
Pukul sepuluh pagi, predir keluar dari ruang kerjanya setelah tadi membereskan beberapa dokumen perusahaan. Sebelum melangkah menuju lift khusus petinggi perusahaan, terlebih dahulu presdir menyempatkan waktu bertemu dengan Elif.
Dibukanya pintu ruang kerja khusus sekretaris. Elif yang tadinya sibuk mengurus pekerjaannya ditablet, teralihkan sejenak setelah mendengar langkah seseorang mendekat. Mata keduanya bertemu dan berakhir dengan sebuah senyum manis.
"Pagi, presdir." sapa Elif, membungkuk sopan.
Presdir mendekat ke arah meja kerja Elif. Menyandarkan pinggangnya disana dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Cool.
"Pagi, Elif."
Mata presdir menyisir ke ruangan yang telah ia desain khusus lewat rancangan seorang arsitektur terkenal. Ruangan itu tampak rapi, bersih dan sangat nyaman untuk ditempati. Ternyata tidak salah juga presdir mengangkat Elif sebagai sekretarisnya. Wanita bak boneka berbie itu dapat ia percaya baik dalam urusan perusahaan maupun urusan diluar pekerjaan.
Presdir memperhatikan Elif yang terus menunduk dihadapannya. Membuat senyum simpul kembali terbit diujung bibir sang presdir. "Jika kita sedang berdua, tidak perlu terlalu formal seperti ini. Bukannya aku sudah bilang tadi malam?"
Elif perlahan mendongak, gurat merah dipipinya kembali hadir setelah mendengar ucapan presdir. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam dan tadi pagi. "Maaf, presdir." ucap Elif.
"Tak perlu seperti itu juga. Sekarang kita sedang berdua, tataplah aku." titah presdir dengan tangan menyentuh dagu Elif, agar manik mata berwarna abu-abu itu menatapnya.
Kini keduanya saling menatap dalam keheningan. "Aku cuma ingin mengatakan satu hal padamu. Cincin pemberian dari sofu, berguna melindungi identitasmu dari para musuh. Karena sekarang, banyak sekali yang sedang mengincarmu diluar sana. Kamu harus ingat itu, tetaplah waspada dan jangan sampai lengah." sembari meraih tangan kiri Elif, terdapat dua cincin yang terpasang cantik disana.
__ADS_1
Kedua cincin itu berbeda fungsi. Satu cincin yang dimaksud presdir adalah pemberian dari sofu. Dan satu cincin lagi adalah lambang ikatan antara presdir dan Elif. Cincin yang bergambar taring berwarna gold itu berguna ketika salah satu diantara keduanya terluka atau dalam bahaya, maka cincin tersebut yang akan menghubungkan ikatan batin keduanya. Tetapi, hati presdir tetap khawatir saja, walau ada cincin yang mereka dua pakai itu.
Kenapa?
Karena, kekuatan yang dimiliki Elif belum sempurna Elif kuasai. Maka dari itu, kekuatan besar itu sekarang ikut terkurung dalam cincin bergambar taring. Tujuannya agar tubuh Elif perlahan dapat menerima seluruh kekuatan leluhur untuk menjaga dirinya.
Elif memandang jemarinya yang sedang digenggam oleh presdir. Lalu, mengangguk pelan. "Dan satu hal lagi. Instingku mengatakan bahwa kamu tidak boleh terlalu dekat dengan tuan Marco. Aku pun melihat dimatanya kalau dia memiliki ketertarikan padamu. Ku mohon, berikan jarak antara kamu dengan dia. Ingat, kalian berdua hanya memilki hubungan sebatas CEO dan sekretaris dalam satuan kerjasama dua perusahaan." presdir menarik tangan Elif dengan pelan, membuat jarak yang ada terkikis sempurna.
Cup!
"Apa kamu mengerti?" tanya presdir setelah mengecup dua cincin yang melingkar pas dijari lentik Elif.
"Iya. Aku akan selalu mengingat perkataanmu, presdir." balas Elif dengan senyum manis dibibir merahnya itu.
Pukul sebelas siang, Elif dan presdir keluar dari ruang kerja sekretaris dengan Elif berjalan dibelakang presdir seperti biasa. Presdir berjalan dengan kacamata yang setia bertengger dihidungnya yang mancung. Elif yang setia itu berjalan dengan tangan membawa tas berisi dokumen dan tablet. Lalu, ditangan lainnya memegang jas milik presdir. Mereka berdua memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Mobil lamborghini milik presdir sudah siap di depan lobby perusahaan. Presdir disambut oleh bodyguardnya yang setia menunggu di depan pintu masuk. Membukakan pintu mobil dan mempersilakan presdir untuk masuk ke dalam mobil. Begitu pula dengan Elif, semua itu atas perintah presdir agar bersikap hormat pula pada sekretarisnya. Para bodyguard pun melakukan hal sama pada Elif, membuat para karyawan perusahaan yang melihatnya menjadi iri.
"Ingat perkataanku." bisik presdir setelah sampai di restoran Bumi Citra. Elif mengangguk, sembari bersiap turun dari mobil.
__ADS_1
Keduanya berjalan masuk layaknya seorang CEO dan sekretarisnya dengan memberi jarak langkah. Setibanya diruang khusus meeting, ternyata pihak dari perusahaan Indomarco sudah terlihat duduk rapi disana. Padahal waktu baru menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit, masih ada dua puluh menit lagi waktu senggang sebelum meeting dimulai.
Marco berdiri lalu membenarkan jas kerjanya. Terlihat berkharisma dan berwibawa. Tangannya terulur menjabat tangan presdir. Presdir membalas jabatan tangan Marco dan bergantian dengan sekretarisnya.
Elif menunjukkan senyum simpulnya seperti presdir ketika menjabat sekretaris perusahaan Indomarco. Begitu pula saat menjabat tangan Marco sang CEO.
"Akh!"
Ruang khusus meeing mendadak hening setelah mendengar pekikan dari Marco. Dilihatnya tangan Marco yang berwarna merah seperti habis memegang benda bertempratur panas.
"Presdir?" lirih Elif dengan wajah khawatir, takut kekuatannya melukai Marco.
Presdir pun tak kalah terkejut dengan yang ia lihat dihadapannya. Pikirannya tertuju pada cincin yang diberikan oleh sofu dan cincin lambang ikatan pernikahan keduanya. Bukannya kekuatan Elif sudah dibantu dikurung didalam cincin, tetapi kenapa masih bisa melukai seseorang tanpa Elif sadari?
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Terima kasih.