SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 2


__ADS_3

Suami_malas_bikin_mumet


Pulang dari rumah Kak Wita, aku dapati suamiku sedang tiduran sambil menonton tv. Setiap hari selalu saja begini. Tanpa mengucapkan salam aku langsung pergi ke dapur. Dengan kesal aku lewati Andri. Sampai manyun-manyun, tapi Andri tetap cuek.


Ya ampun!


Berantakan sekali.


Habis masak rupanya ayah Intan ini. Ada mie goreng di wajan, saat aku cicipi, hmmm rasanya lumayan. Sebelum menghadap si pemalas, aku akan habiskan dulu mie. Selagi makan, otakku berputar memikirkan nasib yang tak pernah aku harapkan.


Dulu, gaji Andri lumayan besar. Apalagi kalau dapat uang tip, aku sampai bisa beli skin care yang harganya ratusan ribu. Sekarang, untuk beli kosmetik saja aku harus jalan kaki ke pasar subuh. Biar dapat kosmetik yang rijek tapi masih layak pakai. Ya, tidak apa-apa lah, hanya lecet luaran.


Aku habiskan semua sisa mie goreng, dan baru sadar tak ada lagi makanan untuk Intan. Beras sisa satu gelas lagi. Aku buka semua lemari makanan, kosong. Bahkan garam tinggal satu sendok. Kulkas juga tinggal dinginnya saja. Di freezer tak ada sepotong daging pun yang bisa aku masak.


Sial sekali nasibku kali ini. Uang pinjaman yang aku dapat dari Kak Wita, tadinya mau aku gunakan untuk modal. Pesanan kue basah untuk besok lumayan banyak. Bagaimana ini, kalau aku kasbon lagi ke warung Bu Ijeum, sudah pasti tidak akan dikasih.


Pergi ke rumah ibu, ah kurasa tidak. Ibu pasti sangat marah, apalagi kalau tahu Andri masih belum dapat kerjaan.


Baiklah, beras ini akan aku jadikan bubur. Uang belanja kalau ada sisa, nanti bisa aku beli beras atau mie.


"Sayaaang, ada telepon!" Andri memanggil. Sejak menikah, Andri memang selalu memanggilku sayang.


"Dari siapa yah?" Tanyaku sambil menggosok piring.


"Irma!"


Aduh! Piring hampir lepas, begitu juga jantungku terasa mau copot.


"Oh iya, sebentar, jangan diangkat yah!" Pintaku sedikit berteriak. Aku basuh kedua tangan dan mengelapkan pada daster yang aku kenakan.


"Siapa Irma?" Tanya Andri heran.


"Sudah, nanti aku ceritakan. Sini hpnya!"


Buru-buru aku kembali ke dapur, dan memastikan Andri kembali rebahan dan fokus ke acara tv.


"Halo Ir, eh salah, Dimas!" Berbisik aku menerima telepon dari Dimas. Takut kepergok ayahnya Intan.


"Kamu lagi apa sih, pesan aku gak dibaca terus?"


"Tadi aku abis dari Kak Wita, eh pas pulang, rumah berantakan. Ya udah aku beres-beres dulu. Aku paling gak suka liat rumah macam kapal pecah begini."


"Waaah kamu emang istri idaman ya, udah cantik, pintar usaha, juga rajin beresin rumah." Bukan yang pertama Dimas memujiku. Tak bisa dipungkiri, aku merasa senang campur malu. Sepertinya pipiku memerah, karena terasa sedikit panas.


"Satu lagi!" Kataku mengingatkan.


"Apa?"

__ADS_1


"Jago masak." Sombong sedikit lah, biar Dimas makin greget sama aku.


"Aku gak percaya."


Wah, nantang nih!


"Terserah." Jawabku ketus.


"Supaya aku percaya, coba masakin sesuatu buat aku."


Sekujur tubuhku bergetar saat suara Dimas begitu dekat di daun telinga. Setelahnya ia merayu dan mengajakku bermanja.


"Sayaaang..." Tiba-tiba Andri memanggil, langsung aku matikan telepon, saking kagetnya, telepon langsung mati, karena saat aku kunci aku terlalu menekan.


"Iya ayah?" Aku hampiri ia yang ternyata memintaku untuk dibuatkan kopi.


Suami menyebalkan, sudah nganggur, banyak maunya. Setelah kopi, ia juga minta dibelikan roko. Terus, minta diisi pulsa segala, katanya untuk menelpon Umi.


"Ayah, ibu udah gak ada uang. Ini juga baru dapat pinjaman buat modal kue. Palingan ibu cuman dapat berapa dari hasil jual kue ini. Mana uangnya besok juga harus ibu kembalikan sama Kak Wita. Ayah tau, di dapur udah gak ada makanan, gimana ibu bisa beli kopi sama roko?"


"Kalau gak ada ya sudah. Gak usah pake acara nyolot segala. Ayah pikir, kopi sama roko gak nyampe sepuluh rebu, dan ibu pasti ada lah uang segitu."


Aku tarik nafas dalam, dalam sekali. Sudah dia tidak kerja sudah hampir setahun, kalaupun ada kerja ya serabutan yang uangnya cukup untuk makan saja. Sekarang malah minta-minta sama aku, yang wajib cari nafkah itu kan dia.


