Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 7


__ADS_3

"Bacakan jadwal hari ini." perintah presdir sembari menyeruput jus berwarna merah sekental darah.


Elif gugup sekaligus bingung mendengar perintah dari presdir. Pasalnya, Elif belum tahu jadwal terkini presdir. Apalagi tablet khusus yang seharusnya Elif miliki pun tidak ada atau bisa dibilang Javier belum memberikannya, lupa.


"Maaf, predir. Saya lupa tidak memberikannya." Javier menunduk ketika teringat kesalahannya yang bisa saja membuat atasannya itu murka. "Ceroboh." satu kata bagai tusukan yang selalu saja membuat lawan bicara sang presdir terdiam.


"Sekali lagi, maafkan saya atas kecerobohan saya presdir." Javier kembali meminta maaf seperti biasa jika melakukan kesalahan. "Baik."


Setelah mendengar kata 'baik' Javier langsung beralih menatap Elif. "Temui nona Malika dilantai lima. Dan katakan jika nona diperintahkan oleh saya untuk mengambil tablet khusus sekretaris. Silakan." Elif mengangguk paham. "Baik, kepala manager."


Elif bergegas keluar dari ruangan presdir. Lalu memasuki lift menuju lantai lima perusahaan. Rasa gugup masih saja menggerogoti diri Elif. Karena hari dimana ia seharusnya bersikap lebih profesional justru malah membuat kesalahan. Untungnya ada kepala manager yang ikut membantu dirinya.


Ting!


Pintu lift terbuka. Segera Elif berjalan menuju ruangan yang belum dia ketahui ruangan apa itu. Dilihatnya ruangan satu persatu, semua bertuliskan bahasa inggris. Elif berusaha memaknai setiap kalimat yang tertera dengan cermat.


"Maaf, anda siapa?" Elif membalikkan badannya ketika mendengar pertanyaan dari seseorang yang tadi menyentuh pundaknya. "Saya Elif. Saya diperintahkan oleh kepala manager untuk menemui nona Malika. Tapi saya tidak tahu dimana ruangannya." segera Elif menjawab.


"Kenalkan saya Ghina. Bawahan dari nona Malika." karyawan bernama Ghina itu mengulurkan tangan kepada Elif. "Saya Elif. Sekretaris baru di perusahaan." Elif membalas dengan menjabat tangan bawahan manager pemasar yaitu nona Malika.


"Mari, ikuti saya." Ghina berjalan mendahului untuk menunjukkan ruangan dimana atasannya itu berada. Mereka berhenti tepat disebuah ruangan paling pojok. Segera Ghina buka pintu dengan hati-hati. "Nona Malika, ada yang ingin bertemu." Ghina masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan manager pemasar untuk meminta ijin pada nona Malika sekaligus memberitahu. "Siapa?" tanyanya.


"Nona Elif." jawab Ghina. "Baik. Silakan." Malika mengangguk sembari melirik ke arah pintu yang terbuka. Menampilkan sosok wanita dengan wajah seperti berbie yang membuat Malika terkejut.


Ternyata dia sekretaris presdir? Tidak salah juga presdir memilihnya.

__ADS_1


"Ada apa menemuiku?" Malika langsung to the point, pura-pura tidak tahu tujuan Elif datang. Padahal sebelum Elif datang, Javier sudah mengatakan jika Malika harus memberikan tablet khusus milik perusahaan untuk Elif, sekretaris baru.


"Saya diperintahkan oleh kepala manager untuk menemuimu, nona." jawab Elif dengan kepala tertunduk.


"Ambillah." Malika yang sudah tahu langsung saja menyodorkan tablet baru yang sudah ia program. "Terima kasih, nona." Elif menerima tablet baru tersebut.


"Saya sudah mengisi jadwal presdir di dalam tablet. Untuk selanjutnya, semua jawdal presdir kamu yang menghandle. Dan dari perusahaan lain, semua e-mail akan masuk ke tablet ini. Sebelum menghandle jadwalnya, terlebih dahulu kamu meminta ijin pada presdir. Apa kamu mengerti?" Malik menjelaskan hal apa yang harus Elif lakukan nanti.


