
Di taman yang asri, kami berdua duduk bersisian. Pantas saja Pak Rendi masih sendiri, laki-laki sedingin dia, mana ada wanita yang mau mendekat. Di mataku bahkan dia tidak menarik sama sekali. Bicaranya irit, seperlunya saja. Beda dengan Dion, kalau bicara selalu melangit, membuat aku rasa terbang.
Apakah lelaki yang setia terhadap atasan, bisa setia pula pada perempuan? Aku amati, Pak Rendi tidak terlalu jelek, tapi juga tidak begitu tampan. Wajahnya yang jutek, sungguh sangat tidak sedap dipandang.
Usai makan, kami tidak langsung pulang dan tanpa diminta, Pak Rendi membeli minum. Pak Rendi malu-malu melihatku, sedari tadi lebih banyak menunduk, menghindari kontak mata denganku.
"Ibu mau pulang sekarang?"
"Saya malas pulang ke rumah."
"Kenapa, kalau Dion... eh maksud saya, Pak Dion mencari ibu gimana? " Dia melihatku, seperti ingin tahu apa yang aku alami.
"Sudah seminggu ini, Amanda tinggal bersama kami. Jadi Mas Dion tidak akan mencari ku."
"Apa, Amanda?" Terkejut sampai tak sadar ia menatapku dalam-dalam.
"Pak Rendi jangan berlaga gak tahu apa-apa. Bapak juga kan yang pertama tahu, waktu dulu Mas Dion selingkuh dengan sekretarisnya?"
Mati kutu.
Masih ada rasa jengkel terhadap laki-laki ini yang begitu setia pada Dion. Dia benar-benar tidak membantuku bahkan hanya untuk sekedar memberi tahu keberadaan Dion.
"Maaf Bu, saya beneran gak tahu kalau Amanda tinggal di rumah Pak Dion. Kalau soal perselingkuhannya saya tahu. Bisa-bisanya mereka begitu, keterlaluan sekali."
Melihat ekspresinya, aku percaya.
Tanpa suara, tiba-tiba air mataku berjatuhan.
Pak Rendi terlihat gelisah, aku yakin, dia pasti tahu apa yang aku rasakan. Aku sudah tak punya teman yang dapat aku percaya. Seseorang yang bisa mengerti kini berubah bagai srigala. Jika dulu, Amanda merupakan tempat paling tepat untuk berbagi, sekarang secara tak sadar, kegundahan aku tumpahkan di hadapan dia yang merupakan orang kepercayaan, sekaligus teman baik Dion.
Aku bisa merasa nyaman, aku benar-benar tidak tahu harus berbagi dengan siapa lagi. Ibu tak mungkin aku libatkan, yang ada nanti malah membebaninya.
Untuk pertama kalinya Pak Rendi menatapku penuh simpati. Dalam waktu yang cukup lama, dia membiarkan aku menangis tanpa berkomentar. Aku ingin melampiaskan kemarahan pada Dion, tapi tak bisa. Jika aku tujukan marahku pada Pak Rendi, tentu akan sangat terkesan lucu.
Satu yang aku sesali, kenapa Pak Rendi yang berlaku sebagai orang terdekat Dion, tidak berusaha untuk mencegah perbuatan buruk Dion.
Aku menyeka air mata, dan tak bisa disembunyikan lagi, aku sangat-sangat merasa malu.
"Maaf pak, sudah siang. Bapak sudah terlambat untuk masuk kantor." Aku tidak mau rasa malu semakin besar, namun apa daya, dia masih menatapku.
Tatapan aneh dari seorang yang jutek dan dingin. Atau mungkin dalam hati ia sedang menertawaiku.
"Kebetulan di kantor sudah ada yang handle." Selalu saja gaya biacaranya datar dan dingin.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pulang duluan." Kataku serba salah. Niat ingin mencari info, malah curhat. Jadi kan memalukan.
"Tunggu!' Dia meraih tangganku saat aku beranjak untuk pergi.
Aku melepasnya perlahan. Aku tak mau jika tiba-tiba ada yang melihat kami, lalu salah paham.
Kami berdiri berhadapan, dengan jarak yang terlalu dekat hingga aku sedikit risih.
"Kalau masih ingin curhat, silahkan!" Senyumnya mengembang.
Air mataku tak bisa aku tahan, ia keluar lagi. Dasar cengeng.
"Ta-tapi pak, sepertinya kurang pantas jika saya mencurahkan segala isi hati pada bapak." Aku terisak, inginnya teriak dan menangis kencang.
"Kenapa tak pantas Bu, saya adalah bawahan Pak Dion, sekaligus bawahan ibu juga. Kalau ibu butuh saya, saya tidak akan menolak."
Jika dia beranggapan begitu, kenapa dia selalu tidak mau membantu ketika aku memintanya untuk menghancurkan para pelakor itu.
Beberapa kali aku memberinya perintah untuk memacari selingkuhan Dion, selalu dia menolak dengan alasan, hal itu akan merusak hubungannya dengan Dion.