Sudah habis kesabaran untuk menunggu dia tobat. Entah sampai kapan ia akan bermalas-malasan seperti sekarang, dan cukup sampai sini, aku tidak akan pedulikan lagi Andri. Susah payah aku jualan, ya aku pasti dahulukan kebutuhanku.


Kami saling diam beberapa saat, sampai hal yang tidak aku harapkan terjadi. Dimana ia seolah mencurigai sesuatu.


Aku berusaha tenang, dan mencari cerita kebohongan yang akurat.


"Temen yang ibu kenal di pasar, yang kebetulan sama kaya ibu, jualan kue."


"Trus kenapa tadi ayah gak boleh angkat telponnya?"


Aku terdiam, dan kebohongan demi kebohongan terus keluar dari mulut tanpa aku sadari. Dalam situasi mencekam seperti ini aku bangga pada diriku yang bisa mengarang cerita.


Maka dengan lancar aku jawab, "Irma itu orangnya ganjen, di pasar aja banyak bapak-bapak yang digoda sama dia. Ibu gak mau nanti ayah tergoda juga sama si Irma ganjen itu!"


Andri tersenyum sembari memelukku, rasanya ko biasa aja ya, tidak ada sesuatu yang kesetrum, yang ada malah aku makin sebal sama suami.


"Apaan sih ayah, nanti kalau kepergok Intan kan malu."


"Seganjen apa sih si Irma itu. Ayah pastikan, gak akan ada wanita lain di hati ayah. Mau segimana dia goda ayah, ayah gak bakal mau. Ayah cuman cintanya sama ibu sayaaang." Mengecup pipiku.


Gombal!


"Sudah ah, ibu mau nerusin cuci piring." Aku lolos dari pelukan Andri yang pasti mengarah ke sana. Malas ah, cinta-cintaan sama laki pemalas macam dia. Aku kembali lagi ke dapur. Disela-sela pekerjaan dapur, aku berkirim chat dengan Dimas.

__ADS_1


Sesaat aku lihat Andri seperti sedang melamun, aku kira ia akan mengikutiku, tapi untungnya ia pergi.


"Bu... Ayah ke rumah Pak Irwan dulu." Katanya sambil berlalu. Kalau dia sudah panggil ibu, menandakan sedang kecewa karena keinginannya tidak aku penuhi.


Rasain!


Makanya cari kerja yang benar. Banyak sodara, teman, tetangga yang menawarkan pekerjaan. Tapi suamiku selalu beralasan ini-itu yang jadinya malah membuat ia menganggur terus.


***


"Bu, ayah kemana sih?" Tanya Intan sepulang mengaji.


"Tadi bilangnya mau ke rumah Pak Irwan."


"Masa?" Intan tidak percaya.


"Iya, tapi ibu juga gak tau, ayah kamu kemana lagi."


"Tadi di madrasah, Lia bilang ayah udah pulang dari rumah Pak Irwan." Lia merupakan anak bungsu Pak Irwan. Pak Irwan merupakan orang terpandang yang memiliki banyak ladang dan kolam.


Sudah mau jam sepuluh malam, tapi Andri belum kembali. Apa dia marah, atau setidaknya ada pekerjaan dadakan. Ah, aku kesal karena harus mengkhawatirkan suamiku. Bagaimana kalau sampai Andri tidak pulang lagi ke sini. Sekarang aku harus bisa menenangkan Intan dulu, anak ini tidak bisa tidur kalau tak ada ayahnya disamping.


"Intan sayaaang, besok kan Intan sekolah, sekarang kamu bobo. Besok juga ayah pasti udah ada. Gak mau kan kalau ayah marahin Intan, gara-gara bangunnya kesiangan?"


"Gitu ya bu?"


"Mungkin ayah lagi ada urusan penting, jadi gak sempat pulang dulu buat kasih tau kita."


"Coba ibu telpon!"


Lama-lama anak ini bikin emosi, Intan memang terlau dekat dengan ayahnya. Tidak bisakah semalam saja Intan tidur tanpa harus dikelonin oleh Andri. Salah Andri juga yang terlalu memanjakan, sejak Intan lahir kedunia, Andri terlalu sibuk mengajari berbagai hal pada anak kesayangan. Tapi percuma, dia jadi ayah penyayang, baik, dan pintar kalau tidak bisa cari uang.


"Ayah gak bawa hp." Aku menunjuk benda pipih itu yang tergeletak di atas rak tv.


Dengan raut wajah kecewa, Intan meraih selimut lalu berbaring di kasur yang ada di ruang tv.


"Bobo di kamar!"


"Gak Bu, Intan mau bobo di sini sambil nunggu ayah."


Bodo amat, aku biarkan Intan tidur sendiri. Malas mengeloni anak yang sudah mau beranjak remaja. Dia harus bisa mandiri, jangan segalanya harus ayah dan ibu.


Di samping Intan, aku asyik chating dengan Dimas. Dimas, hari-hari aku jadi berwarna berkat kamu.


Dia kembali meminta pebuktian, kalau memang benar aku jago masak. Setahu Dimas, aku yang dulu malah tidak bisa membedakan antara jahe, laos, dan kencur.


Baiklah, nanti akan aku masakan Dimas sesuatu yang rasanya tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

__ADS_1


Melihat Intan tertidur lelap setelah beberapa menit guling-guling, aku jadi ingat Andri. Sudah hampir jam satu malam. Kemana sebenarnya dia pergi? Benar-benar suami menyebalkan, tau pulang malam kenapa tidak beri kabar.


***


__ADS_2