
Duar!
Duar!
Duar!
Petir saling menyahut ketika dua benda kenyal itu menempel. Angin berhembus kencang. Sinar bulan semakin terang. Langit menunjukkan rasi bintangnya dengan jelas.
Mata keduanya terpejam. Merasakan beribu kekuatan yang datang. Merasuk secara halus melewati ubun-ubun kepala, jantung dan tanda lahir.
Tangan presdir memegang erat pinggang ramping berselimut gaun tebal. Berusaha membuat Elif tenang.
Penyatuan keduanya itu berlangsung lama. Semua itu karena presdir Dan Elif adalah dua bangsa yang berbeda. Kekuatan keduanya pun ada yang saling tolak-menolak untuk disatukan. Sunguh, perkara sulit yang membuat sofu pun harus bekerja lebih extra demi cucunya.
Sofu memerintahkan pada keluarga dan seluruh rakyat terpecayanya yang hadir untuk menyatukan kekuatan mereka semua.
Perintah sofu langsybg disetujui dan dilaksanakan oleh seluruh yang hadir di taman.
"Aaaaa!!!"
Seperti ada magnet yang begitu kuat, tubuh Elif terbang seketika. Presdir yang menahan dengan segala tenaganya itu akhirnya jatuh. Tak kuat dengan kekuatan yang membuat Elif terus terbang. Ke atas, melewati jalur bercahaya. Menuju pusaran yang terus melebar itu.
"Aaaaaa!!!"
Suara teriakan Elif menggema ditaman. Seketika itu juga terbentuk portal. Portal pembatas antara dunia manusia dan dunia bangsa vampire.
Sayap indah terbentang bersama dengan datangnya tongkat bercahaya. Sayap berwarna putih bercampur biru tipis itu menyala. Terlihat sangat indah.
Bersamaan dengan itu, tongkat yang berada ditangan Elif pun bercahaya. Menerangi taman dengan portal beribu kekuatan itu.
__ADS_1
"Elif..." lirih presdir sembari bangkit.
Memandang Elif yang masih memejamkan mata dengan tubuh melayang diatas sana.
Sofu merogoh saku jas hitamnya. Mengambil parfum yang ia racik seribu tahun lalu. Dengan segala kekuatannya dan mantra yang sofu ucapkan itu, parfum yang baru ia semprotkan ke udara berubah menjadi kupu-kupu lucu dan juga kunang-kunang.
Kupu-kupu itu terbang dengan sayapnya yang menyala indah. Memutari tubuh Elif yang melayang diudara. Sedangkan kunang-kunang tadi, mengelilingi presdir. Lalu, membawa presdir terbang. Menjemput sang MATE yang masih memejamkan matanya setelah tadi berteriak menerima kekuatan berkali-kali lipat ke dalam tubuhnya.
Cup!
"Bangunlah." ucap presdir, terdengar sangat lembut. Menyapa penyihir cantik yang kini sudah menjadi miliknya.
Elif membuka matanya perlahan. Setelah tadi suara lembut menyapa indera pendengarannya. "Presdir..."
"Jangan takut lagi. Ada aku yang akan menjagamu. Karena kamu adalah MATE ku. Sekarang kita sudah terikat. Walau didunia manusia kita belum terikat, tetapi aku akan mengikatnya dengan cepat pula. Mari, kita turun. Semua orang sedang menunggu kita dibawah."
Elif menundukkan kepalanya. Ia terkejut, karena sekarang dirinya sedang melayang. Apalagi ditangannya terdapat tongkat dan dibalik punggungnya pula terdapat sayap yang terus mengepak.
***
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ada yang masih hidup!" teriak seorang wanita bergaun merah kerajaan, terlihat dari wajahnya amarah yang menggebu.
Mata hitamnya melirik ke arah prajurit yang tengah menunduk takut.
"Maaf, ratu. Tapi, itulah kenyataannya." si prajurit kembali meyakinkan ratunya itu.
"Tidak mungkin!!! Aku sudah memusnahkan bangsa penyihir!!!" teriak sng ratu, suaranya menggema diruang khusus tempatnya bersemedi untuk mengumpulkan kekuatan.
"Cari tahu lagi! Jika bisa, musnahkan dia juga! Bawa abunya ke hadapanku!" titah sang ratu dengan wajah memerah karena amarah.
__ADS_1
Prajurit kepercayaan yang ditugaskan untuk mencari informasi itu, segera pergi. Kembali mencari informasi dan menjalakan titah dari sang ratu.
"Tidak mungkin." gumamnya masih tidak percaya.
Tak berapa lama, seorang pria datang. Membawa seekor buruan dan menghidangkannya didepan sang ratu.
"Silakan dimakan ibunda." ucapnya sopan.
"Makanlah. Aku sedang tidak berselera sekarang."
"Ada apa ibunda? Bukannya rusa ini adalah makanan kesukaan ibunda?" Tanya pria itu penasaran.
"Ibunda tidak akan makan apapun sebelum meminum abu dari penyihir itu. Dia harus musnah." jawab sang ratu yang membuat anaknya mengernyit.
Abu penyihir?
Musnah?
"Apa yang ibunda katakan? Bukannya ibunda pernah bilang, kalau bangsa penyihir sudah ibunda musnahkan? Kenapa sekarang harus dimusnahkan lagi?"
"Ibunda salah. Masih ada penyihir yang hidup. Kali ini, dia mempunyai kekuatan yang setara dengan ibunda. Dia mendapatkan itu karena perjanjian luhur bangsa penyihir yaitu dengan menyatukan kekuatan mereka. Lalu, memberikannya pada penyihir tersebut." balas sang ratu. Menjawab pertanyaan putranya itu.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Terima kasih.