
Setelah sekian waktu aku menanti, sekarang aku dan Radit kembali berada di satu ruangan. Hanya kami berdua, ruangan yang indah, rapih, wangi, dan sunyi. Awalnya aku menolak saat ia mengajakku ke sini, tapi perasaan cinta yang begitu besar membuatku tak berdaya. Aku turuti apa yang Radit mau meskipun dia selalu menyakiti.
Malam ini, Radit begitu emosi. Sesampainya aku di kamar hotel, tanpa berkata-kata dia langsung menyerangku. Aku tak kuasa menghindar, jadinya aku pasrah karena aku juga sangat menginginkan hal ini.
"Aku sangat merindukanmu, Bela!" Bisiknya sembari memelukku erat. Lalu membelai halus rambutku.
Sejujurnya aku sangat marah karena dia mengabaikanku beberapa waktu. Aku pikir dia tidak akan mencari ku lagi, nyatanya dia masih menginginkan tubuhku. Menikmatinya tanpa peduli perasaanku.
Dia begitu menikmati, sedangkan aku hanya melayani dengan hati kosong. Andai saja dia milikku, sudah aku caci sedari tadi. Aku hanya ingin menjaga sikap, aku tak ingin dia meninggalkan aku karena sikap kurang ajar.
Setelah puas, dia biarkan aku terbaring lemas, sedikitpun dia tidak menciumku. Atau sekedar ucapan terimaksih pun tidak. Sekarang aku baru sadar, aku hanya mainan baginya. Benar yang dikatakan Nilam, tak ada sesuatu yang harus aku banggakan dari Radit.
Radit menemui ku hanya demi kepuasan, buktinya setelah semua terjadi, dia tidur lelap sambil membelakangi ku. Aku tarik badannya, dia terlalu nyenyak sampai mendengkur. Aku amati wajahnya, ingin sekali aku menghajar laki-laki keparat ini. Sudah punya istri masih saja mengikatku dengan kata-kata gombal.
Sekelebat bayangan Deri muncul, apa yang akan terjadi jika Deri tahu aku sehina sekarang. Apa Deri masih tetap menginginkan aku setelah tahu bahwa aku ini tak beda dengan wanita murahan. Akankah Deri menerimaku dengan setatusku sebagai penghancur rumah tangga orang?
Baru kali ini aku menangis, menyesali perbuatan yang baru saja aku dan Radit lakukan. Aku ingin membenci Radit dan pergi sejauh mungkin. Tapi, terlanjur aku menyerahkan segalanya. Wajahnya yang tampan dan bibirnya yang lembut, selalu membuatku nyaman.
***
Aku lebih dulu membersihkan dan merapikan diri. Radit masih tidur, aku harus menegaskannya sekarang. Aku akan meminta kejelasan.
Dia menggeliat sembari memandangiku dengan senyum nakal. Dia mengerlingkan mata, dan dengan uluran tangan mengajak kembali naik ke atas ranjang.
Aku tak menghiraukan, perutku sangat lapar, aku duduk di sofa sambil menyantap pizza yang baru saja aku pesan.
Lama ia memandangiku, sampai akhirnya memilih duduk di samping, ikut menikmati pizza yang masih hangat.
Dia mengalungkan lengannya pada leherku, lalu mengecup pipi seraya berkata, "makasih sayang."
Terlambat, kenapa dia baru mengucapkannya. Aku berdiri kemudian meraih tas di nakas, tapi dia menarik lenganku.
"Jangan pergi dulu, aku masih merindukanmu!"
"Bohong!" Jawabku ketus.
"Ayolah sayang, hanya beberapa bulan aku gak menghubungi, jangan kekanak-kanakan."
Dia bilang aku kekanak-kanakan?
"Bukankah kamu mau mengakhiri hubungan kita?"
"Waktu itu aku lagi emosi dan ketakutan. Aku begitu karena aku peduli sama kamu."
"Tapi sekarang, ada orang yang tahu tentang hubungan kita!"
"Siapa?"
"Nilam."
__ADS_1
Radit bergeming.
Aku menatapnya penuh kebencian, tapi juga tak mampu melenyapkan rasa cinta yang lama tertancap dalam hati.
"Rosa juga sudah mengetahuinya."
Apa? Rosa istrinya sudah tahu, tapi Radit malah kembali padaku? apa ini tandanya dia memilihku?
Aku merasa melayang, mungkin sebentar lagi Radit akan menikahi ku.
"Lalu, kenapa kamu masih menemui ku?"
"Kami akan bercerai."
