
Apa yang kamu dengar, kamu baca, dan kamu lihat, jika tidak dikontrol bisa mempengaruhi hidupmu. Seperti yang aku alami, aku banyak terpengaruh oleh itu semua. Mungkin aku yang lemah hingga pikiranku seperti dikendalikan oleh hal yang sekarang sering dibicarakan banyak orang.
Karena seringnya aku mendengar cerita teman-teman, tetangga bahkan saudara tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh suami mereka, membuat aku jadi mencurigai suamiku sendiri.
Tidak hanya cerita dari mulut mereka namun melihat realita di jaman sekarang, hal mendua itu nampaknya bukanlah suatu yang langka. Tidak aneh lagi kalau suami sampai selingkuh, apalagi sebagai seorang istri yang banyak kekurangan.
Belum lagi banyak tulisan-tulisan yang berseliweran di beranda sosmed. Kisah mereka beragam. Ada yang suaminya memang suka main perempuan. Ada yang suaminya tidak sengaja selingkuh. Ada yang memang sengaja ingin mencari wanita yang lebih. Ada juga yang suaminya baik dan tanggung jawab tapi tega menduakan sang istri.
Laki selingkuh sepertinya sudah menjadi trend. Dimana hal ini terjadi pada semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pada mereka yang ekonomi menengah atas, namun juga mereka yang menengah ke bawah.
Seringnya menonton, mendengar dan membaca kisah tentang perselingkuhan, membuatku ketakutan. Laki-laki sebaik apapun bisa berpeluang untuk selingkuh.
Semakin hari aku jadi takut jika hal itu terjadi padaku. Tadinya aku tidak terlalu peduli dengan siapa saja suamiku berkirim pesan. Karena untuk mengantisipasi, aku mulai memata-matainya. Mulai dari isi chat, info dari teman kerjanya yang juga teman kerjaku dulu. Sampai suatu waktu aku membuntutinya menuju suatu tempat, dan aku tidak menemukan tanda-tanda kalau suami punya selingkuhan.
Aman. Untunglah, suamiku masih setia. Akan tetapi akhir-akhir ini suamiku berubah. Ia sering bohong, walau masalah sepele, aku rasa kepercayaan ku sekarang sudah ternoda.
Suami diam-diam nabung di kakak sepupunya, nominalnya sudah lumayan. Awalnya dia tidak mengaku, tapi setelah aku ngomel-ngomel, baru dia bilang.
"Tabungan ini untuk ibu. Tadinya, ayah pengen kasih ibu kejutan."
Entahlah aku harus senang atau marah, apa benar yang suamiku katakan. Pastinya ada rasa jengkel karena dia sudah mulai berani main belakang.
Aku tidak terlalu menyukai kejutan, bagiku kejujuran adalah hal terpenting. Untuk apa memaksakan nabung, kalau untuk makan saja aku harus putar otak agar bisa cukup sampai gaji berikutnya.
Masalah gaji, aku tidak begitu mendikte, terserah dia mau kasih berapa. Suami kerjanya sebagai sopir, aku tidak tahu jelas berapa uang yang dia dapat. Aku pikir, gaji yang dia berikan padaku adalah gaji sesungguhnya yang sudah ia kurangi untuk kebutuhannya di jalan.
Ternyata, selama ini separuh gaji di tabung. Anehnya bukan ke bank, malah ke kakak sepupu.
__ADS_1
Belum puas aku mengomel, akhirnya malam itu juga aku suruh dia pergi ke rumah Mba Mirna, sayangnya uang tersebut tidak bisa langsung cair.
"Mana uangnya?" Langsung aku todong saat Mas Riswan masuk rumah.
Dia malah garuk-garuk kepala.
"Kenapa?"
Dia malah diam dan menatapku kosong.
"Uang yang jumlahnya sepuluh juta itu mana?"
"Tenang dulu Bu, Mba Mirna bilang, uangnya di setor ke bank, sekarang banknya udah pada tutup. Jadi kita tunggu sampai besok ya?"
"Sekarang udah jamannya kali tarik tunai di ATM, kan ada tuh yang buka dua puluh empat jam?" Kataku sedikit kasar, bukan apa-apa, aku sangat kesal.
