SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 2


__ADS_3

Sudah dua hari Radit tidak menghubungi, aku terpaksa mengungkap hal tentang hubungan dengan Radit pada Nilam. Nilam berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun asalkan aku mengakhiri hubungan gelap ini. Sungguh permintaan yang berat, tak mungkin aku meninggalkan cinta yang lama aku jalani.


Untuk sementara waktu aku menghindari perbincangan dengan Nilam. Nilam menuturkan, bahwa sebenarnya cinta itu tak ada, yang ada hanyalah sifat saling membutuhkan. Kalaupun cinta itu ada, dia hanya menjelma sebagai nafsu belaka.


Aku mengerti, Nilam memang selalu emosi kalau bicara soal cinta. Statusnya sebagai janda yang ditinggal suami karena beberapa hal, lalu menikahi wanita lain, membuat dia jadi sensitif. Dia jadi menilai cinta dari sisi negatif saja.


Sedikit cerita tentang Nilam, dia adalah sahabatku dari kecil. Selepas SMA, dia memutuskan untuk menikah dengan Aris. Sayang, pernikahan mereka hanya bertahan tiga tahun. Masalah bermula dari Nilam yang divonis mandul. Akhirnya Aris lebih memilih menceraikan Nilam kemudian menikahi Lia yang dianggapnya subur. Kabarnya, Aris dan istri barunya sudah dikaruniai dua orang anak.


Luka yang didapat Nilam ternyata begitu dalam, hingga ia tak pernah lagi membuka hati untuk pria manapun. Tapi, tidak berarti dia harus mencampuri urusan percintaan ku. Kalau aku sekarang memilih untuk terus bersama Radit, itu adalah hak ku.


Setelah perceraian, Nilam sangat frustasi, dia memutuskan untuk bekerja. Kebetulan tempat aku bekerja, ada lowongan. Sekarang, kami satu kosan, sekaligus satu pekerjaan.


Radit adalah pria yang aku impikan. Tampan, kaya, dan baik hati. Dia juga perhatian dan penyayang. Selalu mengingat momen-momen terbaik kami.


Radit pernah memberiku cincin berlian saat ulang tahun pacaran kita yang ke tiga. Aku pun dengan suka rela memberikan hidupku padanya.


Awal bekerja, posisiku adalah pelayan biasa. Setelah aku pacaran dengan Radit, aku dipindahkan jadi kepala kasir. Aku menunggu untuk jadi manager, salah satu janji Radit yang akan mengangkatku jika kafe membuka cabang baru.


Radit adalah pemilik kafe tempat aku bekerja. Dia sering berada di kafe untuk memantau sendiri, meski sudah ada manager yang memimpin langsung.


Hari pertama yang sangat berkesan adalah pada hari itu, hari dimana aku masuk shift malam, pulang sekitar jam sepuluh. Lama aku menunggu, tidak ada angkutan umum, saat mau pesan ojek online, eh kuotanya habis. Saat itu aku masih malu-malu meminta bantuan teman kerjaan yang satu shift, akhirnya aku ditinggal sendiri.


Aku bingung, dan memikirkan hal terburuk jika tak ada angkutan umum yang lewat sampai jam dua belas. Aku mulai gelisah, berniat kembali ke kafe. Di sana ada Pak Satpam yang jaga dua puluh empat jam, sayangnya dia juga tidak ada kuota ataupun pulsa telepon.


Sepertinya dengan terpaksa aku akan menginap di pos satpam. Sedih, apalagi aku belum mengenal betul Pak Satpam yang terlihat masih muda dan kuat.

__ADS_1


Tak di duga, mobil berwarna merah marun yang selalu parkir di depan, masuk dan berhenti tepat di samping pos.


Pria tampan itu turun, segera menghampiri satpam, meminta sesuatu kemudian masuk ke dalam kafe. Beberapa menit kemudian ia keluar, dan menyerahkan kunci ke satpam. Dia membawa sesuatu yang kelihatannya penting.


Tanpa menoleh ke arah ku, dia kembali memasuki mobilnya. Lama terdiam, tidak langsung tancap gas. Perlahan dia memutar mobil ke arah jalan, tiba-tiba membunyikan klakson cukup keras yang diarahkan pada kami. Satpam langsung menghampiri.


Setelah Pak Satpam berbincang cukup lama, dia kembali dan berbicara padaku. Aku di suruh masuk mobil bos, katanya dia mau mengantarku sampai rumah.


