SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 5


__ADS_3

Aku dipecat!


Alasannya tidak jelas, padahal kerja aku baik. Tidak pernah sekalipun aku melakukan kesalahan. Datang selalu tepat waktu, dan punya loyalitas tinggi. Semua orang tahu itu, dan aku sampai dapat reward karyawan teladan. Karena aku memang ulet, rajin dan telaten.


Sebagai karyawan biasa, aku hanya bisa menerima nasibku. Aku tak bisa melawan meskipun aku yang tersudutkan. Aku bisa gila, saat tahu yang memecat ku adalah Radit.


"Apa-apaan ini?" Tanyaku sambil melempar surat pernyataan tepat di atas mejanya.


"Maaf sayang." Hanya itu.


"Radit! apa kamu bermaksud menikahi ku?"


"Masalah itu nanti kita bicarakan. Sekarang kamu pergi dan cari kerjaan yang lain, karena untuk beberapa waktu, aku gak bisa kasih kamu uang saku. Tapi tenang aku siapkan pesangon untuk jaga-jaga selama kamu belum dapat kerjaan."


"Aku gak ngerti, maksud semua ini apa?"


"Untuk memenuhi permintaan istriku."


Sikapnya begitu santai, dia tidak melihatku dan malah sibuk menandatangani berkas-berkas dimeja.


"Radit! jangan bercanda!"


"Aku sedang sibuk. Keluarlah!"


"Radit, bilang kalau kamu gak serius memecatku!"


"Di surat itu tertera jelas stempel dan tanda tanganku. Jadi mulai sekarang kamu bukan karyawan di sini lagi!"


Aku tertawa, yakin bahwa Radit sedang menguji kesabaran ku.


"Ayolah sayaaang, jangan memaksaku untuk mengumumkan hubungan kita ke semua orang." Aku duduk dan mengancamnya dengan nada datar.


"Bela, lebih baik sekarang kamu pulang dan beristirahatlah. Nanti kita bicara lagi."


"Bukankah kalian akan bercerai?"


"Aku bilang, nanti kita bicara. Keluar sekarang atau aku akan memanggil security untuk memaksamu!"

__ADS_1


Bagaimana bisa, aku kehilangan pekerjaan. Aku juga kehilangan kesempatan berduaan dengan Radit. Sikapnya begitu menyebalkan.


***


Dengan hati kesal, sampai di kosan aku membanting tas selempang dengan kasar ke atas kasur.


Ada apa ini?


Suasana kamar berubah. Aku merasa banyak yang hilang. Kebetulan aku dan Nilam tidak satu sift. Iya, benar, barang-barang Nilam tidak ada. Apakah dia menjualnya atau pindah kamar. Kalau pindah, kenapa tak memberi tahu ku dulu?


Beberapa kali aku coba hubungi tapi malah tidak aktif. Apakah dia tahu kabar tentang pemecatan ku, dan dia kabur karena takut aku pinjam uang. Ah bodoh amat, setelah ini akan aku temui ibu kos.


Usai makan dengan hati jengkel, aku menemui ibu kos dan dia bilang kalau Nilam tidak kos lagi. Ibu kos tidak tahu alasan dan kemana dia pergi. Setelah aku menghubungi rekan kerja yang lain, mereka bilang Nilam hari ini dan tiga hari kedepan ambil cuti.


Ada apa dengan Nilam, tiba-tiba begini? aku harap dia baik-baik saja.


Aku merenung untuk beberapa saat dan air mata pun jatuh, mengingat aku harus cari kerja kemana. Ibu di kampung pasti menunggu kirimanku bulan depan. Kalau sampai Radit tidak memberi hak ku sebagai simpanannya, aku pastikan dia tidak akan hidup tenang!


***


Dua bulan pasca dipecat, Radit tak menghubungiku lagi. Aku meminta bantuan Deri untuk menemaniku saat menemui Radit. Sisa uang pesangon ku tidak akan cukup untuk bertahan satu bulan lagi, mana aku belum juga dapat kerjaan.


Kabarnya Radit mengadakan sebuah acara di hotel tempat biasa kami menyewa kamar. Kata teman ku yang masih kerja di kafe, Radit telah resmi bercerai dengan istrinya dan dia berhasil membawa aset perusahaan. Padahal awalnya Radit bisa seperti sekarang karena keluarga istrinya.