Merasa menang, bibirku menyungging spontan. Kabar yang sangat membahagiakan, apakah artinya, aku akan memiliki Radit seutuhnya?
Apakah penantian lamaku akan berakhir bahagia?
"Jangan bercanda!"
"Aku serius."
Kami berpelukan dan kembali memadu kasih, saling mencurahkan kerinduan. Serius atau tidak, aku kali ini sangat menikmati. Aku tak peduli jika yang dikatakannya bohong dan bisa saja supaya aku jatuh lagi di pelukannya.
Dasar buaya!
***
Aku terlalu senang hingga menabrak tubuh seseorang.
"Buk!!"
"Ma-maaf. Eh, Bela?"
Aku melongo, tak percaya yang baru saja aku tubruk adalah Deri. Sedang apa dia di sini?
"Deri?" Tanyaku tak yakin.
"Bela, kamu cantik sekali. Kamu habis dari mana?"
Penampilan aku kali ini begitu sensual. Karena Radit selalu berpesan, ketika aku menemuinya, dia lebih suka aku mengenakan pakaian terbuka beserta make-up natural namun membuat aku nampak seksi.
Radit bilang dia tak suka jika aku menggunakan lipstik yang warnanya menyala.
Deri terus memandangiku, panjang gaun yang aku pakai sampai diatas lutut. Deri nampak terpesona, dia memandangiku dari atas sampai bawah berulang kali. Penampilanku sekarang sangat jauh beda saat aku menggunakan seragam kerja.
Deri mengedipkan matanya secara cepat, dia menyentuh lenganku, turun hingga mendarat di pinggang. Aku menghindar agar dia tidak memelukku.
"Dari mana kamu secantik ini Bel?"
__ADS_1
"A-aku, aku mau pulang!"
Sebelum aku meninggalkan lantai enam ini, Radit ke luar dari kamar. Aku tak tahu apa tadi Deri melihatku keluar melalui pintu yang sama atau tidak.
Radit merapihkan pinggiran jas, sejenak menoleh ke arahku, kemudian dia melewatimu seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tersenyum kecut, di luar dia memang begitu.
Pandanganku mengikuti kemana Radit berjalan, Deri di sampingku masih memandang penuh kekaguman.
"Bela, kamu tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku kan?"
"Antar aku pulang, nanti kita bicara di mobil saja." Kataku sambil berjalan menuju arah yang berbeda dengan Radit. Setahuku, disini ada banyak lift.
Aku menaiki taxi yang Deri bawa, dia mendapatkan tugas untuk mengantarkan sesuatu ke kamar nomor 32, kamar yang bersebelahan dengan kamarku tadi, kamar nomor 33.
"Jelaskan padaku, ada hubungan apa kamu sama pria tadi?"
Aku tercengang, bagaimana dia tahu, padahal kami tidak saling menyapa, atau mungkin Deri hanya menebak-nebak.
"Aku tadi sempat liat kamu keluar dari kamar yang sama. Aku kira itu bukan kamu."
Sepertinya Deri sudah mulai mengerti apa yang terjadi padaku.
Badanku gemetar, harusnya dari awal aku jujur dan terbuka.
"Bela, aku gak nyangka kamu--"
Dia menghentikan mobil, lalu memarkir di tempat yang sepi.
Wajahnya menunjukkan kemarahan, dia mengunci kaca jendela, mendekatiku kemudian memaksaku.
Aku tidak melawan dan membiarkan apa yang dia lakukan.
"Aku sangat kecewa!" Deri mundur, memukul setir dengan sangat keras.
Dua buah kancing bajuku terbuka, tapi dia tidak melakukan apa pun. Aku tahu, dimatanya aku sudah kotor. Dia pikir aku masih jadi wanita polos.
"Maafkan aku Der, dia adalah kekasih gelap ku. Selama lima tahun aku jadi selingkuhannya."
"Kenapa kamu gak terus terang, aku pasti gak akan merasa kecewa seperti sekarang."
"Aku takut kehilangan teman sebaik kamu."
"Bela, aku mencintaimu tulus, maukah kamu tinggalkan pria itu dan menikah denganku?"
Mataku terbelalak, benarkah apa yang aku dengar? Sepertinya ini bukan mimpi, mana mungkin Deri mau menerimaku, sedang ia tahu aku sudah tidak perawan.
Deri hampir menyentuh dan menikmati tubuhku, tapi tak jadi ia lakukan. Dari matanya aku bisa lihat, dia memang tulus mencintaiku.
***
__ADS_1
Terimakasih, jangan lupa vote ya