
Malam tadi ayah Intan benar-benar tidak pulang. Menjelang subuh aku terbangun dan merasa ada yang kurang. Biasanya berbaring di sebelah, seseorang yang dulu aku cintai. Tapi sekarang, rasa cinta itu telah pergi entah kemana.
Aku lihat Intan, masih nyenyak tidur. Kebiasaan kami memang tidur bersama di ruang tv. Lagi pula ruangan ini lebih besar dari pada kamar tidur. Rumah yang kami sewa memang tidak besar, tapi aku lebih baik begini ketimbang numpang di rumah ibuku.
Untuk beberapa waktu ini aku akan melupakan Dimas. Aku merasa bersalah pada Andri. Tapi perasaan ini aku tak bisa bohong. Kini Dimas berbeda. Dia lelaki yang aku impikan. Rajin bekerja dan perhatian. Nasib kami sama, sama-sama bosan dengan pasangan.
Andri, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mungkin dia sudah tidak enak hati karena perkataan kemarin. Dulu-dulu aku tak begini, salah Andri juga, kenapa membiarkan aku bebas berkeliaran mencari uang.
***
Pesanan kue yang aku buat kemarin sambil chat dengan Dimas, sudah aku berikan pada pemiliknya. Uang yang aku pinjam dari Kak Wita sudah aku kembalikan. Di tangan, ada empat lembar uang lima puluh ribuan. Aku belanjakan kebutuhan dapur, sisanya aku simpan untuk jaga-jaga.
Sudah siang, Intan juga sudah hampir mau pulang, tetapi ayahnya belum juga pulang. Aku jadi teringat keinginannya, jadi aku belikan saja dia sebungkus roko dan satu renceng kopi. Aku harap Andri bisa memaafkan aku, karena aku selalu mengomel sepanjang hari.
"Helennn!?" Teriak seseorang di luar.
"Iyaaa." Jawabku sambil membuka pintu.
"Kamu lagi sibuk gak?" Tanya Meri tepat di depanku.
Aku kaget, karena tiba-tiba Meri ke rumah. Aku menggeleng lalu dengan setengah hati mempersilahkannya masuk.
"Andri kemana?"
"Lagi keluar, cari kerja."
"Usaha kue kamu gimana?"
"Lagi sepi, tadi aku baru antar pesanan, dan sekarang aku belum dapat order lagi. Sebenarnya aku malas bikin kue, untungnya gak seberapa. Kalau tadi sih lumayan tapi aku gak bisa muterin karena uangnya langsung dipake makan."
Meri mengangguk-angguk.
"Tumben kamu ke sini, mau pesen kue?"
Meri tersenyum sembari menepuk pundakku.
"Kalau kamu mau pesen, aku minta uang dimuka, habisnya gak ada buat modal nih."
"Gak ko, aku bukan mau pesen kue. Aku ke sini mau nawarin kamu kerjaan."
Mataku berbinar.
"Waktu itu kamu sempat nanya lowongan ke aku, kebetulan sekarang aku mau keluar. Jadi kamu mau gak gantiin aku kerja di toko?"
__ADS_1
"Hmmm... Di toko ya? Kayanya aku harus obrolin dulu sama suamiku, aku bingung kalau kerja di toko kan pasti aku gak punya banyak waktu di rumah."
"Iya sih."
Mulanya aku cari info lowongan untuk Andri, tapi karena pekerjaan untuk laki di atas tiga lima itu susah. Jadi aku yang mengalah, aku ingin bekerja saja. Usaha sendiri itu gak gampang. Kalau kerja kan tinggal terima gaji doang.
***
Sudah mau malam, Ayah Intan belum juga pulang. Intan terus saja menanyakan ayahnya. Karena aku pusing dengan pertanyaan dia, aku suruh dia menginap di rumah ibu.
"Aku sama ayah Intan, ada urusan penting. Jadi aku mau titip Intan disini. Boleh kan Bu?"
Ibu mengijinkan, berhubung besoknya hari minggu. Rumah aku dan ibu memang dekat, masih satu wilayah, beda RW.
Saat aku pulang dengan jalan kaki, di jalan aku bertemu dengan Dimas. Aku tidak sadar kalau dia sudah membuntuti dari tadi. Aku hampir sampai di rumah tapi Dimas mencegat.
