Sekretaris Cantik Milik Presdir

Sekretaris Cantik Milik Presdir
Chapter 20


__ADS_3

Brak!!!


Uhuk!


Tiga pemuda terpental ketika hendak menyentuh Elif yang terkulai di tangga terakhir dengan pecahan gelas dibawah sepatu berliannya. Tiba-tiba mahkota transparan yang berada di atas kepala Elif itu bersinar terang seakan sedang memberikan sinyal. Hingga ruangan yang tadinya remang-remang itu tersinari sempurna.


Tiga pemuda yang terkapar itu hanya diam dengan tangan memegang dada. Darah segar yang baru mereka hisap itu keluar setelah badan tegap membentur tembok ruangan. Bahkan rasanya seperti mematahkan tulang punggung sekaligus. Itulah yang tiga pemuda itu rasakan.


Sedangkan presdir, baru saja keluar dari kamar sobo. Lalu, melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Berniat hendak menjemput Elif yang pastinya sedang bosan disana karena terlalu lama menunggu. Pikir presdir ketika sepatu hitamnya itu mulai menuruni satu persatu tangga menuju lantai dua.


Presdir membuka pintu ruang kerjanya. Matanya menyisir ruangan yang sepertinya sepi, tidak ada siapapun disana. Tetapi, bekas genangan air yang berasal dari lelehan dinginnya es batu itu masih bisa terlihat ketika dilihat dari jarak dekat. Menunjukkan jika wanita yang ia cari sudah pergi dari ruang kerjanya. Entah baru saja pergi atau sudah lama.


"Pelayan!" presdir berteriak memanggil pelayan. Seluruh pelayan yang berada di lantai dua bergegas berjejer rapi didepan presdir dengan kepala tertunduk hormat.


Pelayan yang tadi diperintah untuk mengantar Elif pun datang juga, tetapi terlambat beberapa detik. "Maaf, saya terlambat tuan."


Presdir memasukkan tangannya ke saku celananya. Lalu, menatap satu persatu pelayan yang bekerja di rumahnya itu dengan seksama.


"Siapa yang tadi aku perintahkan untuk mengantar nona ke ruang kerja?" tanya presdir, datar.


Pelayan yang datang terlambat itu mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. Terselip rasa takut dan khawatir dari getarnya tangan yang ia angkat tak terlalu tinggi.

__ADS_1


"Kemari!" perintah presdir.


Seketika pelayan tersebut melangkah dan berdiri didepan presdir dengan kepala terus tertuntuk takut. "Kalian semua pergi! Jangan lalai dalam menjalankan tugas! Layani tamu dengan sebaik mungkin!" titah presdir sebelum barisan para pelayan bubar.


"Dimana, nona?" tanya presdir dengan serius.


Pelayan tersebut menggeleng pelan. "Maaf, presdir. Nona memerintahkan saya untuk melayani para tamu dan dia hanya mengatakan kalau ingin berkeliling kediaman. Dan setelah itu saya tidak tahu kemana nona pergi. Ampun, presdir."


Presdir mengernyit mendengar jawaban dari pelayan yang bergetar takut didepannya. "Keliling kediaman?"


"Iya, presdir." balas pelayan dengan anggukan kepala.


"Karena kamu lalai dalam menjalankan tugas, aku potong gajimu itu jika nona tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kamu mengerti? Sekarang tugasmu adalah mencarinya. Sampai ketemu!" titah presdir dengan tegas. Pelayan tersebut segera pergi dan mencari nona dilantai dua kediaman Kandou.


Cahaya terang membuat presdir berjalan semakin cepat menuruni anak tangga. Karena yang ia tahu, tempat itu tidak pernah seterang sekarang. Apalagi terang cahaya itu melebihi lampu.


"Astaga!" presdir terkejut, melihat pemandangan yang begitu membuatnya tidak percaya.


Seperti halnya telah terjadi sebuah pertarungan saja di ruangan tersebut. Tiga pemuda yang terkapar dengan darah mengalir deras itu adalah anak buah presdir dari bangsa vampire. Mereka yang biasanya berburu mangsa dan setelah itu menikmati santapan itu di ruangan tersembunyi. Tetapi, kenapa bisa mereka menjadi seperti itu?


"Elif!" mata presdir tertuju pada wanita cantik yang terkulai lemas ditangga paling bawah. Di sekitar sepatunya pecahan gelas berserakan. Hal itu membuat presdir paham, jika sang MATE pingsan dan seketika menjatuhkan gelas yang berisi jus tepat dibawah kakinya yang untungnya bersepatu.

__ADS_1


"Presdir... Jangan dekati wanita itu... Dia memiliki kekuatan yang besar... Lihatlah kami... Ini semua akibat dari kekuatannya itu..." salah seorang pemuda dengan napas tersengal-sengal mencoba mengatakan sesuatu ketika melihat presdir yang kini berjongkok dan hendak menggendong wanita cantik dengan rambut sebagian menutupi wajahnya.


Presdir tak menghiraukan ucapan anak buahnya. Yang sekarang memenuhi pikirannya hanyalah membawa Elif pergi dari tempat yang memang seharusnya tidak dilihat itu.


"Jadi, sinar ini berasal dari mahkotanya. Dan, seakan kami berdua mempunyai ikatan batin yang kuat." presdir baru menyadari ketika ia sampai dikamarnya setelah membaringkan Elif diatas kasur. Terlihat mahkota itu bersinar terang selama beberapa saat dan akhirnya berkedip lalu menghilang.


Anak buah presdir tercengang seketika. Melihat tuannya itu tak sedikitpun terluka akibat mendekati wanita bergaun putih bak manekin. Beberapa pelayan pria datang ke ruangan tersembunyi tersebut setelah presdir memberi perintah.


"Setelah perisai yang kamu miliki itu lepas, ternyata apapun yang kamu lihat adalah sebuah kenyataan yang sebenarnya. Kamu juga dapat melihat anak buahku yang seorang vampire. Bagaimana jika kamu melihat berbagai bangsa yang berbeda nanti? Apa setiap yang kamu temui akan membuatmu tidak sadarkan diri?" presdir menatap wajah mulus dengan tangan membelai wajah cantik tersebut dengan lembut.


Presdir yang mempunyai kecerdasan itu dapat mengerti dengan apa yang terjadi dengan cepat. Seperti halnya sekarang. Dia sudah bisa menyimpulkan apa yang


sebenarnya terjadi di ruangan tersembunyi di kediaman Kandou. Jika bukan karena melihat anak buahnya itu yang tengah menyantap hasil buruan dengan gigi taring panjang. Pasti itulah yang Elif lihat hingga membuatnya pingsan karena terkejut.


"Kamu pasti akan terbiasa dan bisa menerima semua kekuatan yang bersemayam di tubuhmu." ucap presdir, sembari mengecup tangan putih Elif.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, hadiah dan koment. Selamat membaca. Semoga terhibur.


__ADS_2