Nilam, menghilang bersamaan hari aku dipecat. Dari kampung halaman kami juga tak ada kabar bahwa Nilam kembali. Aku merasa cemas, karena dia sempat frustasi. Jangan-jangan dia dikecewakan lagi dan berusaha mengakhiri hidup. Ah tak mungkin, aku percaya bahwa Nilam akan baik-baik. Selama aku bersamanya, dia merupakan teman terbaik yang selalu mengerti dan memahami ku. Hanya satu yang dia tentang, hubunganku dengan Radit.


Tak peduli apa yang akan terjadi, aku akan meminta pertanggung jawaban dari Radit, karena dia hidupku jadi sengasara.


"Apa sebaiknya kamu tidak menemui Radit lagi?" Tanya Deri sambil memakai helm.


"Aku harus mencobanya sekali lagi, dia udah janji mau nikahin aku."


"Tapi Bel, aku takut kamu kecewa lagi. Udahlah, lupain dia dan--"


"Dan... apa?"


"Dan, mulai hidup yang baru."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Maaf Bela, apa kamu gak percaya sama aku, aku serius, ngajak kamu nikah!"


Aku terpaku, memandangi wajah polos Deri. Dia begitu meyakinkan, dan yang dia katakan merupakan suatu hal yang baik. Pernikahan adalah sebuah pilihan yang tepat, ketimbang menjalani hubungan asmara sembunyi-sembunyi.


Bulir-bulir lolos dari sudut mata, aku terharu. Tapi aku tak berdaya menahan rasa cinta yang begitu besar untuk Radit. Meskipun aku yang membuat Radit mengkhianati istrinya, namun aku masih setia menunggu janjinya.


"Aku bisa ngerti perasaan kamu, sudah jangan sedih! lupakan apa yang barusan aku bilang, aku gak bakal maksa ko."


"Deri maafkan aku, aku butuh waktu."


Dia mengangguk-anggukan kepala, sembari mengusap air mataku yang berjatuhan di pipi.


"Menikah itu adalah hal yang besar, dan aku gak bisa memutuskan secara mendadak." Kataku yang berharap suatu saat nanti aku bisa berpaling pada Deri, lalu hidup bahagia bersamanya.


"Iya Bel, aku bakal sabar nunggu. Lain waktu kalah kamu berubah pikiran, kamu bisa kasih tahu aku kapan pun."


"Makasih Der, aku gak tahu kalau dari dulu kamu suka sama aku."


"Andai dulu juga, kalau aku tahu kamu suka sama aku, aku gak bakal lepasin kamu."


Indah rasanya mendengar kata yang menyejukkan. Telah lalu tak bisa kita ulangi, walaupun seribu kali berandai, penyesalan selalu datang diakhir. Jika Deri adalah jodohku, secepatnya aku ingin melenyapkan cintaku pada Radit.


Semakin aku ingin melupakan Radit, rasa cintaku semakin besar. Semakin Deri mendekat, keinginanku untuk bersama Radit justru tambah besar.


"Kamu kan mau nemuin Radit, gak boleh sedih. Pasang wajah tegar dong. Kamu harus kuat, perlihatkan bahwa Radit salah sudah menyia-nyiakan kamu selama dua bulan!"


Senyumku merekah, membayangkan Radit yang kembali ke pelukanku dan bertekuk lutut mendapatimu yang semakin cantik dan sexi. Sengaja aku meluangkan waktu ke salon untuk mempercantik diri, dengan tampilan rambut yang sedikit berbeda.


Kadang aku berpikir, aku mencintai Radit ataukah uangnya. Aku lakukan apapun demi mendapatkan fasilitas sebagai simpanan yang Radit sebut 'uang saku'. Sekarang aku tak tahu harus dengan cara apa aku mendapatkan uang. Kalau tidak kembali pada Radit, aku harus mati-matian bekerja. Sedangkan pekerjaan yang enteng di kota itu sungguh sulit.


Deri mungkin tulus mengajakku menikah, tapi apa dia sadar, sebagai seorang sopir taxi, apa kedepannya dia mampu membiayai hidupku?


***


Jangan lupa tinggalkan komentar, terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2