"Hei! WA aku ko ga dibalas-balas sih?"
Aku mendelik, kemudian mengamati keadaan sekitar. Tampak sepi, tapi aku menyuruh Dimas jauh-jauh, meski hatiku senang karena dia ada di hadapanku sekarang.
Dimas memintaku naik ke motor, tapi aku tolak karena rumah kontrakanku sudah dekat.
"Oke, aku pergi. Tapi jawab dulu kenapa seharian ini kamu cuekin aku?"
"Andri semalaman gak pulang, aku jadi cemas."
Aku mesem-mesem, dibuat malu dan aku abaikan dia, melanjutkan perjalanan.
"Tunggu dulu!" Dimas turun dari motor.
Deg!
Jantungku berdebar kencang, dia semakin mendekat dan aku berpikir dia akan meminta sesuatu. Wajahnya yang tampan dan terlihat muda, membuat aku mabuk kepayang.
"Ini, kamu pasti belum makan." Menyodorkan kantong hitam kecil.
"Apa ini?"
"Gorengan." Senyumnya masih sama seperti waktu kami masih sekolah, manis.
"Makasih." Kuraih dan kurasa berat meninggalkannya, tapi aku harus bersabar. Dimas sudah mau berbagi kasih dengan ku saja aku bahagia.
"Pulanglah. Lain kali kalau mau ke mana-mana, biar aku yang antar."
__ADS_1
Aku mengangguk cepat. Hatiku berbunga-bunga, lupa kalau umurku sudah tak belia. Dimas berhenti mengikutiku, tapi ia terus memperhatikan, memastikan aku selamat sampai di rumah.
Sampai di rumah, pintu rumah terbuka setengah. Dengan langkah perlahan, aku berjalan menuju pintu, sebelum masuk aku intip keadaan di dalam. Oh syukurlah, Andri sudah pulang.
"Dari mana? Mana Intan?" Belum sempat aku menyapa dan duduk, ia menyambut dengan pertanyaan.
"Dari rumah ibu, nganter Intan."
"Intan nginep?"
"Iya. Ayah sendiri, kemarin kemana?"
"Ke rumah Mang Rizal." Jawabnya datar.
Aku membuatkan kopi dan memberikan roko padanya, beserta gorengan yang aku bilang pemberian dari Nela, adikku.
Aku merasa ada yang aneh, sikapnya berubah dingin. Tak ada peluk cium atau kata rayuan yang biasa ia lontarkan. Padahal tak ada Intan, biasanya kalau Intan menginap, ia paling semangat mendekat.
Ia menyeruput kopi perlahan sambil menyesap roko. Tapi gorengan yang aku suguhkan, sama sekali tidak ia sentuh. Alasannya sudah kenyang.
Satu jam berlalu tanpa kata, selanjutnya ia tidur di depan tv. Suara dengkurannya keras sekali. Semalaman pasti dia tidak tidur. Besok pagi aku harus bicara, raut mukanya sungguh tidak menyenangkan.
Aku pergi ke kamar lalu memeriksa hp, dan betul, chat dari Dimas beruntun. Aku baca satu-satu sambil tersenyum. Sampai pada chat terakhir, Dimas mengajakku begadang, tapi aku merasa sangat lelah. Akhirnya dia menelpon.
"Suamimu udah pulang?"
"Udah." Jawabku sambil menguap.
"Berarti udah gak cemas lagi dong?"
"Enggak. Kamu lagi dimana?"
"Di pos, depan gang kontrakan kamu."
"Ngapain?"
"Pengen ketemu, kangen."
"Jangan ah. Bahaya. Udah, cepet pulang!"
Ia terkekeh, katanya besok pagi aku harus menemuinya. Aku ragu apa kami bisa bertemu atau tidak. Aku genggam hp sambil memandang langit-langit. Meresapi apa yang telah hadir dalam hati, hingga terlelap kemudian aku pun bermimpi indah, berharap suatu hari bisa menghabiskan waktu bersama Dimas.
***
__ADS_1
Besoknya, nama Irma aku ganti jadi Putri, supaya Andri tidak curiga.
***