"Ya, mungkin Mba Mirna ingin lebih aman, jadi langsung ke bank."
"Mas, aku gak mau tahu, sekarang juga kamu ambil uang itu dan serahkan padaku!"
"Udah malam sayaaang, besok lagi ya. Uang sebanyak itu katanya lebih nyaman ngambil langsung ke bank."
"Aku gak habis pikir, kalau ujung-ujung itu uang masuk bank, kenapa gak Mas Riswan aja yang buka rekening atas nama sendiri?"
"Iya kan namanya Mas pengin kasih kamu kejutan. Kalau kamu tahu Mas punya tabungan di bank, pasti gak akan nyampe sebesar sekarang lho ...."
Percuma punya tabungan kalau aku hutang ke sana-sini. Riswan juga tahu, selama ini aku selalu menahan keinginan dan meminimalisir kebutuhan pribadi supaya bisa menghemat pengeluaran.
__ADS_1
Aku rela mengganti skin care dengan yang lebih murah, agar tidak terlalu membebani dia. Karena aku juga tahu betul gaji pokonya berapa. Satu kesalahan, aku tak pernah mengurusi uang penghasilan yang didapat diluar gaji pokok. Seperti uang tip, lemburan, dan bonus-bonus lainnya.
Riswan memang suami yang baik, dia tidak pernah memarahiku, apa lagi sampai main tangan. Kalau dia marah, itu juga karena sikapku yang kurang baik.
Menjalani pernikahan dengannya aku selalu merasa bahagia, walau kekurangan, tapi Riswan tak pernah mengabaikan permintaanku. Salah satunya saat aku ingin mengontrak rumah, dia segera mengabulkan.
Dulu kita memang menumpang di rumah mamah, ibunya Riswan. Tapi kehadiran saudara ipar membuatku tak nyaman. Mertuaku sebenarnya baik tapi saudara ipar pandai menghasut, jadinya lama-lama mamah hanya melihat kesalahanku saja. Serajin apa pun aku, di mata mamah aku tak berguna.
Pernah suatu hari aku kena omel mamah karena cucian numpuk. Keadaanku saat itu memang kurang sehat, aku dibilangnya pemalas, padahal itu juga bajuku dan mas Riswan. Harusnya mamah tidak terlalu mencampuri urusan kami.
Sudah hampir empat tahun usia pernikahan kami, kami belum dipercaya untuk mendapatkan momongan. Inilah hal yang mengakibatkan aku benar-benar tak tahan tinggal lama di rumah mertua.
Kembali pada perselingkuhan, ya, aku takut Riswan selingkuh. Meski aku tahu ia tidak akan pernah berkhianat, tapi kebohongan yang ia lakukan membuatku ragu.
Benarkah Riswan setia? Niat mengecek chat, barangkali ada chat dari pelakor, aku malah nemu chat mba Mirna, dari situlah aku tahu dia suka menabung sebulan sekali.
Kalau memang benar dia mau kasih aku kejutan, kenapa ia membiarkanku kekurangan?
Kejutan apa yang dia maksud? Riswan memang sudah berhasil membuatku terkejut. Aku ingin segera menerima uang itu, jika memang uang itu untukku, maka akan aku ambil seluruhnya tanpa aku sisihkan untuk dia.
Sudah habis kesabaran ku menahan malu, malu akibat hutangku pada ibu dan saudara-saudaraku serta hutang yang paling aku tak harapkan, hutang sembako ke warung pak Tomo.
Kira-kira mamah mengetahui hal ini tidak ya? Secara, mba Mirna merupakan keponakannya. Hubungan mereka juga sangat akrab. Tidak jarang mba Mirna mengunjungi rumah mamah hanya untuk berbagi cerita tentang keburukan tetangganya.
Atau bisa jadi, mamah terlibat dengan semua ini?
Baiknya, aku tunggu sampai mas Riswan menyerahkan uang itu. Jika uangnya tidak aku terima maka aku harus menyelidikinya dengan sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
***
Hai, ini kisah baru lagi, selamat membaca.