
Mendapati pertanyaan nyeleneh dari saudaranya, membuat vampire tampan itu mendelik seketika. Tak berapa lama, sebuah bantal melayang tepat didepan wajah Javier. Namun karena memiliki kekuatan gerak cepat, Javier bisa menghindari ketika tahu presdir Dex menyerangnya.
Detik berikutnya, gelak tawa terdengar menggema di kamar sang presdir. Membuat wajah presdir berubah masam. Jika sudah seperti ini, mereka terlihat seperti kakak beradik yang kapanpun bisa bertengkar walau hanya karena hal-hal kecil.
"Maaf, maaf. Aku hanya bercanda." Javier menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan cengiran tengilnya dan mata berkedip-kedip sok imut. Kemudian duduk kembali di sofa dengan seenak jidatnya. "Kan mungkin saja kalian tidak sempat melakukan pembenih-" belum selesai Javier melanjutkan ucapannya, presdir Dex yang sudah jengah langsung memotongnya dengan cepat.
"Cukup Vier! Aku tidak ingin mendengarnya lagi, jika kamu mengatakannya sekali lagi, maka aku akan menendangmu sampai ke matahari, biar kamu mati terbakar disana." setelahnya presdir duduk disamping Elif dan mendaratkan ciuman dibibir pink sang mate, lalu turun ke perut yang masih rata itu.
Entah kenapa, ada dorongan yang membuat presdir memberikan kecupan singkat disana. Mungkin kisah yang baru dia baca memang nyata. Dan itu terjadi pada dirinya sendiri. Sungguh, dalam hati kecil presdir, dia berharap bahwa ini adalah kabar baik. Walau sebenarnya presdir tak menyangka dia akan menjadi seorang ayah dalam waktu sedekat ini. Jika kisah ini memang benar nyatanya.
"Ayo kita temui sofu. Kita harus memastikan tentang buku kuno ini." ucap presdir dengan datar sembari bangkit dari ranjang dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Javier yang tengah menikmati asap bernikotin lantas segera beranjak dari tempatnya duduk. Menyusul saudaranya yang keluar lebih dulu sembari membawa buku kuno yang dia dapatkan di kaki gunung Fuji.
__ADS_1
Kaki jenjang presdir menapaki satu per satu tangga disusul oleh Javier dibelakangnya. Mereka berjalan menuju laboratorium dimana sofu berada saat ini. Karena lelaki tua itu tidak pernah bisa jauh dari barang-barang ciptaannya.
Pintu diketuk sebanyak tiga kali oleh presdir. Sebelum akhirnya dua vampir itu masuk ke dalam setelah mendapat ijin dari si pemilik laboratorium. Pria berjas putih bersih yang tengah meracik obat dari tumbuhan langsung menghentikan kegiatannya tatkala sang cucu mendekat ke arahnya dengan wajah serius.
"Katakan, Dex." Sofu duduk berhadapan dengan cucunya, lalu melepas kacamata yang bertengger dihidung mancungnya dan menyimpannya ditempat khusus dengan hati-hati.
Presdir melirik ke arah Javier yang duduk disebelahnya. Kode agar Javier menyerahkan buku kuno yang berada ditangannya. Lalu presdir kembali menatap sofu setelah Javier melakukan tugas seperti perintahnya.
"Aku berharap ini kabar baik, sofu."
Sebelum membalas ucapan cucunya, sofu menghela napas terlebih dahulu. Ini berita yang sangat besar. Tidak sembarangan yang boleh tahu. Sekalipun itu bangsa vampire sendiri.
"Janin yang dimaksud buku ini adalah kiamat bagi semua bangsa, Dex. Dimana ketika janin ini lahir, maka nyawa mate-mu dipertaruhkan. Dan juga setiap bangsa akan melakukan perang hebat demi membunuh janin ini. Karena kelak, janin ini adalah raja keabadian yang tak terkalahkan. Terlebih, dia lahir dari darah dua bangsa yang sama-sama kuat. Semua ada dalam pilihanmu, Dex. Jika kamu siap, maka terima konsekuensi yang harus kamu hadapi." sofu memberi penjelaskan dengan penuh penegasan. Membuat sekujur tubuh presdir meremang.
__ADS_1
Begitupula dengan Javier yang menelan ludah dengan susah payah setelah mendengar penjelasan dari sofu. Dia tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Bahkan dia tidak bisa berkata bahwa ini adalah kabar baik atau buruk. Karena semua akan menanggung konsekuensi.
"Apakah aku bisa mengatakan ini adalah kabar baik?" tanya presdir dengan bibir yang bergetar. Tak mampu berkata-kata, presdir hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangan lebarnya.
"Kamu bisa mengatakannya kabar baik. Dan semua orang akan begitu. Untuk memastikan bahwa janin ini ada, ayo ke kamarmu, Dex. Kita pastikan bersama-sama." Sofu menepuk pundak kekar cucunya. Berusaha memberikan kekuatan pada cucunya, bahwa semua yang sudah digariskan adalah anugerah. Tidak ada yang perlu disesali.
Presdir Dex mengangguk lemah. Lalu bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari laboratorium bersama Javier dan sofu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa sajen ges, biar UP nya di gas yaaa