Bos yang baik hati, aku tak percaya ini, awalnya aku menolak, tapi dia terus saja membunyikan klakson. Sebagai bawahan, aku harus bisa terlihat patuh. Dengan tangan sedikit gemetar, aku coba buka pintu belakang, namun segera si bos buka pintu depan lalu memerintah untuk duduk di depan.


Antara senang dan cemas, aku takut kalau dia macam-macam. Tapi senang juga karena aku bisa duduk berdekatan dengannya. Kami memanggilnya Pak Radit, orangnya judes, tak banyak bicara. Untuk masalah karyawan juga dia tak pernah ambil pusing.


Satu lagi yang unik dari dirinya, senyumnya mahal. Belum pernah aku melihat dia tersenyum saat memerhatikan bawahannya. Tapi juga dia tidak pernah memarahi karyawan yang salah. Mungkin tugas marah-memarahi, dia serahkan pada manager.


Diperjalanan sama sekali kami tidak mengobrol. Aku ingin membuka percakapan, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Dia hanya menanyakan alamat kosan, lalu memasang aplikasi 'map' untuk bisa sampai ke kosan dengan cepat.


Pertama kalinya aku melihat dia tersenyum, Selama empat bulan kerja, baru kali ini dia melihatku sebegitu detil. Biasanya saat pagi menyapa, sikapnya selalu dingin.


Tangannya menyentuh pipiku, matanya meneliti seluruh wajahku yang kusam dan berminyak. Dia mendekat, secepat kilat dia mengecup bibirku. Aku gugup, aku juga ingin marah. Ciuman pertama yang dicuri. Aku sempat melotot, dan dia malah tertawa lalu membuka slot pintu, secara otomatis pintu di sampingku terbuka.


Karena kesal, aku keluar lalu membanting pintu dengan sangat keras. Tak perlu lagi aku berterimakasih, mungkin karena ini dia mau mengantarku pulang.


Esoknya dia bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Sampai beberapa hari, kami tak pernah bersua. Membuat aku penasaran sekaligus jatuh cinta.


Ketika suatu hari, dengan terpaksa aku harus ikut dengannya pada suatu event, selama acara berjalan aku mengikutinya. Usai acara, dia menyatakan cinta dan ingin menjadikan aku sebagai pacar gelap. Mulanya aku tidak mau, tapi karena sungguh mencintainya, aku mau lakukan apapun asal bisa bersamanya.

__ADS_1


Kami pun menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, sampai tak terasa hingga bertahun-tahun. Tahun ke lima, hubungan kami mulai hambar. Cinta Radit padaku seakan mulai pudar, dia menginginkanku saat dia butuh saja.


Sikap Radit akhir-akhir ini berbeda, dia jarang menyentuhku. Kebanyakan menolak saat aku ingin bersamanya. Bahkan janjinya untuk menggadai rumah agar kami lebih leluasa, dia lupakan. Sebelum kecelakaan itu terjadi, kami sempat adu mulut. Radit ingin aku lupakan segalanya. Aku menangis karena itu tak mungkin. Cintaku sudah sangat dalam, di tambah hubungan kami yang terlampau jauh.


Aku ingin Radit memenuhi janjinya, yang akan menikahi ku dan tidak akan meninggalkan aku. Di rumah sakit, kami belum banyak bicara. Aku tak tahu apakah Radit akan tetap memutuskan hubungan atau dia sadar dan akan memilih diriku untuk mendampingi hidupnya.


Notifikasi pesan masuk.


Cepat aku buka, aku harap dari Radit, aku ingin kepastian. Kalau diijinkan, tentu aku akan merawat selama dia di rumah sakit.


[Bela, lagi ngapain?]


Satu pesan terbaca dari Deri. Sedikit kecewa, maka aku abaikan.


[Kita jalan yuk?!]


Pesan selanjutnya dan aku tidak berpikir untuk membalasnya.


[Bela, kamu lagi sibuk ya, maaf udah ganggu. Aku kira kamu libur]


Kirim lagi, dan masih aku abaikan. Hatiku sedang tidak enak, yang aku inginkan saat ini hanya Radit.


[Cuma dibaca doang sih, aku tuh kangen!]


Pesan terakhir memancing emosi, tapi tunggu! Deri tahunya aku tidak punya kekasih, ya wajar saja dia berkata begitu. Kemarin dia sempat menanyakan statusku, dan aku jawab, aku jomblo.

__ADS_1


***


__ADS_2