"Baik, saya mengerti." Elif mengangguk cepat. "Silakan." Malika mengangguk dan mengarahkan tangannya ke pintu. Dengan tujuan untuk segera keluar dari ruangan.


Ghina membuka pintu dan mempersilakan Elif keluar dari ruangan. "Elif, maukah kamu menjadi temanku?" Ghina yang juga karyawan baru yang belum mempunyai teman memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan temab satu perusahaan. Elif membalikkan badannya ketika tangannya ditahan oleh Ghina. "Tentu."


***


Elif kembali masuk ke ruangan dengan hawa dingin yang berhasil menembus jas tebal yang Elif pakai. "Bacakan." tanpa basa-basi, presdir langsung bertitah.


"Baik. Jangan lupa berkas yang harus dibawa." setelah itu presdir kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu mengerjakan beberapa dokumen dan berkas penting perusahaan.


Pukul 13.00 tepat, Elif mengekor dibelakang presdir. Memasuki lift dengan tangan membawa berkas-berkas yang diperlukan dan tablet pula. Presdir tidak berkata sepatah kata pun didalam lif, seperti biasa. Sampai pintu lift terbuka, hanya ada keheningan.


Mobil lamborghini Veneno siap di lobby perusahaan. Bodyguard membuka pintu dan mempersilakan presdir untuk masuk. Tapi tidak dengan Elif yang justru bingung.


Apakah dia akan semobil dengan sng presdir?


Karena didalam buku tidak tertera jika sekretaris akan satu mobil dengan presdir. Lalu bagaimana? Pikir Elif.

__ADS_1


"Masuk." titah presdir.


Bodyguard segera membuka pintu satunya lagi. Kemudian, mempersilakan Elif untuk masuk ke dalam mobil. Elif memberi jarak ketika ia duduk di mobil. Ada perasaan takut dan gerogi saja ketika berada disekitar presdir. Maka dari itu Elif lebih memilih menjaga jarak dengan presdir untuk mengurangi rasa takut dan gugupnya itu.


"Bacakan jadwal selanjutnya." kali ini presdir membuka suara, walau hanya sebuah kalimat perintah. Elif bergerak cepat membuka tablet yang ada ditangannya saat itu. "Tidak ada presdir. Setelah ini jadwal kosong." setelah itu Elif menatap sekilas wajah tampan yang kini terhias oleh kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya.


Mobil terus melaju membelah jalan raya. Terlihat sangat gagah. Apalagi terik matahari berhasil membuat mobil berkilau cantik disiang hari.


"Sudah sampai, predir." sopir memberitahu pada presdir ketika mobil sudah berhenti tepat didepan restoran mewah. Mungkin jika dipikir hanya kalangan atas yang bisa duduk dan menikmati setiap masakan yang tersaji dimeja bundar restoran. Pikir Elif ketika melihat restoran tersebut yang hanya diisi oleh orang kalangan mewah saja.


"Ayo." Presdir mengajak untuk masuk ke dalam restoran. Elif mengikuti dari belakang. Seorang pelayan restoran menunjukkan meja khusus, mungkin sudah dibooking oleh seseorang. Meja bundar yang sekarang kami tempati berada didekat kolam renang yang luas. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana menjadi tidak secanggung ketika diperusahaan.


Tak berapa lama dua orang pria berjas menghampiri meja bundar yang sedang Elif dan presdi tempati. "Selamat siang presdir. Maaf harus menunggu." pria yang tak kalah tampan dari presdir menjabat tangan presdir ketika presdir bangkir dari tempat duduk. "Siang. Tak apa." balas presdir, datar.


Setelah berjabat tangan sesama petinggi, pria tampan tersebut beralih pada Elif. Dia hendak menjabat tangan Elif, namun sesuatu menghantikannya. "Kamu...bukannya..." pria tersebut mengingat wajah cantik yang ada didepannya saat ini.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Yuk ramaikan. Jangan lupa like, kasih hadiah dan koment. Selamat membaca. Semoga terhibur.


__ADS_2