
Brak!!!
Para prajurit berpakaian serba hitam menunduk takut ketika melihat raja muda mereka murka. Tak ada pilihan lain lagi, selain memberitahu kabar yang mereka dapatkan.
Dengan napas memburu, raja muda itu berkata, "Siapkan prajurit dan latih mereka dari sekarang! Aku ingin semua pasukanku tidak akan kalah lagi seperti sebelumnya. Apa kalian mengerti?!!" perintahnya dengan penuh tekanan kepada prajurit pilihan terbaik.
Para prajurit pun mengangguki perintah yang diberikan dan langsung menunduk hormat. Kemudian mereka bergegas mengambil langkah untuk meninggalkan aula kerajaan dengan penuh ketakutan. Meninggalkan penguasa selanjutnya dari ratu mereka yang telah mati akibat peperang waktu itu.
Selepas kepergian para prajurit, raja muda itu tersenyum sinis ketika mengingat berita yang tak lama dia dengar.
"Aku akan membalas kematian bunda dengan kematian orang yang kamu cintai, Penyihir Cantik. Dan aku akan memastikan kamu akan menderita, sama seperti yang aku rasakan sekarang. Tunggu saja tanggal mainnya. Bersiaplah untuk yang terburuk. Hahaha!!!" seketika tawa memenuhi aula kerajaan yang nampak gelap dengan pencahayaan yang minim. Membuat siapapun yang mendengar tawa raja baru itu bergidik ngeri.
Sedangkan di Kediaman Kandou, presdir dengan setia menemani Elif yang masih terbaring lemah diatas ranjang. Tak ingin terlewat hanya satu menit saja, presdir rela duduk seharian dengan memandang wajah cantik sang mate. Tak lupa pula, perut yang terus membuncit itu selalu menjadi sorotan kedua mata Elang presdir.
"Au!"
"Ada apa, Elif? Apa kamu merasakan sesuatu?" presdir dengan wajah khawatir bertanya. Takut terjadi sesuatu lagi dengan sang mate.
__ADS_1
Elif yang mulanya meringis menahan sakit, kini justru tersenyum melihat kekhawatiran yang tergambar jelas diwajah tampan presdir. Vampir dingin yang tidak pernah dia sangka akan menjadi pendamping hidup sekaligus menjadi ayah dari anak-anaknya kelak. Kini berada disampingnya dengan penuh kesetiaan. Sungguh, Elif sangat menikmati momen-momen seperti ini.
"Tidak khawatir, presdir. Tadi hanya sebuah tendangan yang cukup membuatku kaget." lengkungan senyum serta usapan lembut dirahang presdir seketika membuat vampir tampan itu menghela napas lega.
Digenggamnya tangan putih nan bersih itu seraya berucap, "Syukurlah, Elif. Aku sangat mengkhawatirkanmu." dan sebuah kecupan beberapa kali ditelapak tangan Elif.
"Apa kamu tidak ingin merasakannya juga, presdir?" tanya Elif serius.
Presdir menatap dalam bola mata penuh keteduhan itu, "Bagaimana caranya?" pertanyaan polos yang sukses membuat bibir pink Elif terus melengkung dengan sempurna.
"Seperti ini." Elif menuntun tangan besar itu ke atas perutnya yang membuncit. Meletakkannya disana sembari memberikan usapan-usapan lembut. Menunggu anak kembar mereka memberi respon.
"Aku tidak pernah menyangka, kita akan sebahagia ini setelah melewati kerikil-kerikil dalam kehidupan yang begitu banyak dan melelahkan." ucap presdir dengan tangan yang kini berpindah ke wajah cantik dan mulus itu.
Elif menikmati setiap sentuhan yang diberikan presdir. Tak pernah dia merasakan kebahagiaan ini. Bahkan saat bersama keluarga manusianya sekalipun. Dan Elif berharap, selamanya dia akan merasakannya.
"Tidak ada kebahagiaan tanpa sebuah perjuangan."
__ADS_1
Cup!
Sebuah kecupan mendarat sempurna dibibir yang kini menjadi madu bagi vampir yang sebentar lagi menyandang status seorang ayah. Perlahan tapi pasti, kecupan itu berubah menjadi sebuah ******* yang menuntut untuk dibalas. Bersama keduanya mengalirkan rindu yang tertahan lewat pertukaran saliva. Berharap mereka akan terus saling menguatkan satu sama lain sampai waktunya tiba. Takdir yang akan memisahkan mereka berdua.
Disela pertautan itu presdir berbisik, "Aku mencintaimu, Penyihir cantik. Terus berikan sihirmu yang sangat ampuh agar aku terus jatuh hati kepadamu selamanya."
"Aku juga mencintaimu, Vampir tampan. Dan aku akan berusaha mengabulkan permintaanmu." Elif pun membalas sebelum keduanya kembali hanyut oleh kabut asrama yang semakin menggelora.
Didalam rahim, keempat anak kembar itu tengah duduk melingkar sembari cekikikan mendengar perkataan orangtua mereka. "Ketika kita lahir nanti, kita harus saling menjaga satu sama lain dan yang paling utama adalah pere dan mere." anak laki-laki yang terlihat paling dewasa diantara bocah itu mengingatkan saudara kembarnya. Karena dirinya sudah merasa banyak sekali yang mengincar mereka ketika lahir nanti.
Ketiga bocah kembar yang lain pun mengangguk dengan patuh. Mereka berharap waktu semakin cepat dan mereka bisa segera lahir ke dunia yang penuh dengan pertumpahan darah.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Maapin ges Up nya dikit banget. Soalnya ini juga lagi cari waktu. Minta doanya juga ya ges, semoga author bisa masuk perguruan tinggi seperti yang author pengen. Amin. Sehat dan bahagia selalu kalian. Sampai ketemu dibab selanjutnya.