Sekarang kalau aku minta ia merebut Amanda dari Dion, apa dia sanggup?
***
Hari ini, sebelum aku menemui Diana. Aku dan Pak Rendi memutuskan untuk pergi ke rumah tantenya yang ada di sebuah desa. Hanya dengan dua jam saja untuk bisa sampai di sana.
Tante Pak Rendi sangat baik, aku disambut dengan hangat. Aku tahu, diperlakukan baik begini, pasti karena aku istri seorang direktur.
Pak Rendi mengajakku ke perkebunan yang sangat asri. Udaranya sejuk, aku merasa lebih baik berada di sini.
"Semoga ibu bisa melupakan semua masalah yang sedang ibu hadapi." Perkataanya masih terdengar datar, ia berkata-kata menggunakan gaya formal. Membuat aku jadi canggung.
Aku tak peduli, yang penting sekarang aku merasa lebih baik. Sejenak aku bisa melupakan Dion. Sayangnya aku tak bisa membawa serta Diana. Mungkin suatu hari nanti aku bisa mengajaknya ke sini, dan memandang perkebunan teh yang luas. Diana pasti senang.
"Apa bapak tahu, apa yang terjadi dengan Amanda dan Mas Dion, sebelum aku dan Mas Dion menikah?" Membuka percakapan, setelah beberapa waktu aku menikmati indahnya alam yang tak pernah aku singgahi.
Sampai juga aku memulai niat untuk menggali info tentang mereka, aku harap Pak Rendi bisa mengungkap segalanya.
Jika memang sebelumnya mereka pernah menjalin hubungan, tidak ada lagi kata untuk aku terus bertahan. Bisa jadi, selama ini Dio. menjadikanku sebagai pelarian.
Pak Rendi memandang lurus ke depan. Ia menengadah mengamati burung-burung berterbangan dengan jumlah yang amat banyak.
"Lihat Bu, burung itu terbang secara bersamaan, kompak ya?" Bukannya menjawab pertanyaan, dia malah menunjukkan hal yang cukup menarik.
__ADS_1
Aku tak merespon, aku pandangi dia, semoga dia bisa membaca isyarat dari tatapan yang meminta jawaban.
Setelah ia menyadari bahwa aku ingin membahas Dion, dia kembali dingin. Tidak berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya pikir, ibu tidak akan membicarakan masalah itu di sini."
"Jujur saja, saya sangat ingin tahu kenapa mereka bisa berhubungan."
"Untuk apa? sudah jelas mereka berkhianat. Ada baiknya ibu melupakan mereka."
"Saya maunya begitu, malah saya sudah sering meminta cerai, tapi Mas Dion tidak mau menceraikan saya. Saya harus punya bukti yang kuat agar saya bisa segera lepas dari kehidupan Mas Dion. Saya hanya ingin tahu, apa sebelumnya mereka pernah menjalin ikatan cinta atau mereka saling mencintai namun tak pernah bersama?'
Kami saling menatap, Pak Rendi mungkin saja sedang mencerna kata-kataku. Lama-lama ada perasaan aneh, dari caranya melihatku sangat jauh berbeda dengan Pak Rendi yang aku kenal.
Jika sebelumnya dia selalu bersikap dingin dan acuh. Saat ini, matanya begitu hangat. Tatapan yang pernah aku terima dari Dion.
Ah! Tidak mungkin!
Ini hanya perasaanku saja. Aku yakin, aku pasti salah. Mustahil jika Pak Rendi...
"Cerai?" Tanya dia mengulang perkataanku.
Aku mengangguk, "iya, saya ingin cerai."
"Bukannya dari dulu ibu selalu bertahan demi anak?" Serius dia bertanya.
"Bapak gak peka ya, sekarang ini beda. Amanda itu pernah jadi teman baik saya, dan saya benar-benar gak bisa lagi memaafkan mereka!"
"Pak Dion Sampai mana pun tidak akan pernah menceraikan ibu."
Tahu apa Pak Rendi tentang Dion? Aku tidak bisa membiarkan dia, dia begitu banyak tahu tentang Dion.
"Kenapa bisa begitu? Dia lebih memilih mencintai Amanda, saya sudah tidak ada harganya lagi Dimata dia."
"Dion sangat mencintaimu, Elisa." Suara Pak Rendi terdengar parau.
Tanpa sebutan bapak dan ibu. Ada apa ini, dia nampak lelah dengan masalahku.
Aku tercengang, dia pun sepertinya tak sadar sudah berkata begitu.
"Dia sendiri yang bilang, sekarang dia mencintai Amanda."
"Bohong. Dion pasti bohong."
__ADS_1
Aku dilanda kebimbangan, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Pak Rendi begitu yakin jika Dion berbohong, tadi sendiri dia yang bilang bahwa Dion keterlaluan dengan membawa Amanda tinggal di rumah.
***