu.
Presdir mengelap ujung bibirnya dengan cepat. Lalu menghabiskan segelas darah segar seperti yang diperintahkan oleh sofu tadi.
"Apa maksud sofu jika aku seperti, haha?" akhirnya presdir bertanya atas apa yang tadi dia dengar.
"Tanyakan sendiri pada ibumu. Apa yang dulu ia lakukan saat mendekati ayahmu yang bangsa manusia itu." sofu menjawab tanpa menoleh pada sang cucu yang terus menatapnya dengan serius.
Keheningan tercipta cukup lama. Suhu dalam ruangan pun terasa lebih dingin saja. Namun tidak bagi presdir yang justru kepanasan.
"Pergilah dan mandilah!" titah sofu yang membuat presdir berhenti mengibaskan tangannya diudara.
Oh presdir, kenapa setiap apa yang kamu lakukan itu selalu sofu ketahui?
"Baiklah, sofu. Sampai bertemu nanti." presdir memilih bangkit dan segera keluar dari laboratorium dengan wajah yang masam sekaligus malu menyelimuti muka es nya itu.
__ADS_1
***
"Bagus sekali. Kamu sudah berani main dengan laki-laki, ya? Mana katamu, kerja? Dasar anak ngga tahu diri kamu, ya?" suara bentakan terdengar memekakan telinga Elif.
Tidak ada sambutan hangat atau apa selepas pulang bekerja, justru bentakanlah yang Elif dapatkan.
"Bu, itu ngga benar. Elif kerja seharian." Elif mencoba membela diri dengan kenyatan yanga ada.
"Bohong dia, bu!" suara yang tak kalah tinggi itu terdengar menyahut ucapan Elif dari kamar.
Olif mendekat dengan tangan berada diatas dada. "Dia itu cewek murahan, bu! Yang kerjanya cuma senang-senang sama om-om!" kata bagai tusuk sate itu berhasil menusuk hati Elif.
Apa kata Olif tadi? Cewek murahan? Bahkan semua kata yang terucap itu adalah bumerang. Yang seharusnya mengatakan itu semua seharusnya Elif bukan Olif.
"Kalau aku cewek murahan, lalu kamu apa?" pertanyaan bumerang itu membuat Olif sekak mat. Termasuk ibu dari dua anak kembar itu pun ikut terkejut dengan balasan Elif.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Semoga terhibur disaat puasa ini. Semangat terus, buat kalian semua termasuk author.