
Siang hari seperti biasa semua orang yang ada di dalam kantor mempunyai kesibukan masing-masing. Tak terkecuali sang presdir. Dirinya sedang disibukka memimpin rapat dengan para bawahannya mengenai proyek yang akan mereka kerjakan minggu depan.
Rapat kala itu selesai setelah dua jam dengan presdir sendiri yang menutup rapat. Setelah rapat selesai, semua orang membubarkan diri. Lalu, melanjutkan pekerjaan mereka di ruang masing-masing.
Presdir langsung keluar dari ruang rapat dengan diikuti Javier dibelakangnya. Mereka berdua berjalan menuju lift khusus. Memasuki lift dan berdiam disana hingga sampai dilantai yang mereka tuju. Setelahnya, kedua pria tampan itu masuk ke ruang kerja presdir untuk membahas beberapa persoalan tentang proyek.
"Presdir, apa anda yakin akan mengerjakan proyek ini?" kepala manager bertanya setelah duduk du kursi tepat di depan meja presdir.
"Apa kamu ragu dengan saya?" presdir balik bertanya pada bawahannya itu.
Kepala manager bingung harus menjawab apa. Karena yang ia rasa kali ini proyek yang akan mereka kerjakan akan membawa suatu masalah yang besar. Itulah yang kepala manager rasakan saat hatinya berkata bahwa proyek itu akan membawa bencana.
"Dex, untuk kali ini gue ragu." sang kepala manager pun langsung berterus terang dengan bahasa non formal.
Presdir yang mendengar itu langsung menatap kepala manager yang bukan dan tak lain adalah sauadaranya yaitu Javier. "Apa yang membuat lo ragu, Jav? Nggak biasanya lo ragu saat akan mengerjakan proyek besar. Apa semua ini karena feeling?"
Javier mengehmbuskan napas dan mengangguk. "Iya. Karena gue merasa kalau proyek ini akan membawa masalah besar atau bencana bagi kita." jawab Javier jujur.
Presdir menyilangkan kakinya, matanya menyelidik. Pandangannya menerawang pada beberapa masalah yang pernah dia hadapi selama ini. Memang benar apa yang dikatakan Javier, tidak mungkin dia berbohong. Karena feeling yang Javier miliki itu tidak pernah salah. Dan bahkan selalu saja benar dan terjadi. Karena itu adalah salah satu keistimewaan Javier.
"Kita lihat dulu. Jika awal proyek ini ada suatu masalah atau kejanggalan, maka kita akan memberhentikan proyek ini." keputusan sang presdir setelah memikirkannya dua kali.
"Oke. Gue setuju."
"Gue keluar dulu." Javier pun bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan sedikit lega.
***
__ADS_1
Jam makan siang telah tiba. Presdir yang sedari tadi duduk dengan tangan menari di atas keyboard laptopnya itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Waktunya makan siang." gumam presdir lalu mematikan laptopnya dan bangkit dari kursi.
Presdir keluar dari ruangannya dan masuk ke ruangan milik sekretaris. Didalam hati presdir berniat makan siang dengan Elif di restoran terdekat. Namun, saat presdir menyisir ruangan yang ia rancang khusus terlihat sangat sepi. Tak ada orang disana.
"Elif?!" panggil presdir sembari mengecek ke seluruh ruangan.
Sepuluh menit mencari, presdir tak kunjung menemukan ratu hatinya. Merasa lelah, presdir memutuskan untuk duduk dan mengingat kaan terakhir kali dia bertemu dengan sang mate.
"Rapat proyek. Iya, aku terakhir bertemu saat rapat. Dan setelah itu aku tidak lagi melihat dirinya. Mungkin dia masih ada di ruang rapat." gumam presdir.
Presdir langsung menuju ke ruang rapat. Disana juga terlihat sepi dan tak ada satu pun orang.
"Dimana dia?" tanya presdir pada dirinya sendiri saat duduk di kursi khususnya di ruang rapat.
Mengecek ponselnya, presdir pun memilih menghubungi Elif. Beberapa kali panggilan ditolak. Membuat rasa penasaran sekaligus khawatir menyerbu dada presdir saat itu juga.
Tak berapa lama pintu ruang rapat diketuk. "Masuk!"
Seseorang yang tadi mengetuk pintu ruang rapat pun masuk. Senyum diwajahnya terlihat jelas saat berjalan menghampiri presdir yang duduk dengan ponsel ditangannya. "Ada apa?" presdir langsung to the point dengan lawan bicaranya yang kini berdiri disampingnya.
"Aku kesini hanya ingin mengajak presdir makan siang. Apa presdir ada waktu luang?" tanyanya sembari duduk di salah satu kursi.
"Aku sibuk." balas presdir tanpa menoleh sedikitpun.
Wanita tersebut hanya tersenyum mendengar jawaban presdir, Karena sudah ia duga jika presdir pasti akan memberikan seribu alasan untuk menolak ajakannya.
"Aku lihat, presdir punya waktu luang. Buktinya presdir sedang duduk sendirian disini. Bukannya itu adalah waktu luang presdir di jam makan siang?"
__ADS_1
"Pergilah. Aku sedang tidak ingin makan sekarang." titah presdir kesal.
"Presdir, aku hanya khawatir jika presdir tidak makan, maka presdir akan jatuh sakit. Lalu, siapa yang akan memipin perusahaan besar ini?"
"Jika presdir tidak mau, maka saya akan duduk disini menunggu presdir mengiyakan." ucapnya dengan seringai.
Presdir yang merasa campur aduk akhirnya memilih mengiyakan ajakan wanita yang terus saja mengoceh. Tetapi, sebelum itu presdir sudah menghubungi Javier dengan mengirim pesan penting.
***
"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Javier saat membaca pesan dari presdir.
Javier pun menghubungi seseorang yang dia percaya. Karena, Javier merasa jika ini bukan sebuah kebetulan belaka.
***
"Maafkan aku, Elif. Aku terpaksa melakukan ini semua. Atau aku akan diturunkan jabatannya. Dan aku tidak ingin itu terjadi." batin seseorang yang duduk disamping Elif yang tertidur karena obat yang telah diberikan seseorang yang kini duduk disebelahnya.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Masukkan dalam ranjang FAVORITE juga yaa. Biar tau kelanjutan kisahnya. Terima kasih....
__ADS_1